Pasar Saham Eropa Menguat, Harga Emas Menurun setelah Krisis Greenland Mereda

Pixabay
Ilustrasi pergerakan indeks saham di pasar Eropa.
Penulis: Ahmad Islamy
22/1/2026, 19.57 WIB

Kondisi pasar saham global menunjukkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (22/1), seiring meredanya tensi akibat Krisis Greenland. Itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump secara resmi menarik ancaman tarif yang sebelumnya membayangi hubungan Washington dengan Eropa.

Dilansir dari Euronews, dalam rangkaian KTT Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Trump mengumumkan telah mencapai kerangka kesepakatan terkait masa depan Greenland. Keputusan tersebut diambil seusai pertemuan strategis dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan Amerika Serikat tidak akan menempuh jalur militer untuk mengambil alih pulau tersebut dari Denmark. Selain itu, poin krusial yang menenangkan pelaku pasar adalah pembatalan rencana pengenaan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa yang sedianya mulai diberlakukan pada 1 Februari mendatang.

Meskipun perincian spesifik mengenai kesepakatan Trump dengan sekutu Eropanya itu belum diungkap sepenuhnya ke publik, para investor bereaksi positif terhadap penurunan tensi geopolitik ini.

Performa Indeks Saham Eropa dan Asia

Sesaat setelah pasar dibuka, indeks saham di seluruh Eropa bergerak menguat secara serentak. Berikut adalah perincian kenaikan beberapa indeks utama di kawasan tersebut:

IndeksNegara/KawasanKenaikan
CAC 40Prancis1,31%
DAXJerman1,23%
STOXX Europe 600 Eropa1,15%
IBEX 35 Spanyol1,05%
FTSE MIBItalia0,97%
FTSE 100 Inggris0,76%

Optimisme di Benua Biru ini selaras dengan pergerakan di pasar Asia dan Pasifik. Indeks Nikkei 225 di Jepang melonjak 1,73%, diikuti oleh S&P/ASX 200 Australia yang naik 0,75%. Di China, Indeks Komposit SSE menguat 0,14%, sementara Hang Seng Hong Kong mencatat kenaikan tipis di bawah 0,1%. Pencapaian yang mengesankan terlihat pada indeks Kospi Korea Selatan yang naik 0,87% hingga menembus level psikologis 5.000 untuk pertama kalinya, sebelum akhirnya ditutup pada rekor tertinggi 4.952,53.

Dalam satu tahun terakhir, Kospi memang menjadi indeks dengan performa terbaik di dunia. Hal ini didorong oleh pertumbuhan pesat sektor kecerdasan buatan (AI), mengingat Korsel kini menjadi salah satu pusat produksi chip global melalui perusahaan raksasa seperti Samsung Electronics dan SK Hynix.

Sektor Teknologi dan Komoditas Emas

Saham-saham sektor semikonduktor terus melanjutkan reli kenaikannya setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, memberikan pernyataan optimis di Davos. Huang memproyeksikan bahwa transisi menuju era AI akan memerlukan investasi hingga triliunan dolar. Pernyataan ini berhasil meredakan kekhawatiran pasar mengenai valuasi saham teknologi yang saat ini dinilai sudah sangat tinggi.

Dampaknya, Indeks Semikonduktor Philadelphia yang mencakup 30 perusahaan chip AS ditutup melonjak 3,18% pada Rabu waktu AS. Di pasar berjangka Amerika, kontrak S&P 500 naik 0,40%, Dow Jones naik 0,20%, dan Nasdaq memimpin dengan kenaikan 0,64%.

Di sisi lain, meredanya ketegangan antara Uni Eropa dan AS berdampak pada penurunan minat investor terhadap aset aman (safe haven). Pada pukul 19.05 WIB, harga emas terkoreksi 0,15% ke level US$ 4.824,01 per ons, setelah sebelumnya sempat mencetak rekor di atas US$ 4.880 pada Rabu kemarin. Penurunan ini terjadi meski emas tetap populer sebagai instrumen lindung nilai inflasi di tengah pelemahan dolar dan ekspektasi pemangkasan suku bunga di AS.

Pasar kini fokus memantau kelanjutan detail kesepakatan Greenland. Apalagi, pihak Denmark tetap berkeras bahwa kedaulatan wilayah tersebut tidak dapat diganggu gugat. Para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat di Brussels, Belgia, pada Kamis ini untuk merumuskan respons kolektif terhadap kebijakan Amerika Serikat tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.