Konglomerat Indonesia Anthoni Salim bakal mengantongi dana segar sekitar Rp 397 miliar dari pembagian dividen final yang diumumkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Bank swasta terbesar di Indonesia tersebut mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp 41 triliun kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2025.

Pembagian dividen ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Kamis (12/3). Nilai dividen yang dibagi setara Rp 281 per saham. 

Para pemegang saham menyetujui dividend payout ratio (DPR) sebesar 72%. Angka ini meningkat dibandingkan DPR tahun sebelumnya yang sebesar 67,4%.

Angka ini mencerminkan dividend yield sekitar 4% berdasarkan harga saham BBCA pada perdagangan intraday di kisaran Rp 6.950 per saham. Sebelumnya, BCA juga telah membagikan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp 55 per saham pada Desember 2025.

Alhasil, untuk tahun buku 2025, BBCA membayarkan dividen kepada para pemegang sahamnya sebesar Rp 336 per saham. Berdasarkan Data Kepemilikan Saham Perusahaan Terbuka di atas 1% per 27 Februari 2026, pemilik grup usaha produsen mi instan merek Indomie tersebut tercatat menggenggam 1,41 miliar saham BBCA.

Jumlah ini setara 1,15% dari total saham beredar bank swasta terbesar di Indonesia itu. Apabila dikalkulasikan dengan nilai dividen final yang bakal dibayarkan BBCA, maka Salim akan mengantongi dana segar senilai Rp 397,98 miliar.

Selain Salim, PT Dwimuria Investama Andalan yang merupakan afiliasi konglomerasi Grup Djarum tercatat memiliki sebanyak 54,94% saham BBCA. Adapula  PT Tricipta Mandhala Gumilang memiliki sebanyak 1,07% saham BBCA dan PT Caturguwiratna Sumapala memiliki 1,02% saham BBCA.

Pada perdagangan intraday pukul 13.344 WIB, Kamis (12/3) saham BBCA tercatat naik 1,47% ke level 6.925. Dalam tiga bulan terakhir, sahamnya turun 13,44%. 

Kinerja Keuangan BBCA pada 2025

Perbankan raksasa BBCA membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun tahun buku 2025 atau naik 4,9% year on year (yoy).  Sepanjang Januari–Desember 2025, BCA dan entitas anak membukukan total kredit 7,7% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025. 

Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025.  Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor, di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga.

Di sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1% YoY hingga Rp 1.045 triliun. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong mengatakan torehan ini berkat dukungan besar dari pemerintah dan otoritas membantu perusahaan melewati 2025 dan menorehkan kinerja positif.

Sepanjang tahun lalu, BCA menyelenggarakan berbagai acara seperti dua kali perhelatan Expo, BCA UMKM Fest, BCA Wealth Summit, dan Gebyar Hadiah BCA.  

“Berbagai kegiatan itu berdampak positif terhadap kinerja BCA, dan menjadi wujud komitmen kami untuk terus hadir serta memenuhi berbagai kebutuhan nasabah dan masyarakat Indonesia,” ucap Hendra dalam keterangannya, Selasa (27/1). 

Selain itu kredit usaha BCA naik 9,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 756,5 triliun per Desember 2025. Dari sisi konsumer, BCA menjaga pembiayaan di level Rp 224,1 triliun, didukung oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp 142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) senilai Rp 56,6 triliun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri