Strategi OJK Redam Potensi Dana Keluar dari Bursa RI Pascaterbitnya Daftar HSC

Katadata/Fauza Syahputra
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi (kiri), bersama Pjs Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyampaikan keterangan saat Konferensi Pers Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
6/4/2026, 17.22 WIB

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat adanya potensi dana asing yang keluar (outflow) dari pasar modal Indonesia akibat pembukaan daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi menuturkan, juga memahami jika ada potensi pada penurunan bobot indeks saham Indonesia. Walaupun demikian, OJK menilai kondisi tersebut tidak perlu direspons secara reaktif.

"Ke depannya memang mungkin dan dapat membawa konsekuensi jangka pendek dalam konteks ini potensi dampak yang dapat muncul, antara lain, misalnya penyesuaian portfolio yang tentu serta-merta diselaraskan oleh para investor kita baik investor domestik maupun global," kata Hasan dalam RDKB Maret 2026 OJK secara virtual, Senin (6/4).

"Dan ini tentu berpotensi memicu tekanan jual untuk sementara waktu ada juga potensi outflow misalnya pada periode-periode rebalancing terutama di waktu-waktu awal," tuturnya.

Menurut Hasan, reformasi untuk meningkatkan integritas pasar modal memang berpotensi menimbulkan konsekuensi jangka pendek, termasuk penyesuaian portofolio oleh investor domestik maupun global.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek, termasuk pelebaran bid-ask spread pada saham tertentu, terutama yang sebelumnya memiliki likuiditas terbatas. Namun, OJK menilai dinamika tersebut bersifat sementara sebagai bagian dari proses transisi menuju struktur pasar yang lebih sehat.

Hasan menyampaikan, OJK bersama self regulatory organization (SRO) telah menuntaskan empat proposal reformasi pasar modal kepada penyedia indeks global, termasuk MSCI. Dengan langkah ini, OJK menilai pasar modal Indonesia kini memasuki fase yang lebih transparan dan kredibel, sekaligus meningkatkan aspek investability di mata investor global.

“Langkah konkret yang telah dilakukan diharapkan memperkuat kepercayaan investor terhadap kualitas, transparansi, dan integritas pasar modal Indonesia,” kata Hasan.

Mitigasi Risiko jika Terjadi Penurunan Indeks

Terkait potensi penurunan bobot saham Indonesia dalam evaluasi indeks global, Hasan mengatakan OJK telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi yang terukur dan terkoordinasi.

Pertama adalah pihaknya bersama SRO telah menuntaskan implementasi empat proposal utama yang diajukan kepada penyedia indeks global. Fokus kebijakan diarahkan pada penguatan fondasi integritas pasar agar lebih transparan, kredibel dan berkelanjutan.

“Dalam hal ini, (kami) optimistis bahwa langkah-langkah konkret yang sudah kami hadirkan dan lakukan tersebut akan semakin memperkuat kembali kepercayaan dari seluruh kepentingan,” ujar Hasan.

Salah satu langkah utama adalah mendorong peningkatan batas minimum free float menjadi 15%. Kebijakan ini diharapkan berjalan seiring dengan penguatan sisi permintaan, baik dari investor ritel domestik, institusi, maupun investor asing.

Selain itu, OJK akan terus menjaga komunikasi intensif dengan penyedia indeks global, termasuk menyampaikan perkembangan reformasi hingga periode evaluasi berikutnya.

“Serta memastikan kesiapan untuk dalam hal diperlukan mengambil respon dan langkah kebijakan tambahan secara terukur proporsional apabila diperlukan,” ucapnya.

Hasan menegaskan, reformasi integritas pasar modal telah diimplementasikan secara bertahap sejak awal 2026. Upaya tersebut tidak hanya bersifat wacana, melainkan diwujudkan melalui kebijakan struktural yang konsisten.

Ke depan, kata dia, arah kebijakan akan terus difokuskan pada penguatan kualitas dan integritas pasar agar lebih transparan, likuid, dan kredibel, serta mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Dalam upaya memperdalam pasar dan meningkatkan likuiditas, OJK terus memperkuat kolaborasi dengan BEI dan pemangku kepentingan lainnya secara terintegrasi.

Dari sisi pasokan (supply), OJK mendorong peningkatan free float, transparansi kepemilikan saham di atas 1%, serta percepatan proses perizinan bagi emiten yang akan melantai di bursa.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, kredibilitas serta memperluas basis investor di pasar modal Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri