Harga saham pengelola indeks global MSCI Inc di Bursa New York Stock Exchange (NYSE) turun tajam dalam beberapa hari terakhir. Dalam lima hari perdagangan terakhir, saham MSCI merosot 11,26% ke level US$ 511,86 per lembar.
Perusahaan itu sebelumnya sempat menjadi sorotan di Indonesia karena kebijakannya disebut sebagai salah satu faktor yang memicu penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada perdagangan Rabu (11/2) waktu setempat, saham MSCI kembali turun 0,77% setelah perusahaan mengumumkan hasil tinjauan indeks (index review) periode Februari. Secara keseluruhan, sejak awal tahun harga saham MSCI telah melemah sekitar 8,8%.
Mengutip Yahoo Finance, analisis menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) menunjukkan bahwa harga saham MSCI saat ini sekitar 14,8% lebih rendah dibandingkan nilai wajarnya atau tergolong undervalued.
Saat ini, saham MSCI diperdagangkan dengan rasio price to earnings (P/E) sebesar 31,51 kali. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata P/E industri pasar modal sebesar 23,11 kali maupun rata-rata perusahaan sejenis sebesar 24,87 kali.
Rasio P/E merupakan indikator yang umum digunakan untuk menilai valuasi perusahaan. Rasio ini menunjukkan perbandingan antara harga saham dengan laba perusahaan per saham. Secara umum, perusahaan dengan prospek pertumbuhan tinggi dan risiko lebih rendah biasanya memiliki rasio P/E lebih tinggi.
Sementara itu, lembaga analisis Simply Wall St menilai saham MSCI memiliki rasio wajar (fair ratio) sebesar 17,48 kali P/E. Angka ini dianggap lebih mencerminkan nilai fundamental perusahaan berdasarkan berbagai faktor, seperti prospek pertumbuhan pendapatan, margin keuntungan, kondisi industri, kapitalisasi pasar, serta tingkat risiko bisnis MSCI.
Rasio wajar tersebut digunakan sebagai acuan untuk menilai apakah harga saham tergolong mahal, murah, atau sudah sesuai dengan nilai sebenarnya. Dibandingkan dengan perbandingan sederhana dengan perusahaan sejenis, pendekatan ini dinilai lebih spesifik karena memperhitungkan karakteristik MSCI secara khusus. Dengan P/E saat ini sebesar 31,51 kali, saham MSCI dinilai diperdagangkan di atas kisaran nilai yang direkomendasikan oleh model tersebut.
Berdasarkan penelusuran Katadata.co.id, MSCI saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 37,89 miliar. Perusahaan ini mencatat rasio P/E sebesar 32,86, rasio price/earnings to growth (PEG) sebesar 2,35, serta tingkat risiko saham (beta) sebesar 1,29.
Selain itu, MSCI baru-baru ini mengumumkan pembagian dividen triwulanan sebesar US$ 2,05 per saham. Dividen ini akan dibayarkan pada 27 Februari kepada investor yang tercatat hingga 13 Februari.
Nilai itu meningkat dibandingkan dividen sebelumnya sebesar US$ 1,80 per saham, sehingga total dividen tahunan mencapai US$ 8,2 dengan imbal hasil sekitar 1,6%. Rasio pembayaran dividen MSCI tercatat 45,89%.
Sebelumnya, MSCI mengumumkan keputusan untuk membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Dalam pengumuman resmi pada Rabu (28/1), MSCI menyatakan langkah tersebut diambil menyusul kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi (investability) pasar modal Indonesia.
Terkait hal itu, MSCI menegaskan pembekuan sementara akan berlaku terhadap perubahan indeks yang timbul dari tinjauan berkala, termasuk untuk periode Februari 2026. Kebijakan tersebut mencakup pembekuan seluruh peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), tidak menerapkan penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak melakukan migrasi naik antarsegmen indeks ukuran, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard Index.
Dalam tinjauan indeks Februari 2026, MSCI menurunkan saham Indonesia yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dari daftar MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Small Cap Indexes. Pengumuman tersebut disampaikan MSCI pada Senin (10/2).
Selain itu, MSCI mengeluarkan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) dari daftar MSCI Small Cap Indexes.
“Seluruh perubahan akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 27 Februari 2026 dengan tanggal efektif 2 Maret 2026,” tulis MSCI dalam keterangannya, Rabu (11/2).
MSCI selanjutnya akan melakukan tinjauan indeks berikutnya pada Mei 2026, dengan pengumuman dijadwalkan pada 12 Mei dan tanggal efektif penerapan indeks pada 1 Juni 2026.