Indeks saham Wall Street di Amerika Serikat mayoritas ditutup turun pada perdagangan Selasa (10/2). Pelemahan terjadi seiring respons investor terhadap data penjualan ritel yang lebih lemah dari perkiraan dan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak AI di sektor keuangan.
Indeks S&P 500 turun 0,33% ke level 6.941,81. Nasdaq Composite melorot 0,59% ke posisi 23.102,47. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik 52,27 poin atau 0,10%, dan mencetak rekor penutupan baru di level 50.188,14.
Tekanan juga terlihat pada saham-saham sektor ritel. Saham Costco turun lebih dari 2%, sedangkan Walmart lebih dari 1%. Pelemahan ini menyusul rilis data penjualan ritel terbaru yang menunjukkan belanja konsumen pada Desember 2025 stagnan, jauh di bawah survei ekonom Dow Jones yang memperkirakan kenaikan bulanan 0,4% dan realisasi pada November yang tumbuh 0,6%.
Pelaku pasar kini menanti sejumlah data ekonomi utama, termasuk laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis hari ini (11/2) dan data indeks harga konsumen pada Jumat (13/2).
Kepala Strategi Pasar Ameriprise Financial Anthony Saglimbene mengatakan tekanan terhadap konsumen berpendapatan rendah dan menengah juga dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap kondisi pasar tenaga kerja yang semakin tidak pasti.
“Jika pertumbuhan lapangan kerja Januari lebih lemah dari perkiraan, hal itu dapat sedikit menekan tema pelebaran penguatan pasar,” ujar Saglimbene dikutip dari CNBC, Rabu (11/2).
Saham-saham sektor keuangan turut tertekan setelah platform teknologi Altruist meluncurkan alat perencanaan pajak berbasis AI. Saham LPL Financial anjlok 8,3%, Charles Schwab turun 7,4%, dan Morgan Stanley melemah lebih dari 2%.
Saglimbene menilai kondisi itu mencerminkan rotasi investor ke sektor-sektor yang dinilai lebih terlindungi dari perdagangan bertema AI.
Sebelumnya, Wall Street mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut seiring reli saham teknologi yang melanjutkan pemulihan sejak Jumat. Dow Jones bahkan mencetak rekor tertinggi baru, baik secara intraday maupun penutupan.
Investor berharap pasar dapat mempertahankan tren penguatan, mengingat aksi jual pada pekan lalu tidak menimbulkan dampak teknikal yang signifikan. Indeks S&P 500 juga kembali bergerak di atas rata-rata pergerakan 50 hari dan 100 hari setelah sempat turun di bawah level tersebut.
Selain itu, sejumlah kelas aset mampu mencatatkan kinerja yang lebih baik dari indeks utama, yang dipandang sebagai sinyal positif bagi pasar.