Aksi jual investor asing masih menjadi faktor utama yang menekan pasar saham domestik. Dalam dua hari perdagangan beruntun iinvestor asing mencatatkan net sell sekitar Rp 10,7 triliun, seiring anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan Rabu (28/1), asing membukukan net sell Rp 6,17 triliun. Tekanan jual masif ini membuat IHSG ambruk 7,35% ke level 8.320,56, sekaligus menjadi salah satu koreksi harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir. 

Sepanjang sesi, indeks sempat bergerak dari level tertinggi 8.596 hingga menyentuh titik terendah 8.187. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pun menyusut menjadi Rp 15.093 triliun

Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1). Investor asing kembali mencatatkan net sell Rp 4,63 triliun, meski laju penurunan IHSG mulai melambat. Indeks ditutup turun 1,06% ke posisi 8.232,20, dengan nilai transaksi melonjak menjadi Rp 67,9 triliun dan volume perdagangan mencapai 95,35 miliar saham. 

Secara year to date (ytd), total net sell asing telah menembus Rp 8,35 triliun. Selama dua hari terakhir, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sempat melakukan dua kali trading halt atau pemberhentian sementera perdagangan saham akibat IHSG yang anjlok hingga 8% 

Aksi jual asing terutama menyasar saham-saham berkapitalisasi besar. Pada Rabu, saham perbankan seperti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 

Saham sektor komoditas dan energi, menjadi kontributor utama pelemahan indeks. Memasuki Kamis, tekanan masih terlihat di saham-saham big caps, dengan BBCA mencatatkan nilai transaksi terbesar mencapai Rp 10,55 triliun, diikuti BMRI, BBRI, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). 

Di sisi lain pada perdagangan Kamis, investor asing tercatat mulai mengoleksi saham BBRI dengan nilai Rp 171 miliar, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) dengan transaksi Rp 188 miliar. Saham konglomerat PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga diborong Rp 116 miliar dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp 93 miliar. 

Pelaku pasar menilai derasnya arus keluar dana asing dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, investor masih bersikap defensif menunggu arah kebijakan moneter global terutama setelah  Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan saham RI dari rebalancing indeks yang akan berlaku Februari mendatang. 

Sementara dari dalam negeri, sentimen terkait hasil evaluasi MSCI atas metodologi free float dan aspek investability pasar Indonesia turut menekan kepercayaan investor global. Selain itu dua bank investasi global Goldman Sachs dan UBS AG secara bersamaan menurunkan rating pasar saham RI. 

Meski demikian, di tengah aksi jual asing, peran investor domestik terlihat semakin dominan dalam menjaga likuiditas pasar. Tingginya nilai transaksi dalam dua hari terakhir menunjukkan investor lokal mulai menyerap saham-saham yang terdiskon.

Dari sisi valuasi, rasio price to earnings ratio (PER) pasar berada di kisaran 15,5 kali dan price to book value (PBV) sekitar 2,3 kali, yang dinilai mulai menarik untuk strategi investasi jangka panjang. Meski begitu volatilitas jangka pendek masih berpotensi berlanjut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.