Wall Street Bergerak di Zona Hijau, Sentimen Damai AS–Iran Tekan Harga Minyak
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) melonjak pada perdagangan Rabu (25/3) didorong turunnya harga minyak hingga meningkatnya harapan pasar terhadap potensi kesepakatan gencatan senjata AS–Iran.
Dow Jones Industrial Average naik 305,43 poin atau 0,66% ke level 46.429,49. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,54% ke 6.591,90, dan Nasdaq Composite meningkat 0,77% ke posisi 21.929,83.
Adapun naiknya saham-saham teknologi menjadi penopang utama pergerakan pasar pada hari itu. Saham Nvidia, AMD, dan Intel kompak mencatatkan kenaikan.
Associated Press melaporkan, mengutip pejabat anonim di Islamabad, bahwa Iran telah menerima proposal 15 poin dari AS untuk mengakhiri konflik. Sebelumnya, berdasarkan keterangan dua pejabat yang tidak disebutkan namanya, The New York Times mengungkapkan AS mengirimkan rencana perdamaian kepada Iran melalui Pakistan.
Di sisi lain, media pemerintah Iran menyebut Teheran menolak tawaran gencatan senjata dari AS. Lalu justru mengajukan proposal tandingan berisi lima poin, termasuk permintaan kendali atas Selat Hormuz.
Seiring perkembangan itu, harga minyak melemah. Kontrak berjangka West Texas Intermediate turun 2,2% dan ditutup di level US$ 90,32 per barel, sedangkan Brent turun 2,17% ke US$ 102,22 per barel. Penurunan harga minyak turut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Meski begitu, kedua pihak masih belum mendekati kesepakatan. The Wall Street Journal melaporkan AS telah mengerahkan Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat ke kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Selasa (24/3) AS saat ini tengah bernegosiasi dengan Iran. Ia menilai Teheran mulai bersikap rasional dan menunjukkan keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan damai.
Adapun konflik yang berlangsung turut memicu volatilitas tajam di pasar saham sepanjang pekan ini. Sebelumnya, pada Senin, ketiga indeks utama Wall Street melonjak lebih dari 1% setelah Trump menulis di Truth Social AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian penuh konflik di Timur Tengah. Namun, media pemerintah Iran membantah adanya pembicaraan langsung antara kedua negara tersebut.
Dalam sebuah catatannya, JPMorgan menilai bahwa meskipun masih ada ketidakpastian pasar justru cenderung untuk terus menguat. Investor juga menilai belum ada kejelasan apakah Iran akan menarik tuntutan sebelumnya.
“Termasuk jaminan keamanan terhadap agresi di masa depan dan ganti rugi/kompensasi atas kerugian yang diderita selama konflik ini,” tulis JPMorgan dalam analisisnya dikutip CNBC International, Kamis (26/3).