Geliat BRMS Incar Tambang Emas Baru, Intip Kriteria dan Target Produksi ke Depan
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), emiten tambang emas patungan Grup Bakrie dan Salim Group tengah mengejar aset tambang emas baru untuk diakuisisi. Langkah ekspansif itu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis perseroan.
Selama ini, pertumbuhan kinerja BRMS terutama ditopang peningkatan produksi emas dari tambang milik PT Citra Palu Minerals.
Direktur BRMS Herwin Wahyu Hidayat mengatakan, perseroan saat ini memang aktif mencari peluang dari penambahan aset tambang emas baru. Proses pencarian tersebut dipimpin langsung oleh jajaran direksi BRMS yakni Agoes Projosasmito dan Adrian Wicaksono.
“Mereka tetap mencari kemungkinan akuisisi aset baru, baik di dalam maupun luar negeri. Tetapi kriterianya adalah aset yang sudah berproduksi,” ujar Herwin dalam acara Emiten Talk PT OCBC Sekuritas, dikutip Rabu (29/4).
Dia menjelaskan, peningkatan produksi BRMS saat ini ditopang ekspansi kapasitas pabrik di Palu, Sulawesi Tengah. Selain itu, perseroan juga mencatatkan prospek positif dari temuan hasil pengeboran tembaga di Gorontalo yang dinilai cukup potensial.
Untuk target produksi, BRMS menargetkan produksi emas sekitar 80.000 ons pada 2026, naik dari realisasi tahun lalu yang mencapai sekitar 71.011 ons.
Tak berhenti di situ, BRMS memproyeksikan produksi emas di tambangnya bakal mencapai 85.000 ons pada 2027. Meski bertumbuh, kenaikan tersebut belum signifikan karena perseroan tengah menjalani masa transisi dari tambang terbuka menuju tambang bawah tanah.
Menurut Herwin, perubahan signifikan atau game changer produksi BRMS diperkirakan mulai terlihat pada 2028. Pada tahun tersebut, perseroan menargetkan produksi di atas 160.000 ons emas.
Selanjutnya, pada 2029, produksi diproyeksikan mencapai puncaknya di atas 230.000 ons emas dan diharapkan dapat dipertahankan hingga 2035, dengan asumsi tidak ada tambahan cadangan baru.
Seiring dengan prospek BRMS, perseroan juga berharap sahamnya bisa masuk lebih banyak indeks bergengsi. Saat ini BRMS sudah masuk di indeks IDX80, KOMPAS100, Syariah Indeks, MSCI Standard Cap, dan FTSE Small Cap.
“Berharap bisa masuk ke FTSE Standard Cap. Tentunya, kami welcome, semakin banyak indeks yang bisa kita masuk, semakin bagus, ya,” ujar dia.
Sepanjang 2025, BRMS membukukan laba bersih senilai US$ 50 juta atau setara dengan Rp 846,21 miliar. Jumlah tersebut melonjak dari laba bersih perseroan pada 2024 senilai US$ 24,40 juta, yang berarti laba bersih BRMS melesat 104,91% dalam setahun.
Lonjakan laba tersebut berasal dari naiknya penjualan perseroan menjadi US$ 249 juta dari US$ 162,34 juta secara tahunan. Pendapatan BRMS berasal dari penjualan emas senilai US$ 242,3 juta dan penjualan perak senilai US$ 7,04 juta.