IHSG Sesi I Tutup di Level 5.734, Jatuh ke Titik Terendah dalam 5 Tahun Terakhir
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup rontok 3,48% atau 206,81 poin ke Rp 5.734,26 pada perdagangan sesi pertama, Kamis (4/6). Level ini merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir, termasuk saat Indonesia berada dalam krisis pandemi Covid-19.
Indeks sempat turun ke Rp 5.648 secara intraday. Analis pasar modal Hendra Wardana menyatakan, kemunduran indeks terjadi seiring dengan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi hingga menembus Rp 18.022 per dolar Amerika Serikat.
Menurut dia, kombinasi pelemahan pasar saham dan mata uang secara bersamaan menjadi sinyal bahwa investor sedang melakukan repricing terhadap risiko Indonesia. Meski begitu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan solid, namun pasar memandang berbeda.
Data yang terlihat hari ini menunjukkan tekanan yang nyata terhadap aset keuangan domestik. Arus modal asing terus keluar, rupiah melemah, dan kepercayaan investor mengalami penurunan yang signifikan.
“Karena itu, persoalan utama saat ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi, melainkan kredibilitas kebijakan,” ujar Hendra dalam keterangannya dikutip Kamis (4/6).
Dia menyatakan, investor membutuhkan kepastian arah fiskal, kepastian regulasi, serta keberpihakan terhadap iklim investasi yang sehat. Pasar membutuhkan bukti, bukan sekadar optimisme.
Ketika narasi yang disampaikan pemerintah tidak sejalan dengan persepsi yang tercermin di pasar, maka yang terkikis adalah kepercayaan. Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume transaksi perdagangan sepanjang sesi pertama mencapai 22,84 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,38 juta kali.
Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 10.113 triliun dengan total nilai transaksi siang ini sebesar Rp 12,73 triliun. Sebanyak 63 saham ditutup naik, 683 saham turun dan 62 saham lainnya tidak bergerak.
Seluruh sektor yang ada di BEI parkir di zona merah. Sektor industri dasar mengalami penurunan tajajm, yaitu turun 10,25%. Di dalamnya, saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) anjlok 14,14% ke Rp 4.250, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melorot 10,53% ke Rp 1.445 dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) anjlok 9,07% ke Rp 1.605.
Dari sisi banyaknya nilai perdagangan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) paling banyak diburu hingga siang ini, yaitu Rp 1,69 triliun. Disusul oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang diperdagangkan sebesar Rp 987 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 731 miliar.
Sementara itu, mayoritas bursa Asia juga kebakaran pada perdagangan hari ini. Indeks bursa Nikkei Jepang turun 1,90 ke level 67.101,83, Shanghai Composite bertambah 0,48% ke level 4.064,43 sementara Hang Seng turun 1,41% ke level 25.272,14.
Daftar top gainer siang ini:
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik 4,83% ke Rp 760.
- PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) naik 3,07% ke Rp 1.345.
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) naik 2,29% ke Rp 2.230.
Daftar top loser siang ini:
- PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) turun 14,93% ke Rp 4.360.
- PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) turun 14,09% ke Rp 256.
- PT Samindo Resources Tbk (MYOH) turun 12,92% ke Rp 1.045.