IHSG Rontok 21% dari Rekor Tertinggi, Ini 4 Tips Investasi Jaga Cuan Saat Krisis
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sudah mencapai titik bearish-nya atau merosot 21,99% dari puncak atau all time high (ATH). Sebelumnya IHSG mencapai rekor tertinggi di level 9.174 pada awal Januari 2026 lalu.
Praktisi investasi pasar modal, Desmond Wira mengatakan bear market jika indeks dari puncaknya turun minimal hingga 20%. Desmond mengatakan pasar saham Indonesia tertekan karena terseret sentimen global dan domestik. Mulai dari keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks karena isu transparansi dan free float, hingga pandangan negatif dari lembaga pemeringkat seperti Fitch Ratings dan Moody's.
“Hari ini Senin 9 Maret 2026 pasar saham IHSG resmi mask bear market dari puncak 9.174 hari ini low di 7.156 berarti sudah turun -21,99%,” kata Desmond dalam keterangannya, Senin (9/3).
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel juga mendorong kenaikan harga Brent crude oil mendekati US$ 90–100 per barel. Dalam situasi ini, kata Desmond, investor disarankan tetap berhati-hati namun rasional.
“Berdasarkan data terkini hingga Maret 2026, IHSG telah mengalami koreksi signifikan, sentimen masih cenderung negatif,” ucap Desmond ketika dihubungi Katadata.co.id, Senin (9/3).
Berikut tips kelola investasi di tengah gejolak indeks:
- Hindari Panik Selling, Fokus Jangka Panjang
Desmond mengatakan pasar saham Indonesia kerap mengalami volatilitas akibat sentimen eksternal. Namun secara historis, IHSG cenderung kembali rebound setelah mengalami koreksi.
Di samping itu Desmond menyarankan investor tidak terburu-buru menjual aset hanya karena sentimen negatif jangka pendek. Ia menyebut penjualan sebaiknya dilakukan jika fundamental perusahaan benar-benar memburuk. Sebaliknya, kondisi pasar seperti ini dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kembali portofolio investasi.
- Diversifikasi Portofolio untuk Mitigasi Risiko
Jangan taruh semua telur di satu keranjang. Demond menyarakan investor untuk mengalokasikan sebagian aset ke sektor yang lebih tahan banting terhadap kenaikan minyak. Misalnya energi, komoditas atau aset safe haven. Ia juga menyarakan investor untuk mempertimbangkan obligasi pemerintah atau reksa dana pasar uang untuk lindung nilai.
“Rupiah juga berpotensi melemah jika konflik berkepanjangan, jadi dollar-denominated assets bisa jadi pilihan,” kata Desmond.
- Gunakan strategi dollar-cost averaging
Bila ingin beli saham, kata Desmond, lakukan secara bertahap saat harga turun, bukan all-in sekaligus.
- Perbanyak Cash
Selain itu apabila perang meluas, harga minyak terus naik, Desmond mengatakan hal ini berpotensi menjadi krisis energi global. IHSG bisa koreksi lebih dalam, inflasi naik, dan pertumbuhan GDP tertekan. Demond menyebut perlu memperbanyak posisi cash lalu gunakan untuk ambil posisi di saham undervalued.
“Berbagai saran hanya dalam konteks investasi jangka panjang, bukan trading jangka pendek,” ucap Desmond.