BRMS Ungkap Aksi di Balik Pinjaman Jumbo Rp 10 T, Ekspansi Tambang Bawah Tanah
Emiten tambang emas milik Grup Bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berencana menandatangani perjanjian sindikasi pinjaman senilai US$ 600 juta atau sekitar Rp 10,03 triliun dengan sejumlah bank asing dan lokal. Langkah ini dilakukan untuk mendanai ekspansi bisnis yang tengah digencarkan perseroan.
Direktur Utama BRMS Agoes Projosasmito mengatakan, pendanaan jumbo tersebut akan digunakan untuk membangun sejumlah pabrik serta mendukung proyek tambang bawah tanah. Saat ini, sumber pendanaan utama masih berasal dari perbankan.
“Dalam waktu dekat, BRMS berencana menandatangani perjanjian sindikasi pinjaman dengan kombinasi bank asing dan bank lokal senilai US$ 600 juta,” ujarnya dalam paparan publik BRMS di Jakarta, Rabu (5/11).
Dia menyatakan, terkait sumber pendanaan, BRMS masih mengandalkan pinjaman perbankan. Namun, perseroan juga membuka peluang pendanaan lain, seperti penerbitan obligasi untuk refinancing pinjaman atau melakukan aksi korporasi rights issue apabila disetujui oleh pemegang saham dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dana hasil rights issue akan difokuskan untuk akuisisi yang berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap laba dan EBITDA perusahaan. Dari total pinjaman US$ 600 juta, sekitar US$ 300 juta akan dialokasikan untuk proyek tambang bawah tanah (underground mining).
Sementara sisanya digunakan untuk eksplorasi tambang di Gorontalo serta pembangunan pabrik pengolahan bijih berkapasitas 1.000 ton per hari (TPD) di wilayah tersebut. Agoes menjelaskan, perseroan tengah membidik sejumlah aset potensial untuk diakuisisi.
Menurutnya, dengan adanya tambahan pendanaan ini, BRMS dapat tumbuh melalui dua jalur sekaligus, yakni organik dan anorganik. “Masih banyak aset menarik yang sedang kami incar untuk mendukung ekspansi bisnis,” katanya.
Sebagai contoh, ia menyinggung rencana akuisisi yang dilakukan perusahaan induk, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terhadap Wolfarm Limited di Australia senilai Rp 350 miliar. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi bisnis Grup Bakrie di sektor pertambangan.
Agoes menilai, apabila induk usaha mulai agresif berekspansi, wajar jika entitas anak seperti BRMS turut mengikuti jejak serupa. Ia berharap proses pencairan dana (drawdown) dapat dilakukan sebelum akhir bulan ini.
“Kalau bisa akhir bulan ini sudah bisa ditarik, supaya proyek pabrik dan tambang bawah tanah segera selesai dan produksi bisa berjalan cepat. Tahun depan kami targetkan ekspansi yang lebih agresif,” ujarnya.
Informasi Terbaru Kinerja Operasional BRMS
BRMS melalui anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM) saat ini tengah menjalankan proyek pushback di area penambangan terbuka River Reef di Poboya, Palu. Proses ini dimulai sejak kuartal kedua 2025 dan ditargetkan rampung pada kuartal keempat 2025.
Namun, tim operasi memberi evaluasi yang menyatakan bahwa kemungkinan kegiatan pushback akan berlanjut hingga kuartal pertama tahun lalu. Direktur Utama CPM Damar Kusumanto mengatakan, kadar bijih emas yang diolah meningkat menjadi 1,5 gram per ton (g/t) dari 1,4 g/t di kuartal sebelumnya.
“Hal ini dikarenakan keberhasilan kami dalam menambang dan memproses bijih dengan kadar emas yang lebih tinggi dari area bagian bawah di lubang tambang,” kata Direktur Utama CPM Damar.
Dia menyatakan, selama periode pushback, aktivitas penambangan akan dibatasi di area tertentu sehingga kadar emas bisa berfluktuasi hingga awal 2026. Damar memperkirakan, produksi akan kembali normal pada Maret–April 2026, dengan kadar emas yang lebih tinggi.
BRMS memproduksi sekitar 64 ribu troy oz emas pada tahun lalu. Meskipun ada potensi penurunan produksi sementara pada kuartal keempat 2025, perseroan tetap menargetkan produksi emas yang lebih tinggi hingga akhir tahun ini.
“Namun demikian, kami tetap menargetkan untuk mencapai produksi emas sebesar 68.000 – 71.000 troy oz di tahun 2025 ini, yang mana tetap lebih tinggi dari produksi di tahun lalu,” lanjutnya.
Peningkatan Kapasitas Pabrik CIL dan Proyek Tambang Bawah Tanah
BRMS melaporkan sedang dalam tahap meningkatkan kapasitas pabrik Carbon in Leach (CIL) pertamanya di Poboya dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari. Peningkatan kapasitas ini ditargetkan rampung pada semester kedua 2026.
Selama proses ini, pabrik CIL pertama tersebut berhenti beroperasi sementara, namun pabrik CIL kedua milik BRMS tetap berjalan dengan kapasitas 4.500 ton bijih per hari sejak pertengahan 2025.
Direktur CPM Agus Sitindaon menjelaskan, pabrik CIL kedua mampu beroperasi mampu beroperasi dengan kapasitas tersebut disebabkan jenis bijih dan batuan yang diproses di lokasi tambang tidak terlalu keras, sehingga lebih mudah diproses.
Dia melanjutkan, jika pabrik CIL pertama mampu meningkatkan kapasitas produksinya, maka kedua pabrik CIL perseroan akan memproses bijih dengan total kapasitas sekitar 6.000 ton bijih per harinya mulai di akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027 nanti.
“Kami berharap proses peningkatan kapasitas pabrik CIL pertama menjadi 2.000 ton bijih per hari dapat diselesaikan di bulan Oktober tahun 2026,” katanya.
Selain itu, proyek tambang emas bawah tanah Poboya juga menunjukkan kemajuan signifikan. Pembangunan terowongan (decline) telah mencapai lebih dari 350 meter hingga Agustus 2025. Kontraktor tambang, PT Macmahon Indonesia menargetkan tambang bawah tanah tersebut mulai beroperasi pada pertengahan 2027.
Direktur Utama dan CEO BRMS Agus Projosasmito menyatakan tambang bawah tanah itu diperkirakan memiliki kadar emas tinggi, yakni 3,5–4,9 g/t.
“Kandungan emas yang tinggi tersebut akan terlihat dalam peningkatan produksi emas yang cukup signifikan di semester kedua tahun 2027 nanti,” katanya.