Mengapa Pengumuman MSCI Bisa Bikin IHSG Babak Belur hingga Trading Halt?
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuat babak belur setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis hasil konsultasi mengenai perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float.
Pada perdagangan sesi kedua, Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan memberlakukan penghentian perdagangan sementara atau trading halt karena indeks rontok 8% pada pukul 13.43 WIB ke level 8.261. Karena pengumuman MSCI pada pembukaan pagi hari IHSG bahkan langsung merosot 6,75%.
Lantas kenapa pengumuman MSCI dapat membuat IHSG rontok?
MSCI mengumumkan bakal membekukan saham Indonesia, baik dalam rebalancing maupun penambahan bobot dalam indeksnya. Sebagai dampaknya, tidak akan ada peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) saham-saham RI di MSCI.
Selain itu, tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta penghentian migrasi naik antarsegmen indeks ukuran, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard Index.
MSCI menyatakan ketentuan tersebut segera berlaku. Tak hanya itu, saham RI bahkan tidak dapat masuk dalam kocok ulang atau rebalancing MSCI pada periode Februari 2026.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai, rontoknya IHSG mencerminkan kepanikan pasar yang dipicu oleh krisis kepercayaan, bukan semata-mata pelemahan fundamental ekonomi. Menurut dia, investor bereaksi cepat karena ekspektasi terhadap aliran dana pasif global yang selama ini menopang saham berkapitalisasi besar tiba-tiba tertahan.
“Ketidakpastian ini meningkatkan persepsi risiko Indonesia di mata investor asing, sehingga mendorong mereka untuk menurunkan eksposur secara cepat, terutama pada saham-saham besar yang menjadi kontributor utama IHSG,” kata Hendra kepada wartawan, Rabu (28/1).
Hendra menjelaskan, dampak kebijakan pembekuan MSCI terasa langsung pada arus dana. Dengan tertahannya kenaikan bobot dan tidak adanya saham baru yang masuk indeks, potensi aliran dana dari ETF dan reksa dana indeks global menjadi terbatas. Saham-saham yang sebelumnya diharapkan naik kelas pun kehilangan katalis positif, sehingga pelaku pasar cenderung bersikap defensif.
Kondisi tersebut mempersempit ruang penguatan IHSG dan meningkatkan risiko koreksi lanjutan dalam jangka pendek. Dari sisi jangka menengah, pasar juga mencermati pernyataan MSCI yang membuka peluang peninjauan ulang aksesibilitas pasar Indonesia apabila hingga Mei 2026 tidak terdapat kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi.
Meski masih bersifat potensi, pasar saham bersifat antisipatif. Risiko tersebut mulai diperhitungkan sejak dini, sehingga tekanan jual tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif. Hal ini membuat volatilitas meningkat tajam dan tekanan terjadi secara merata di berbagai sektor.
Ke depan, Hendra menyatakan pekerjaan rumah utama otoritas pasar adalah memperbaiki transparansi struktur kepemilikan saham secara nyata dan terukur. Pasar membutuhkan data yang lebih detail, konsisten, dan mudah diakses oleh investor global, disertai mekanisme pengawasan yang mampu meminimalkan kekhawatiran terhadap pembentukan harga yang tidak wajar.
“Komunikasi kebijakan yang jelas dan terkoordinasi antara bursa, regulator, dan pelaku pasar juga menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan,” kata dia.