Samuel Sekuritas Buang 1,69 M Saham Sentul City (BKSL) usai Pasang Target Rp 200

PT Sentul City Tbk (BKSL)
PT Sentul City Tbk (BKSL)
4/2/2026, 14.15 WIB

Samuel Sekuritas menjual saham PT Sentul City Tbk (BKSL) besar-besaran dengan total hingga 1,69 miliar lembar Padahal sebelumnya sekuritas dengan kode broker IF ini sempat menargetkan harga saham BKSL mencapai Rp 200.

Merujuk data yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) Samuel Sekuritas menjual saham BKSL pada Kamis (29/1) sebanyak 978.382.100 dengan nilai Rp 150. Aksi jual berlanjut esok harinya saat IF menjual lagi sebanyak 712.715.000 di harga Rp 145. Apabila dikalkulasikan, Samuel Sekuritas menjual hingga 1,69 miliar saham.

Adapun saham BKSL dalam tiga bulan terakhir sudah melonjak hingga 18,64%. Data BEI mencatat saham BKSL naik 1,31% ke Rp 155  pada Kamis (29/1) dan turun 2,58% ke Rp 151 pada Jumat (30/1).

Aksi Samuel kemudian berlanjut pada Selasa (3/2). Namun kali ini mereka membeli lagi saham 713.758.700 saham BSKL di harga Rp 145 dengan Repurchase Agreement (Repo). Repurchase Agreement (REPO) merupakan salah satu instrumen investasi yang dikenal di pasar saham. REPO adalah perjanjian pinjaman dana dengan agunan berupa saham atau surat utang. 

Dalam skema ini, peminjam berkewajiban mengembalikan dana sesuai jangka waktu yang disepakati. Apabila peminjam gagal memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo, pendana berhak menyita atau mengambil alih saham maupun surat utang yang dijadikan sebagai agunan.

Samuel Sekuritas sebelumnya merekomendasikan beli saham BKSL dengan target harga (TP) Rp 200, yang mencerminkan potensi kenaikan sebesar 125%. Rekomendasi tersebut didasarkan pada valuasi diskon 75% terhadap Revised Net Asset Value (RNAV).

Samuel Sekuritas membandingkan kinerja pendapatan BKSL yang hampir dua kali lipat dari Rp 951 miliar pada 2019 menjadi Rp 1,7 triliun pada 2023. Hal itu karena kombinasi penurunan suku bunga dan kualitas pengembangan properti yang solid diperkirakan akan menjadi katalis utama pertumbuhan BSKL.

“Risiko terhadap rekomendasi kami: penghentian insentif PPN 11%, keterlambatan kemajuan infrastruktur, pelemahan rupiah, dan pertumbuhan PDB yang lebih lemah,” demikian tertulis dalam riset BKSL, dikutip Rabu (4/2).

Dalam riset terbaru, Samuel Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan pendapatan rata-rata tahunan pada periode FY25–26F sebesar 146% serta pertumbuhan laba per saham (EPS) mencapai 1.284%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila