Laba Bersih 3 Emiten Boy Thohir ADRO, AADI, dan ESSA Merosot Lebih dari 60%
Tiga emiten yang berada dalam lingkar bisnis konglomerat Garibaldi Thohir atau Boy Thohir telah melaporkan kinerja keuangan sepanjang 2025. Ketiga perusahaan itu adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA).
Mengacu pada data daftar pemegang saham di atas 1% per 27 Februari 2026, Boy Thohir tercatat memiliki 14,55% saham ESSA. Ia juga menggenggam 5,83% saham AADI dan 6,73% saham ADRO. Berdasarkan laporan keuangan masing-masing perusahaan, laba bersih ketiga emiten tersebut rontok "berjamaah" pada 2025.
Sepanjang 2025, ADRO membukukan laba bersih Rp 7,48 triliun, turun 67% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih AADI anjlok 63% menjadi Rp 12,71 triliun. Sementara itu, ESSA mencatat laba bersih Rp 673,66 miliar.
Lantas bagaimana kinerja keuangan masing-masing emiten? Apa yang menyebabkan laba bersih perusahaan tersebut kompak merosot?
Kinerja ADRO
Dari ketiga emiten tesebut, laba bersih ADRO anjlok paling dalam. Perseroan membukukan laba tahun berjalan sebesar US$ 447,69 juta atau setara dengan Rp 7,48 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut rontok 67,55% dibandingkan dengan laba perseroan pada 2024 sebesar US$ 1,38 miliar. Pendapatan perseroan juga tercatat turun menjadi US$ 1,87 miliar dari US$ 2,07 miliar secara YoY.
Pendapatan perseroan berasal dari penjualan hasil tambang sebesar US$ 485,64 juta dari US$ 703,90 juta, penjualan hasil tambang dari pihak berelasi sebesar US$ 481,45 juta, jasa pertambangan sebesar US$ 865,28 juta serta pendapatan lain-lain sebesar US$ 41,14 juta.
Meski mengalami penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan tidak turun secara signifikan. Beban pokok perseroan turun tipis dari US$ 1,20 miliar menjadi US$ 1,23 miliar.
Apalagi tahun lalu perseroan tidak mendapatkan laba dari operasi yang dihentikan, di mana pada tahun sebelumnya pos tersebut diisi dana sebesar US$ 918,64 juta. Alhasil, laba per saham perseroan menjadi turun ke US$ 0.015 per saham dari US$ 0.044 per saham.
Kinerja AADI
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang merupakan perusahaan induk bisnis batubara termal, logistik, lahan, investasi, dan kelistrikan juga mencatat penurunan laba. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$ 760,18 juta atau setara dengan Rp 12,71 triliun sepanjang tahun lalu. Angka tersebut anjlok 63% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada tahun buku 2024 sebesar US$ 1,21 miliar.
Merosotnya laba bersih perseroan utamanya berasal dari turunnya pendapatan perseroan menjadi US$ 4,91 miliar dari US$ 5,31 miliar secara tahunan.
Segmen penjualan batu bara masih menjadi kontributor terbesar perseroan di pos pendapatan sebesar US$ 4,47 miliar. Kemudian dilanjutkan oleh pendapatan logistik sebesar US$ 47,72 juta dan pendapatan lain-lain sebesar US$ 15,46 juta.
Sementara itu, dari pihak berelasi, perseroan memperoleh pendapatan dari penjualan batu bara sebesar US$ 211,62 juta, pendapatan logistik sebesar US$ 145,70 juta dan pendapatan lain-lain sebesar US$ 19,57 juta.
Seiring dengan turunnya pendapatan perseroan, beban pokok pendapatan juga tercatat menurun menjadi US$ 3,64 juta dari US$ 3,85 juta secara tahunan. Beban usaha juga turun menjadi US$ 247,08 juta dari US$ 315,50 juta secara tahunan. Namun pendapatan lain-lain perseroan mengalami penurunan signifikan dari US$ 330,77 juta menjadi US$ 28,07 juta YoY.
Alhasil, laba usaha perseroan melorot ke level US$ 1,04 miliar dari US$ 1,48 miliar secara tahunan. Laba per saham perseroan juga ikut turun menjadi US$ 0,097 per saham dari US$ 0.171 per saham.
Laba Bersih ESSA Merosot 10%
Emiten milik saudara dari Erick Thohir ini yang mengalami penurunan kinerja keuangan adalah ESSA. Seperti kinerja dua perusahaan sebelumnya, laba bersih ESSA juga tercatat turun 10,82% secara tahunan menjadi US$ 40,29 juta dari US$ 45,18 juta.
Pendapatan perseroan dibukukan turun menjadi US$ 295,01 juta dari US$ 301,40 juta secara tahunan. Namun beban pokok pendapatan perseroan justru naik menjadi US$ 196,15 juta dari US$ 193,36 juta YoY.
Turunnya laba perseroan juga ditekan oleh naiknya beban umum dan administrasi menjadi US$ 27,73 juta dari US$ 25,60 juta YoY. Perseroan juga mencatatkan kerugian lain-lain sebesar US$ 47.54 ribu yang tahun sebelumnya pos tersebut mencatatkan keuntungan sebesar US$ 76,17 ribu.