IHSG Sesi I Parkir di Zona Merah, Longsor Dua Hari Beruntun Ada Apa?

Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung berjalan di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). IHSG ditutup melemah 4,88% atau 406,88 poin ke level 7.922 dengan volume transaksi perdagangan mencapai 50,39 miliar saham dan frekuensi sebanyak 2,94 juta kali.
27/2/2026, 12.20 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup turun 0,31% ke 8.209 pada perdagangan sesi pertama akhir pekan ini, Jumat (27/2). Saat perdagangan intraday pukul 09:09 WIB IHSG merosot hingga 1,67% ke level 8.098.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham siang ini sebesar Rp 11,26 triliun dengan volume 26,48 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,50 juta kali. Sebanyak 239 saham menguat, 420 saham terkoreksi, dan 156 saham tidak bergerak. Adapun kapitalisasi pasar IHSG hari ini sebesar Rp 14.746 triliun. 

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai turunnya IHSG karena ada tekanan dari sentimen eksternal dan domestik. Secara eksternal, bursa Asia bergerak bergerak bervariasi karena pelaku pasar cenderung berhati-hati menjelang rilis PMI Tiongkok Februari.

Pasar juga menunggu agenda parlemen tahunan di Cina pada 4–11 Maret yang diperkirakan menetapkan target ekonomi sekaligus memaparkan Rencana Lima Tahun ke-15 Cina untuk periode 2026–2030. 

Di sisi lain, pasar juga dibayangi ketidakpastian kebijakan perdagangan dari Amerika Serikat setelah pemerintahnya menetapkan bea masuk antisubsidi atau Countervailing Duties terhadap panel surya dari India, Laos, dan termasuk Indonesia. 

“Kebijakan ini dinilai memperburuk tensi dagang dan memicu kekhawatiran lanjutan terhadap perlambatan sektor energi hijau global,” tulis Pilarmas dalam analisisnya, Jumat (27/2). 

Dari internal, Pilarmas menyebut peringatan dari S&P Global Ratings terkait meningkatnya tekanan fiskal di Indonesia turut membayangi pasar. Lembaga pemeringkat tersebut menilai kenaikan beban pembayaran bunga utang pemerintah berpotensi meningkatkan risiko penurunan peringkat kredit. Terutama jika biaya bunga telah melampaui 15% dari pendapatan negara. 

Selain itu, rasio bunga yang terus meningkat sejak pandemi, defisit fiskal yang diperkirakan mencapai sekitar 2,9% terhadap PDB akibat lemahnya penerimaan. Hal itu juga berpotensi arus keluar modal asing dapat menekan nilai tukar rupiah, meningkatkan biaya pembiayaan, dan memperlemah kondisi keuangan publik, meskipun pemerintah dan regulator telah merespons dengan rencana reformasi pasar.

“Kehati-hatian juga berlanjut menjelang rilis data domestik penting minggu depan, Presiden AS Trump memberlakukan tarif 104% pada produk tenaga surya Indonesia, dengan alasan subsidi yang merugikan produsen AS,” tulis Pilarmas.  

Di samping itu, dari sebelas sektor yang ada di BEI, tujuh sektor terpantau anjlok. Sektor yang mencatat penurunan terbesar yakni transportasi yang tergelincir 1,53%. Adapun saham di sektor tersebut yang berada di zona merah yakni PT Temas Tbk (TMAS) turun 0,72% ke Rp 137.

Di sisi lain, bursa saham Asia didominasi di zona hijau. Indeks Hang Seng naik 0,75%, Straits Times tumbuh 0,35%, dan Nikkei tumbuh 0,13%. Sedangkan Shanghai Composite tergelincir 0,17%, 

Saham top gainers:

  • PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) naik 24,22% ke Rp 200
  • PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik 3,61% ke Rp 1.865
  • PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 3,70% ke Rp 1.680 

Saham top losers:

  • PT United Tractors Tbk (UNTR) turun 4,61% ke Rp 29.000
  • PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) turun 4,24% ke Rp 1.355
  • PT RMK Energy Tbk (RMKE) turun 3,47% ke Rp 3.900
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila