Emitmen Sinarmas (DSSA) Ungkap Jurus Diversifikasi, Kebut EBT hingga Bisnis AI
Emiten dalam konglomerasi Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengungkap rencana yang akan menjadi prioritas perusahaan dalam waktu dekat. Perusahaan menyatakan langkah yang diambil tak lepas dari komitmen perusahaan untuk mendukung kebutuhan makro Indonesia akan transisi energi serta konektivitas digital.
Manajemen DSSA mengatakan komitmen ini diwujudkan melalui percepatan adopsi Energi Baru Terbarukan (EBT), transformasi praktik pertambangan berkelanjutan, serta perluasan infrastruktur digital melalui solusi AI. Meski begitu, Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya, menyatakan sektor energi tetap menjadi fondasi bisnis Perseroan dengan fokus pada operasional yang efisien dan berkelanjutan.
“Strategi ini diwujudkan melalui penguatan sustainable mining practices, mulai dari peningkatan efisiensi energi hingga pengelolaan lingkungan yang terintegrasi,” ujar Lukita dalam temu media pada Kamis (2/4).
Lokita mengatakan, perusahaan saat ini mengebut akselerasi elektrifikasi armada operasional (EV fleets) di PT Borneo Indobara (BIB). Inisiatif tersebut tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga memelopori transisi menuju green mining di sektor pertambangan.
Dengan adopsi teknologi ini, Perseroan memastikan operasional tetap relevan dengan kebutuhan energi masa depan sekaligus secara aktif menekan emisi karbon.Selain itu DSSA secara bertahap juga memperkuat portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT), terutama pada sektor panas bumi dan tenaga surya.
“Langkah ini menjadi strategis mengingat Indonesia memiliki sekitar 40% potensi panas bumi global, yang merupakan sumber baseload energi hijau paling andal dalam jangka panjang,” ujar Lokita.
Ia menjelaskan, komitmen ini diwujudkan melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi 1 GW di KEK Kendal serta pengembangan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti. Dengan total potensi mencapai 440 MW, Perseroan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis mulai dari Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah.
Guna memperkuat kapabilitas teknis dan operasional, DSSA juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia yang merupakan anak usaha Energy Development Corporation (EDC). Sejalan dengan itu, DSSA juga terus memperkuat operational excellence melalui penerapan praktik yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan mulai dari peningkatan efisiensi, optimalisasi penggunaan energi dan sumber daya, digitalisasi operasional, hingga pengurangan emisi dan limbah secara terukur,
“Pendekatan kami adalah menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi yang lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang Perseroan.” ujar Lokita lagi.
Langkah ini merupakan bagian dari komitmen DSSA untuk mencapai carbon neutrality pada tahun 2050 melalui pendekatan transisi yang dilakukan secara bertahap dan terukur.
Perkuat Infrastruktur Digital
Seiring pertumbuhan ekonomi digital, DSSA juga terus memperkuat bisnis di sektor infrastruktur digital dan teknologi untuk mendukung kebutuhan konektivitas dan pengelolaan data di Indonesia. Langkah strategis ini diperkuat melalui kemitraan dengan iFLYTEK untuk mengakselerasi transformasi digital berbasis AI di Indonesia.
Lewat kerja sama dengan iFLYTEK, DSSA mengebut pengembangan berbagai solusi AI (AI use-case) dan kapabilitas analitik berbasis LLM (Large Language Model) SPARK. CEO PT DSST Mas Gemilang (DSST) Marlo Budiman menyatakan sinergi ini dirancang untuk menghadirkan ekosistem digital yang lebih cerdas dan efisien di berbagai sektor industri terutama di kesehatan, pendidikan dan infrastruktur telekomunikasi dan digital.
“Kami melihat peluang besar untuk mendorong pemerataan penetrasi digital dengan menjawab kesenjangan yang ada, sekaligus menghadirkan solusi berbasis AI yang mudah diakses,” ujar Marlo.
Saat ini, DSSA juga mengoperasikan jaringan fiber optic sekitar 57.000 km, dengan lebih dari 9 juta homepass dan sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia. Skala ini menjadi fondasi untuk memperluas akses digital di berbagai wilayah.
Penguatan infrastruktur ini juga didukung oleh pengembangan jaringan data center nasional yang mencakup 24 Edge Data Center di 23 pasar strategis dari Medan hingga Manado untuk memastikan pemrosesan data dengan latensi rendah. Selain itu, Perseroan tengah menyiapkan Flagship Hub Jakarta SMX01, sebuah fasilitas Tier-IV AI-ready berkapasitas awal 18 MW di jantung CBD Jakarta yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester kedua 2026.
Peluang pasar masih terbuka besar, dengan sekitar 50 juta masyarakat yang belum terlayani internet secara optimal dan potensi pasar telekomunikasi nasional mencapai sekitar USD 29 miliar. Pasar fixed broadband sendiri diproyeksikan tumbuh sekitar 10% setiap tahun dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk menangkap peluang tersebut, DSSA menjalankan berbagai inisiatif strategis, termasuk penguatan jaringan fiber melalui Moratelindo, pengembangan data center, serta eksplorasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Sepanjang 2026, DSSA juga menjalankan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnis, termasuk rencana stock split serta penjajakan kerja sama di sektor energi dan teknologi. DSSA menegaskan bahwa pengembangan bisnis akan dilakukan secara bertahap dengan menjaga kekuatan di sektor energi, sekaligus menangkap peluang pertumbuhan di sektor digital.
Sementara itu Direktur DSSA David Audy menjelaskan perusahaan melihat peluang masa depan Indonesia yang akan banyak mengadopsi Artificial Intelligence (AI) yang akan ditopang oleh dua fondasi utama, yaitu energi yang andal dan infrastruktur konektivitas digital yang merata. Ia menyebutkan DSSA membangun keduanya secara terintegrasi, menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus mempercepat pengembangan portofolio energi rendah emisi seperti geothermal.
Sejalan dengan itu, kami terus memperkuat infrastruktur digital sebagai tulang punggung ekonomi berbasis data. “Dengan fondasi ini, DSSA berada pada posisi strategis sebagai enabler sekaligus beneficiary dari pertumbuhan adopsi AI di Indonesia,” lanjut David.