Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan intraday Kamis (30/4). Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 10.10 WIB IHSG bahkan meninggalkan level 7.000.
Emiten perbankan raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan transaksi crossing sebesar Rp 423,74 miliar di harga Rp 7.864 pada Senin (27/4). Bagaimana prospek saham BBCA?
Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, memberikan outlook negatif terhadap perbankan raksasa RI di antaranya BNI, BCA, Mandiri dan BRI.
Investor asing pada pekan ini melepas saham bank-bank besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, hingga PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Kinerja indeks Financial Times Stock Exchange atau FTSE Indonesia masih menunjukkan tekanan dalam jangka pendek. Dalam tiga bulan terakhir, indeks terkoreksi hingga 16%.
Aksi jual bersih (net sell) investor asing masih berlanjut di pasar saham domestik pada pekan 9–13 Maret 2026. Berdasarkan data statistik mingguan BEI investor asing mencatat net sell Rp 1,57 triliun,
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memberikan sinyal akan membagikan dividen interim sebanyak tiga kali di tahun 2026. Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengungkap rencana pembagian dividen interim
Perbankan raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bakal membagikan dividen sebanyak 3 kali sepanjang 2026. Rencana itu terdiri dari 1 kali dividen final yang ditetapkan dalam RUPS dan 2 kali interim.
Konglomerat Tanah Air yang menjuarai industri mie Anthoni Salim bakal mengantongi dana segar dari dividen PT Bank Centra Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 397 miliar. Berapa kepemilikan sahamnya di BBCA?
Nama konglomerat Anthoni Salim tercatat sebagai salah satu pemegang saham di sejumlah perusahaan besar Tanah Air. Pemilik raksasa industri makanan Indofood itu rupanya juga memegang saham BBCA.