Mengintip Prospek Bank Danamon (BDMN) seusai Umumkan Niat Integrasi dengan MUFG

Istimewa
Menara Bank Danamon di kawasan Kuningan, Jakarta, yang menjadi kantor pusat PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).
13/5/2026, 05.05 WIB

Rencana integrasi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dengan MUFG Indonesia menjadi perhatian pasar pascapengumuman Senin (11/5) lalu. Langkah tersebut diproyeksikan dapat meningkatkan aset hingga laba perusahaan setelah aksi korporasi itu rampung. 

Awal pekan ini, Danamon dan MUFG Indonesia menandatangani nota kesepakatan intensi integrasi. Melalui penggabungan itu, Danamon dan MUFG Indonesia ingin mengoptimalkan kekuatan bisnis, keahlian, hingga jaringan global dan domestik yang dimiliki masing-masing entitas dan ditargetkan efektif pada 2027. 

Head of Research MNC Sekuritas, Victoria Venny, menilai rencana integrasi itu sesungguhnya bukan sebuah kejutan besar bagi pelaku pasar. Menurutnya, aksi antara BDMN dan MUFG Indonesia sudah diprediksi sejak MUFG mengakuisisi BDMN. 

“Jadi, kalau pengumuman ini keluar, surprise-nya bukan pada arah strateginya, tetapi pada kapan eksekusinya dilakukan,” ujar Venny dalam analisisnya, Selasa (12/5). 

Venny mengatakan, aksi ini melibatkan dua entitas utama dalam ekosistem Mitsubishi UFJ Financial Group di Indonesia. Menurutnya, aksi korporasi yang dilakukan lebih tepat disebut sebagai integrasi bisnis. Ini mengingat MUFG Indonesia masih berstatus kantor cabang bank asing (KCBLN), sehingga bukan merupakan bank berbadan hukum Indonesia yang berdiri sendiri seperti BDMN.

Ke depan, aksi itu akan mengintegrasikan kegiatan usaha, aset, liabilitas tertentu, jaringan nasabah, hingga fungsi operasional MUFG Cabang Indonesia ke dalam platform BDMN.

Venny menilai langkah ini berpotensi memperkuat posisi BDMN di segmen korporasi, wholesale banking, trade finance, treasury, hingga nasabah asal Jepang. Selain itu, perseroan juga dinilai dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap jaringan global MUFG.

Tak hanya itu integrasi tersebut berpotensi mengubah persepsi pasar terhadap BDMN. Selama ini, Danamon lebih dikenal sebagai bank menengah besar dengan kekuatan di segmen ritel, UKM, otomotif, dan enterprise banking.

“Setelah integrasi, BDMN berpotensi dipersepsikan sebagai bank lokal dengan dukungan franchise wholesale global yang lebih kuat,” ucap Venny. 

Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025, Bank Danamon secara konsolidasian mencatat total aset sebesar Rp 275,71 triliun. Sementara itu, MUFG Indonesia memiliki total aset Rp 201,65 triliun. Apabila dijumlahkan, total aset gabungan keduanya berpotensi mencapai Rp 477,36 triliun.

Dari sisi permodalan, BDMN membukukan total ekuitas Rp 54,27 triliun, sedangkan MUFG Indonesia mencatat ekuitas Rp 44,05 triliun. Dengan demikian, secara proforma sederhana total ekuitas gabungan dapat mencapai Rp 98,32 triliun.

Pada sisi intermediasi, kredit BDMN tercatat Rp 159,29 triliun dan MUFG Indonesia memiliki penyaluran kredit Rp 106,46 triliun. Jika dikalkulasikan, total kredit gabungan berpotensi mencapai Rp 265,75 triliun.

Apabila turut memasukkan pembiayaan syariah BDMN sebesar Rp 14,47 triliun dan piutang pembiayaan konsumen Rp 33,90 triliun, maka total eksposur pembiayaan gabungan diperkirakan mencapai sekitar Rp 314,12 triliun. Nilai tersebut mencerminkan potensi skala pembiayaan yang jauh lebih besar pascaintegrasi.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BDMN yang terdiri atas giro, tabungan, dan deposito tercatat sebesar Rp 174,18 triliun. Sementara MUFG Indonesia memiliki dana giro dan deposito sekitar Rp 52,37 triliun. Dengan demikian, total DPK gabungan diperkirakan mencapai Rp 226,55 triliun.

Pada 2025, BDMN membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 4,19 triliun, dengan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,97 triliun. Di sisi lain, MUFG Indonesia mencatat laba bersih Rp6,93 triliun.

Apabila digabungkan, berpotensi mencapai Rp 11,13 triliun. Sementara itu, menggunakan basis laba atribusi pemilik entitas induk BDMN, laba gabungan diperkirakan mencapai sekitar Rp 10,90 triliun.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila