Dinilai Tak Beri Konstribusi, ANJT Setop Operasional 3 Anak Usaha

PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT)
Aktivitas usaha di pabrik pengolahan edamame GMIT milik PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
26/1/2026, 10.03 WIB

Emiten perkebunan kelapa sawit PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) memutuskan menghentikan operasional tiga anak usahanya sekaligus. Langkah ini diambil karena ketiga entitas tersebut dinilai tidak lagi memberikan kontribusi positif dan tidak sejalan dengan arah strategi bisnis perseroan.

Tiga anak usaha yang dihentikan kegiatannya adalah PT Austindo Nusantara Jaya Bogor, PT ANJ Agri Papua, dan PT Gilang Mas Indonesia. Manajemen ANJT menyebut, ketiganya secara konsisten mencatatkan kerugian.

“Ketiga anak usaha tersebut secara konsisten mencatatkan kerugian dan tidak memberikan kontribusi positif terhadap laba rugi konsolidasian perseroan,” tulis manajemen ANJT dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Senin (26/1).

Menurut penjelasan manajemen ANJT, penghentian operasional ini menjadi bagian dari penyesuaian strategi jangka panjang perusahaan. ANJT kini memilih untuk memfokuskan pengembangan usaha pada kompetensi intinya di bidang perkebunan kelapa sawit, sekaligus mengoptimalkan entitas anak yang terbukti memberikan kontribusi positif.

Berdasarkan evaluasi operasional dan keuangan, ketiga anak usaha tersebut tidak menunjukkan perbaikan kinerja yang memadai dalam jangka panjang. Karena itu, keberlanjutan operasionalnya dinilai tidak lagi sejalan dengan strategi perseroan ke depan.

Kontribusi pendapatan dari ketiga entitas tersebut terhadap pendapatan konsolidasian ANJT dalam tiga tahun buku terakhir juga tergolong minim, masing-masing berada di bawah 3%. Dengan penghentian operasional ini, perseroan berharap dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas secara keseluruhan pada periode mendatang.

Kendati demikian, manajemen memastikan telah melakukan evaluasi atas dampak hukum dari kebijakan tersebut. ANJT juga menegaskan tetap berkomitmen memenuhi seluruh kewajiban kontraktual kepada pihak ketiga.

Terkait aset dan sumber daya, manajemen menyatakan untuk sementara masih dipertahankan sambil menunggu keputusan lanjutan dari perseroan. Seiring berhentinya tiga entitas anak ANJT, manajemen menjelaskan hal tersbeut tidak memberikan dampak negatif terhadap kegiatan hingga kondisi keuangan perseroan.

"Penghentian kegiatan operasional atas entitas-entitas anak tersebut tidak menimbulkan dampak negatif yang material terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha perseroan secara keseluruhan," tulis manajemen ANJT.

Di sisi lain, ANJT mencatatkan lonjakan piutang usaha per 30 September 2025 menjadi US$ 24,95 juta, meningkat signifikan dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 yang sebesar US$ 869.778. Selain itu, terdapat selisih saldo piutang pihak berelasi yang belum dilunasi, yakni sebesar US$ 24,3 juta pada Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) 7 dan US$ 21,9 juta pada CALK 41.

Manajemen menjelaskan, peningkatan piutang usaha kepada pihak berelasi terutama disebabkan oleh perubahan ketentuan perdagangan. Penjualan produk yang sebelumnya dilakukan secara tunai kini menggunakan skema pembayaran dengan jangka waktu tertentu.

Di sisi lain, ANJT juga memperoleh fasilitas pinjaman senilai Rp 4,84 triliun dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Fasilitas tersebut akan digunakan oleh empat anak usaha, yakni PT Sahabat Mewah dan Makmur sebesar Rp 1,63 triliun, PT Kayung Agro Lestari Rp 1,39 triliun, PT Austindo Nusantara Jaya Agri Rp 760 miliar serta PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siasis sebesar Rp 1,06 triliun.

Manajemen ANJT menilai transaksi pinjaman tersebut sebagai transaksi material, karena nilainya melebihi 50% dari ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2024. Adapun ekuitas ANJT pada periode tersebut tercatat sebesar US$ 391,89 juta.

Pada perdagangan hari ini secara intraday pukul 9.47 WIB, harga saham ANJT naik tipis 0,85% atau 15 poin ke level 1.780. Pada tiga bulan terakhir, harga sahamnya merosot 18,72%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri