5 Poin Tindak Lanjut BEI, OJK hingga Danantara Respons Rilis dan Sorotan MSCI
Otoritas pasar modal Indonesia telah memaparkan langkah-langkah konkret yang akan segera diambil menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menangguhkan rebalancing indeks Indonesia. Keputusan tersebut diambil MSCI karena kekhawatiran terhadap tingginya konsentrasi kepemilikan saham, yang berpotensi menurunkan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets.
Pasca pengumuman itu, pasar modal Indonesia langsung terpukul. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat rontok lebih dari 8% dalam dua hari perdagangan berturut-turut.
Menyikapi pengumuman mendadak tersebut, jajaran direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Self-Regulatory Organization (SRO) menggelar serangkaian diskusi dan menyampaikan langkah lanjutan sebagai respons atas keputusan pengelola indeks global tersebut.
BEI menjadi pihak pertama yang menyampaikan sikap resmi pada hari yang sama dengan pengumuman MSCI. Sehari kemudian, OJK turut memaparkan langkah yang akan ditempuh. Di sisi lain, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melalui Chief Investment Officer (CIO) Pandu Sjahrir juga menyampaikan pandangan dan sejumlah masukan.
Kabar terbaru, Direktur Utama BEI Iman Rachman mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan tersebut ia sampaikan kepada wartawan di Media Center Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/1).
Iman menyatakan pengunduran diri itu merupakan bentuk tanggung jawab atas dinamika yang terjadi di pasar modal dalam beberapa hari terakhir. Menurut dia, langkah tersebut diambil demi kepentingan terbaik bagi pasar modal Indonesia.
“Sebagai bentuk tanggung jawab atas apa yang terjadi dalam dua hari terakhir, saya menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama BEI,” kata Iman.
Katadata merangkum tindak lanjut yang disampaikan para pemangku kepentingan pasar modal tersebut sebagai berikut.
BEI Janji Benahi Transparansi Free Float
BEI mengeluarkan pernyataan resmi untuk menindaklanjuti pengumuman MSCI. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan BEI berkomitmen melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.
“Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal, sesuai dengan praktik terbaik global dan ekspektasi pemangku kepentingan internasional,” ujar Kautsar dalam keterangan resmi, Rabu (28/1).
Ia menyampaikan BEI telah mengambil langkah konkret dengan memublikasikan data free float secara komprehensif melalui situs resmi BEI sejak 2 Januari 2026. Informasi tersebut akan diperbarui dan disampaikan secara rutin setiap bulan.
Selain itu, BEI bersama SRO dan OJK akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi di pasar modal Indonesia.
“Melalui koordinasi yang berkesinambungan ini, kami optimistis dapat memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global sekaligus meningkatkan kepercayaan investor,” kata Kautsar.
BEI, lanjut Kautsar, juga memperkuat koordinasi dengan OJK, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Menurutnya, masukan dari MSCI merupakan bagian penting dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia, mengingat pembobotan MSCI menjadi salah satu referensi utama investor global.
OJK Bakal Naikkan Batas Free Float Jadi 15%
OJK bersama SRO berencana menerbitkan aturan kewajiban free float minimal 15% dalam waktu dekat dengan tingkat transparansi yang lebih baik. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengatakan emiten atau perusahaan publik yang tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut dalam jangka waktu tertentu akan dikenakan exit policy melalui proses pengawasan.
Kebijakan ini, kata Mahendra, sejalan dengan upaya peningkatan transparansi pasar modal.
“SRO akan menerbitkan aturan free float minimal 15% yang akan dilakukan dalam waktu dekat,” ujar Mahendra dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (29/1).
OJK–BEI Dijadwalkan Bertemu MSCI
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menyatakan MSCI menyambut baik langkah awal yang diusulkan regulator, khususnya dua proposal yang berkaitan dengan tindakan jangka pendek.
Kedua proposal tersebut, yakni immediate action dan medium term proposal, disebut telah mendapatkan respons positif dari MSCI. Inarno mengatakan OJK dan BEI dijadwalkan kembali bertemu dengan MSCI pada Senin pekan depan untuk membahas lebih lanjut langkah teknis yang perlu disiapkan.
Menurut Inarno, regulator memandang isu ini secara serius dan berkomitmen menjaga komunikasi yang intensif dengan MSCI.
OJK Akan Berkator di Gedung BEI
Otoritas Jasa Keuangan juga mengumumkan akan mulai berkantor di Gedung PT Bursa Efek Indonesia di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta, mulai Jumat (30/1).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengatakan langkah tersebut merupakan bentuk dukungan penuh terhadap agenda reformasi dan penguatan pasar modal Indonesia.
“Mulai besok kami juga akan berkantor di sini,” ujar Mahendra.
Menurutnya, kehadiran OJK di Gedung BEI mencerminkan soliditas dalam mendukung reformasi, perbaikan, dan penguatan pasar modal nasional agar setara dengan standar dan perkembangan bursa global.
Mahendra menegaskan, kunci penguatan dan pendalaman pasar modal terletak pada reformasi yang berorientasi pada peningkatan transparansi dan integritas pasar. Meski demikian, fokus OJK tidak hanya pada satu aspek, melainkan memastikan seluruh agenda reformasi berjalan secara menyeluruh, cepat, tepat, dan efektif.
Danantara Nilai Langkah MSCI Sudah Tepat
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menilai masukan yang disampaikan MSCI terhadap pasar modal Indonesia sudah tepat. CIO Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan tindak lanjut atas masukan tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan regulator, yakni BEI dan SRO lainnya.
“Menurut saya, apa yang dilakukan MSCI itu sudah pas dan tepat. Saya serahkan kembali ke regulator,” kata Pandu dalam agenda Navigating Indonesia’s Next Chapter di Jakarta, Kamis (29/1).
Pandu menilai pengumuman MSCI terkait perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik (free float) justru dapat menjadi momentum untuk menyehatkan pasar modal Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang kuat antara regulator dan pemangku kepentingan agar arah kebijakan dapat dipahami oleh pelaku pasar.
Menurutnya, pasar modal merupakan cerminan tercepat dari tingkat kepercayaan terhadap perekonomian. Investor domestik maupun asing memiliki peran penting dalam membentuk dinamika pasar. Saat ini, investor domestik bahkan telah menjadi kontributor utama aliran dana di pasar modal Indonesia.