Jeffrey Hendrik Masuk Radar Bos BEI Periode 2026–2030, Bagaimana Kansnya?
Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik merespons usai dirinya dikabarkan masuk radar menyalonkan sebagai Direktur Utama BEI periode 2026-2030. Adapun Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) akan digelar pada Juni 2026 mendatang.
Berdasarkan kabar yang beredar, Jeffrey Hendrik maju tak sendiri. Dirinya diketahui telah memiliki paket direksi bersama enam orang lainnya. Calon-calon direksi tersebut yakni Irvan Susandy, R. Haidir Musa, Irwan Abdalloh, R. M irwan, dan Atep Salyadi Dariah Saputra.
Ketika ditemui di Gedung Mahkamah Agung, Jeffrey tak membantah kabar tersebut. Ia hanya memastikan akan melanjutkan program di pasar modal yang telah berjalan.
"Ya tentu kami melanjutkan program-program yang ada," ungkap Jeffrey kepada wartawan di Gedung Mahkamah Agung (MA), Jakarta, Rabu (25/3).
Tak hanya itu ia juga berkomitmen untuk mendorong BEI sebagai bursa saham kelas dunia. Adapun komitmen ini juga sejalan dengan master plan BEI 2026–2030.
Di samping itu Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, membocorkan kisi-kisi sosok yang bakal mengisi kursi direksi BEI.
Hasan menjelaskan batas akhir pengajuan kandidat ditetapkan pada 27 April untuk posisi direksi Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan 4 Mei untuk direksi BEI. Ia menyampaikan struktur direksi BEI terdiri atas tujuh orang dan diisi dengan kompetensi yang berbeda sesuai bidang masing-masing.
Tak hanya itu, setiap posisi menurut dia membutuhkan keahlian khusus yang sejalan dengan fungsi operasional bursa.
Hasan mencontohkan, untuk posisi direktur utama (dirut) dibutuhkan sosok yang memiliki visi, kemampuan strategis, dan kepemimpinan yang kuat. Sementara itu, direktur lainnya akan membawahi bidang-bidang tertentu sesuai tanggung jawab masing-masing.
“Ada yang (bidangnya) perdagangan, tentu ahlinya di mekanisme dan penyelenggaraan perdagangan," ungkap Hasan di Kompleks Parmelen Senayan, Jakarta, Rabu (11/3).
Apa Kata AEI?
Sementara itu Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Gilman P. Nugraha, berharap siapa pun pihak yang terpilih nantinya dapat mendorong kinerja bursa. Menurutnya apalagi rencana percepatan demutualisasi akan membuat bursa semakin kompetitif dengan bursa global.
Dalam kondisi itu, ia menyebut bursa tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham, tetapi juga harus memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, pemangku kepentingan pasar modal mencakup investor, perusahaan sekuritas, emiten, hingga pihak lain yang terlibat dalam aktivitas pasar modal Indonesia.
“Jadi ya kita harap kan yang terbaik, yang terbaik yang bisa membawa bursa lebih baik ke depan itu yang akan bisa jadi direksi bursa,” kata Gilman di Gedung MA, Rabu (25/3).
Tak hanya itu Gilman menilai kandidat direksi bursa, baik dari internal SRO maupun eksternal, masing-masing memiliki kelebihan. Menurutnya, pihak internal lebih kuat dalam aspek regulasi, kepatuhan, dan pemahaman aturan. Sementara pihak eksternal dinilai lebih memahami kondisi pasar dan aspek bisnis secara langsung.
Menurutnya kombinasi keduanya adalah hal wajar seperti yang selama ini dalam susunan direksi bursa, termasuk dari kalangan non-sekuritas.
“Jadi 7 posisi itu sebenarnya chance-nya bisa dari internal ataupun dari eksternal,” ucap Gilman.