Bursa Saham Asia Menguat Senin Pagi, Nikkei Melonjak hingga 4,2%

Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Jumat (13/9/2019), diperkirakan masih akan tertekan, setelah kemarin IHSG ditutup dengan pelemahan 0,62%. IHSG melemah 0,62% ke level 6.342,17 setelah 6 hari secara beruntun mencetak reli dengan indeks Nikkei menguat 0,75%, indeks Shanghai naik 0,75%, indeks Hang Seng jatuh 0,26%, dan indeks Straits Times melemah 0,38%
9/2/2026, 08.43 WIB

Pasar Asia melonjak lebih tinggi pada Senin (9/2), karena kemenangan telak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membangkitkan selera untuk kebijakan reflasi lebih lanjut. Di sisi lain, ada kelegaan luas dari investor atas pemulihan Wall Street yang hampir gagal.

Reli saham chip dan perburuan harga murah pada saham-saham momentum yang tertekan telah membantu menopang sentimen, begitu pula taruhan akan lebih banyak pemotongan suku bunga dari Federal Reserve AS.

Indeks Nikkei Jepang (.N225) memimpin kenaikan dengan lonjakan 4,2% ke level tertinggi sepanjang masa, karena pemerintahan Takaichi yang menentukan membuka jalan bagi lebih banyak pengeluaran dan pemotongan pajak.

"Pengurangan pajak konsumsi makanan berdampak positif bagi pengeluaran konsumsi domestik; peningkatan pengeluaran militer berdampak positif bagi saham-saham pertahanan," kata Jamie Halse, direktur pelaksana di Senjin Capital di Sydney, dikutip dari Reuters, Senin (9/2).

"Pertanyaan sebenarnya adalah langkah-langkah lain apa yang mungkin dilakukan sekarang dengan mandat besar yang diberikan dengan memperoleh mayoritas dua pertiga," ujarnya. "Para pemilih jelas telah mendukung Sanaenomics, jadi ada kemungkinan langkah-langkah lebih lanjut akan diumumkan."

Bursa AS Pekan Lalu

Sementara itu, Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup semringah pada perdagangan Jumat (6/2), didorong lonjakan saham produsen chip seiring kembali menguatnya sentimen terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, saham Amazon justru melemah setelah perusahaan memproyeksikan lonjakan belanja infrastruktur AI tahun ini.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, indeks S&P 500 naik 1,97% ke level 6.932,30. Nasdaq Composite tumbuh 2,18% menjadi 23.031,21, sementara Dow Jones Industrial Average melonjak 2,47% ke 50.115,67 dan mencatatkan penutupan tertinggi sepanjang sejarah. Secara mingguan, Dow Jones mencatatkan kenaikan 2,5%. Adapun S&P 500 turun tipis 0,1% dan Nasdaq turun 1,9%. 

Mayoritas sektor di S&P 500 mencatatkan kenaikan. Sebanyak sembilan dari 11 sektor menguat, dipimpin sektor teknologi informasi yang naik 4,1%, disusul sektor industri yang menguat 2,84%. Indeks sektor energi, industri, dan barang konsumsi primer S&P 500 masing-masing juga mencetak rekor tertinggi.

Penguatan pasar pada Jumat lalu ditopang reli saham-saham teknologi. Saham Nvidia melonjak 7,8%, Advanced Micro Devices melesat 8,3%, dan Broadcom meloncat 7,1%. Sebaliknya, saham Amazon anjlok 5,6% setelah perusahaan berencana meningkatkan belanja modal lebih dari 50% pada tahun ini. Langkah tersebut dinilai akan memperketat persaingan di industri AI, menyusul pengumuman serupa dari Alphabet sebelumnya.

Reli S&P 500 dan Nasdaq terjadi setelah pasar melemah selama tiga hari berturut-turut akibat kekhawatiran terhadap valuasi saham berbasis AI. Sejumlah saham perangkat lunak tertekan kekhawatiran meningkatnya persaingan dan potensi penurunan margin keuntungan di tengah masifnya adopsi AI.

“Perdagangan memang sempat sangat volatil dan terjadi aksi jual. Namun, sudah cukup banyak bukti bahwa terdapat permintaan nyata terhadap produk AI, potensi besar dari teknologi ini, serta kebutuhan belanja yang besar untuk mewujudkannya,” ujar analis strategi investasi Baird Ross Mayfield dikutip dari Reuters, Senin (9/2).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.