Investor kawakan Lo Kheng Hong memanfaatkan pelemahan harga saham untuk menambah koleksi saham di portofolionya. Di tengah koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak Februari 2026, Lo tercatat terus mengakumulasi saham PT ABM Investama Tbk (ABMM), PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dan PT Intiland Development Tbk (DILD).

Berdasarkan data kepemilikan efek di atas 5% yang tercatat dalam Single Investor Identification (SID) publik, Lo Kheng Hong terus menambah kepemilikannya di sejumlah saham sepanjang Februari hingga Juni 2026.

Pada saham PT ABM Investama Tbk (ABMM), kepemilikan Lo meningkat dari 154,53 juta saham atau setara 5,61% pada 9 Februari 2026 menjadi 155,72 juta saham atau 5,66% per 5 Juni 2026. Dengan demikian, Lo menambah sekitar 1,18 juta saham ABMM dalam periode tersebut.

Aksi akumulasi lainnya dilakukan Lo pada saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL). Kepemilikannya naik dari 207,95 juta saham atau 5,97% pada 18 Februari 2026 menjadi 236,72 juta saham atau 6,79% per 5 Juni 2026. Artinya, Lo memborong sekitar 28,77 juta saham GJTL dalam kurun waktu kurang dari empat bulan.

Sementara itu, pada saham PT Intiland Development Tbk (DILD) kepemilikannya bertambah dari 696,04 juta saham atau 6,71% pada 5 Maret 2026 menjadi 761,13 juta saham atau 7,34% per 5 Juni 2026. Dengan demikian, investor yang dijuluki Warren Buffett Indonesia itu mengakumulasi sekitar 65,09 juta saham DILD selama tiga bulan terakhir.

Di sisi lain, Lo tercatat mengurangi kepemilikan pada PT Global Mediacom Tbk (BMTR). Pada 24 April 2026, kepemilikannya turun dari 1,067 miliar saham atau 6,44% menjadi 1,066 miliar saham atau 6,43%.

Aksi akumulasi Lo terjadi di tengah tekanan besar yang melanda pasar saham domestik. Sejak awal tahun, IHSG telah terkoreksi lebih dari 30% yang mencerminkan tingginya tekanan jual, terutama dari investor asing.

Meski demikian, investor yang dijuluki Warren Buffett Indonesia itu justru melihat pelemahan pasar sebagai peluang untuk menambah investasi. Menurut Lo, penurunan harga saham seharusnya dimanfaatkan investor untuk melakukan pembelian, bukan menjual saham dalam kondisi rugi.

“Beli! Ketika saham lagi turun mesti beli. Saham yang turun itu peluang emas,” ujar Lo Kheng Hong saat ditemui Katadata.co.id di Jakarta, Rabu (29/4).

Ia menilai aksi cut loss ketika harga saham sudah jatuh justru menjadi keputusan yang kurang tepat bagi investor yang berorientasi jangka panjang. Selain mengungkapkan strateginya menghadapi gejolak pasar, Lo juga menyebut sejumlah sektor yang masih menarik untuk dikoleksi pada saat ini.

Menurut dia, sektor perbankan tetap memiliki prospek yang baik didukung fundamental yang kuat. Selain itu, saham-saham berbasis komoditas juga masih menarik, terutama yang bergerak di sektor batu bara dan kelapa sawit.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri