Geliat Saham BBCA Jelang RUPS Hari Ini, Intip Riwayat Dividen dan Kinerja Usaha
Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik pada perdagangan Kamis (12/3) menjelang pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Berdasarkan data BEI pada perdagangan intraday pukul 10.25 WIB, saham BBCA naik 2,20% atau 150 poin ke level Rp 6.975 per saham.
Kenaikan tersebut terjadi menjelang RUPST yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 14.00 WIB hari ini. Salah satu agenda utama rapat adalah penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025, termasuk keputusan pembagian dividen kepada pemegang saham.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), agenda rapat antara lain persetujuan atas laporan tahunan yang mencakup laporan keuangan perseroan serta laporan tugas pengawasan Dewan Komisaris untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.
Rapat juga akan memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab (acquit et de charge) kepada Direksi atas tindakan pengurusan serta kepada Dewan Komisaris atas tindakan pengawasan selama tahun buku tersebut. Selain itu, pemegang saham akan membahas penetapan penggunaan laba bersih perseroan.
“Penggunaan laba bersih perseroan akan diusulkan agar disisihkan untuk pembagian dividen tunai dan sisa laba bersih yang tidak ditentukan penggunaannya akan ditetapkan sebagai laba ditahan,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (12/3).
Agenda lainnya mencakup penetapan gaji atau honorarium serta tunjangan bagi Direksi dan Dewan Komisaris untuk tahun buku 2026, termasuk penetapan tantiem tahun buku 2025. RUPST juga akan menunjuk kantor akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan perseroan tahun buku 2026.
Selain itu, rapat akan membahas rencana pembelian kembali saham (buyback), perubahan anggaran dasar perseroan, serta penegasan berakhirnya masa jabatan dan pengangkatan anggota direksi dan dewan komisaris.
Rekam Jejak Dividen BBCA
Mengacu data BEI, dividend yield BBCA tahun lalu tercatat sebesar 3,58%. Dividen yield atau imbal hasil dividen adalah rasio yang menunjukkan berapa besar dividen yang dibagikan perusahaan dibandingkan dengan harga sahamnya saat ini. Angka ini menggambarkan potensi return tunai yang diterima investor dari dividen dalam setahun.
BBCA dikenal sebagai emiten yang konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham. Untuk tahun buku 2024, perseroan membagikan dividen tunai sebesar Rp 37 triliun atau setara Rp 300 per saham.
Dividen tersebut setara dengan 67,4% dari laba bersih perseroan yang mencapai Rp 54,8 triliun. Pembayaran dilakukan melalui dua tahap, yakni dividen interim Rp 50 per saham dan dividen final Rp 250 per saham.
Pada tahun buku 2023, BBCA membagikan dividen tunai Rp 33,2 triliun atau Rp 270 per saham. Nilai tersebut setara 68,4% dari laba bersih perseroan sebesar Rp 48,6 triliun.
Kinerja Keuangan BBCA pada 2025
Perbankan raksasa BBCA membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun tahun buku 2025 atau naik 4,9% year on year (yoy). Sepanjang Januari–Desember 2025, BCA dan entitas anak membukukan total kredit 7,7% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025.
Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025. Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor, di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga. Di sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1% YoY hingga Rp 1.045 triliun.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong mengatakan torehan ini berkat dukungan besar dari pemerintah dan otoritas membantu perusahaan melewati 2025 dan menorehkan kinerja positif. Sepanjang tahun lalu, BCA menyelenggarakan berbagai acara seperti dua kali perhelatan Expo, BCA UMKM Fest, BCA Wealth Summit, dan Gebyar Hadiah BCA.
“Berbagai kegiatan itu berdampak positif terhadap kinerja BCA, dan menjadi wujud komitmen kami untuk terus hadir serta memenuhi berbagai kebutuhan nasabah dan masyarakat Indonesia,” ucap Hendra dalam keterangannya, Selasa (27/1).
Selain itu kredit usaha BCA naik 9,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 756,5 triliun per Desember 2025. Dari sisi konsumer, BCA menjaga pembiayaan di level Rp 224,1 triliun, didukung oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp 142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) senilai Rp 56,6 triliun.
