Menilik Arah Baru Bisnis Data Center PGEO Usai Tebar Dividen Rp 2,1 Triliun
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyetujui pembagian dividen tahun buku 2025 sekitar US$ 123,9 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun. Tak hanya itu, perusahaan mengungkapkan bisnis baru di bidang data center. Berdasarkan perhitungan Stockbit Sekuritas, nilai tersebut setara sekitar Rp 50,4 per saham dengan asumsi kurs Rp 17.000 per dolar AS.
Besaran dividen anak usaha PT Pertamina itu setara dengan dividend payout ratio (DPR) sebesar 90%, meningkat dibandingkan tahun buku 2024 yang berada di level 85%. Dengan harga saham per Selasa (21/4), dividen tersebut mengindikasikan dividend yield sekitar 4,9%.
Di tengah kabar pembagian dividen itu, manajemen Pertamina Geothermal Energy berencana memperluas lini bisnis dengan menambahkan unit usaha data center yang akan berada di bawah Direktur Operasi PGEO. Demi mendukung rencana itu, perseroan juga menyiapkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) untuk operasional data center.
Adapun objek studi kelayakan mencakup penambahan kegiatan usaha baru sesuai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), yakni aktivitas pengolahan data (KBLI 63101) dan penyediaan infrastruktur komputasi, hosting, dan aktivitas terkait (KBLI 63102). Rencana ini terkait pengembangan data center berkapasitas 5 MW (utility load) yang akan berlokasi di Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Dari sisi pasar, manajemen menilai industri data center di Indonesia tengah tumbuh pesat, terutama menuju 2025. Hal ini didorong oleh tingginya adopsi cloud, peningkatan beban kerja berbasis kecerdasan buatan (AI), dukungan regulasi, serta meningkatnya minat investor terhadap ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, posisi Indonesia sebagai hub data regional juga semakin kuat, seiring pembangunan jaringan kabel bawah laut yang meningkatkan kapasitas bandwidth internasional.
Sementara dari aspek teknis, perseroan berencana mengoptimalkan potensi panas bumi dengan mengembangkan PLTP berkapasitas 5 MW yang secara khusus akan memasok kebutuhan energi bagi operasional data center tersebut.
“Yang merupakan kegiatan usaha baru PGEO dan menjadikan perusahaan pelopor dalam mengembangkan green data center pertama di Indonesia yang menggunakan energi terbarukan berupa panas bumi,” ucap manajemen PGEO dalam keterangan informasi BEI, dikutip Rabu (22/4).
Produksi PGEO Cetak Rekor Tertinggi
Sejalan dengan optimisme tersebut, kinerja operasional PGEO sepanjang 2025 turut menunjukkan capaian yang signifikan. Tahun 2025 PGEO mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah (all-time high), yakni sebesar 5.095,48 gigawatt-hour (GWh), meningkat 5,55% dibandingkan tahun 2024.
Torehan ini didorong oleh beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 secara komersial pada Juni 2025. Hal itu menambah kapasitas terpasang PGE sebesar 55 megawatt (MW) menjadi 727 MW.
Tidak hanya dari sisi produksi, PGE juga terus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui berbagai inisiatif strategis. Perseroan memulai eksplorasi greenfield PLTP Gunung Tiga di Lampung dengan potensi kapasitas 55 MW.
PGEO juga menjalin kerja sama dengan PLN IP dengan potensi tambahan kapasitas hingga 530 MW, dan mencetak prestasi dengan empat proyek PGE yang masuk dalam Blue Book Bappenas 2025–2029.
Selain itu, PGE juga melakukan groundbreaking Pilot Project Green Hydrogen Ulubelu, menginisiasi pengembangan green data center berbasis panas bumi, serta meluncurkan inovasi Flow2Max dengan berkolaborasi bersama Ecolab, yang merupakan bagian dari strategi diversifikasi pendapatan melalui pendekatan Beyond Electricity.
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Ahmad Yani menyampaikan tahun 2025 menjadi tahun yang penting bagi PGEO dan terus mengakselerasi pertumbuhan melalui tiga strategi utama. Di antaranya optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru.
“Pencapaian kami di tahun 2025 menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi menjadi world leading geothermal producer, mendukung agenda transisi energi bersih, sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional,” katanya.
Demi mengejar target kapasitas 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034, Perseroan kini tengah melakukan investasi strategis dengan fokus pada proyek-proyek quick win. Hal itu bertujuan meningkatkan kapasitas terpasang dan produksi panas bumi sekaligus memperkuat kinerja keuangan PGEO secara berkelanjutan.