Indeks Wall Street Amerika Serikat (AS) turun pada perdagangan Jumat (30/1) akibat tekanan pada harga  saham-saham teknologi. Namun, investor menyambut positif keputusan Presiden AS Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve.

Meski mencatat penurunan pada perdagangan Jumat dan bergejolak sepanjang bulan, S&P 500 tetap membukukan kenaikan secara bulanan pada Januari.

S&P 500 turun 0,43% dan ditutup di level 6.939,03, menandai penurunan selama tiga hari berturut-turut. Investor juga melepas saham-saham unggulan, Dow Jones Industrial Average tergelincir 179 poin atau 0,36% ke 48.892,47. 

Tekanan pada saham-saham teknologi mendorong Nasdaq Composite turun 0,94% dan ditutup di 23.461,82. Ketiga indeks sempat turun lebih dari 1% di level terendah sesi.

Pergeraka indeks juga diwarnai aksi Trump yang memilih Warsh melalui unggahan di Truth Social. “Saya telah mengenal Kevin dalam waktu yang lama, dan tidak ragu bahwa dia akan dikenang sebagai salah satu Ketua The Fed terbaik, mungkin yang terbaik,” tulis Trump, dikutip CNBC, Senin (2/2). 

Pasar menilai pemilihan Warsh dapat meredakan kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve. Hal itu karena rekam jejaknya sebagai mantan anggota Dewan Gubernur The Fed dan sikapnya yang tegas terhadap inflasi. 

Meski Warsh berpeluang mendorong penurunan suku bunga dalam jangka pendek sesuai keinginan Trump, pelaku pasar optimistis ia akan tetap menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan tidak sepenuhnya mengikuti arahan Trump.

Dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi Treasury AS bergerak stabil, mencerminkan kepuasan investor terhadap pilihan Presiden Donald Trump.

Kepala Investasi Treasury Partners, Richard Saperstein menilai pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Federal Reserve sesuai dengan ekspektasi pasar. Menurutnya, Warsh merupakan sosok yang stabil, dikenal luas di kalangan pelaku pasar, dan diyakini mampu menjaga independensi bank sentral.

“Yang paling penting, Warsh menghadapi sedikit hambatan dalam proses konfirmasi oleh Senat,” kata Saperstein.

Namun, faktor lain turut menekan pergerakan pasar saham pada sesi tersebut. Harga emas dan perak spot anjlok masing-masing sekitar 9% dan 28%. Padahal, dalam setahun terakhir, kontrak berjangka emas dan perak masing-masing telah melonjak sekitar 67% dan 142%.

Investor ritel berbondong-bondong masuk ke perdagangan logam mulia, terutama dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan jual tersebut tercermin pada iShares Silver Trust (SLV), instrumen populer di kalangan trader individu, yang anjlok lebih dari 28% pada perdagangan Jumat dan mencatatkan penurunan harian terburuk sepanjang sejarahnya.

Kepala Strategi Pasar Miller Tabak, Matt Maley, menilai pergerakan ekstrem tersebut berpotensi mencerminkan aksi jual paksa, mengingat faktor fundamental umumnya tidak berubah secara drastis dalam satu sesi perdagangan. Menurut Maley, emas dan perak dalam beberapa waktu terakhir menjadi aset terpanas bagi trader harian dan pelaku pasar jangka pendek lainnya.

“Telah terjadi akumulasi leverage di perak. Dengan penurunan besar hari ini, panggilan margin pun dikeluarkan,” ucapnya. 

Meski demikian, investor terus mencermati laporan keuangan emiten. Saham Apple bergerak fluktuatif meski melampaui ekspektasi laba kuartal fiskal pertama dan membukukan lonjakan signifikan penjualan iPhone.

Pergerakan Apple mengikuti tekanan besar pada saham teknologi lainnya. Investor sebelumnya melepas saham Microsoft hingga turun 10% usai perusahaan merilis laporan keuangan pada Kamis. Hal itu mencatatkan hari terburuk sejak 2020 dan memangkas kapitalisasi pasar lebih dari US$ 350 miliar. 

Sementara itu, pelaku pasar menekan saham KLA Corp lebih dari 15% pada Jumat setelah proyeksi kinerjanya mengindikasikan perlambatan pertumbuhan.

Di luar sektor teknologi, investor justru memborong saham Verizon hingga melonjak hampir 12%, mencatatkan kinerja harian terbaik sejak 2008. Raksasa telekomunikasi tersebut melampaui perkiraan analis dan menyampaikan proyeksi laba tahunan yang solid.

Namun indeks-indeks utama Wall Street tetap menutup Januari di zona positif. S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average masing-masing mencatat kenaikan 1,4% dan 1,7% sepanjang bulan, sementara Nasdaq Composite naik 1%. Adapun indeks Russell 2000 yang berfokus pada saham berkapitalisasi kecil melonjak lebih dari 5% selama Januari.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila