28 Saham RI Jadi Pilihan SWF Global, Norwegia Masih Dominan
Investor institusi berbasis negara atau sovereign wealth fund (SWF) tercatat masih memiliki eksposur terhadap sejumlah saham di pasar modal Indonesia. Berdasarkan data kepemilikan saham di atas 1% dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 29 Mei 2026, terdapat 28 saham emiten domestik yang tercatat dimiliki oleh investor dengan klasifikasi SWF.
Kepemilikan tersebut didominasi oleh Pemerintah Norwegia yang juga menjadi pengelola dana kekayaan negara terbesar di dunia. Investor asal Skandinavia itu tercatat menjadi pemegang saham di sebagian besar daftar saham SWF yang masuk ke pasar modal Indonesia.
Selain Norwegia, terdapat pula kepemilikan dari Indonesia Investment Authority (INA), Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), serta Best Investment Corporation yang tercatat sebagai SWF asal Cina. Kehadiran investor negara tersebut menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi modal oleh institusi global untuk jangka panjang.
Dari sisi nilai kepemilikan, saham perbankan menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian besar. INA tercatat memiliki saham Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan kepemilikan masing-masing mencapai 3,63% dan 8%.
Sementara itu, Pemerintah Norwegia tercatat memiliki portofolio yang tersebar mulai dari sektor perbankan, konsumer, kesehatan, properti, telekomunikasi, hingga industri dasar. Strategi tersebut mencerminkan pola investasi SWF yang umumnya berorientasi pada diversifikasi aset dan investasi jangka panjang.
Saham dengan kepemilikan SWF terbesar berdasarkan jumlah lembar saham antara lain BMRI yang dimiliki INA sebanyak 7,46 miliar saham, BBRI sebanyak 5,49 miliar saham oleh INA, serta Dayamitra Telekomunikasi Tbk sebanyak 3,46 miliar saham oleh Abu Dhabi Investment Authority.
Untuk investor Norwegia, beberapa kepemilikan terbesar tercatat pada Sentul City Tbk (BKSL) dengan 1,99 miliar saham, Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan 1,24 miliar saham, serta Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) dengan 206,36 juta saham.
Kendati secara persentase kepemilikan mayoritas berada di kisaran 1-3%, masuknya SWF sering menjadi perhatian investor karena dianggap mencerminkan tingkat kepercayaan institusi global terhadap prospek perusahaan maupun pasar modal suatu negara.
Kehadiran SWF juga menunjukkan bahwa saham-saham Indonesia tidak hanya menjadi target investor ritel dan institusi domestik, tetapi juga masuk dalam radar pengelola dana negara dengan mandat investasi jangka panjang.
Berikut daftar lengkap 28 saham Indonesia yang tercatat dimiliki oleh investor dengan klasifikasi SWF:
Saham-saham SWF global di pasar modal RI. (Sumber: KSEI, penyajian data diolah menggunakan AI/ChatGPT)