Metodologi Baru HSC Ubah Peta Investasi di Bursa, Investor Selektif Pilih Saham
Peta investasi di pasar modal Indonesia akan berubah setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) memperbarui metodologi penilaian daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Pembaruan tersebut dinilai akan mendorong investor lebih selektif dalam memilih saham.
HSC adalah daftar emiten di BEI yangs ebagian besar sahamnya terkonsesntrasi pada sedikit pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data itu dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif serta memenuhi standar investor global.
Dalam metodologi baru itu, BEI menambahkan indikator price impact ratio untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Melalui indikator tersebut, bursa akan menyaring saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi saham itu masuk kategori HSC.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yaitu rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi suatu saham, semakin rendah pula nilai velocity-nya.
"Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC," kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).
Evaluasi menggunakan indikator price impact ratio akan dilakukan setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Peninjauan tersebut mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.
Sementara itu, trigger factor yang selama ini digunakan dalam pengawasan tetap berlaku untuk seluruh saham dan dilakukan secara insidental, tidak mengikuti jadwal evaluasi berkala.
Usai menggunakan metodologi baru tersebut, BEI menambah 37 saham ke dalam daftar HSC. Alhasil, jumlah saham yang masuk kategori HSC meningkat dari 14 menjadi 51 emiten.
HSC Jadi Pertimbangan Baru dalam Peta Investasi Investor
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, masuknya suatu saham ke dalam kategori HSC tentu akan memengaruhi persepsi investor. Namun, besarnya dampak akan bergantung pada karakteristik masing-masing emiten.
Menurut Hendra, label HSC menjadi sinyal bahwa saham itu memiliki potensi volatilitas yang tinggi dibandingkan saham dengan kepemilikan yang lebih tersebar. Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati.
"Namun, HSC bukan berarti saham tersebut bermasalah atau tidak layak diinvestasikan. Bagi investor yang mengedepankan manajemen risiko, kategori HSC akan menjadi salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi, tetapi bukan satu-satunya faktor," kata Hendra dalam keterangannya, Kamis (16/7).
Dia menegaskan, fundamental perusahaan, prospek bisnis, valuasi, kualitas tata kelola serta likuiditas perdagangan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan kelayakan investasi. Karena itu, saham dengan fundamental yang kuat diperkirakan tetap diminati meski masuk daftar HSC. Sebaliknya, saham yang fundamentalnya lemah berpotensi menghadapi tekanan sentimen lebih besar.
Hendra juga menilai status HSC tidak otomatis membuat harga saham turun ataupun naik. Dalam jangka pendek, volatilitas memang dapat meningkat karena sebagian investor mengurangi eksposur sebagai langkah antisipasi. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, arah pergerakan harga tetap lebih ditentukan oleh kinerja fundamental dan prospek bisnis perusahaan.
"Investor hanya perlu menyesuaikan strategi investasi dengan mempertimbangkan potensi fluktuasi harga yang mungkin lebih tinggi," ujarnya.
Pembaruan Metodologi HSC Perkuat Kredibilitas Pasar Modal
Hendra menilai penyempurnaan metodologi HSC termasuk penambahan indikator price impact ratio merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pengawasan pasar modal. Apalagi masukan yang diberikan pengelola indeks global seperti MSCI dan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI).
Menurut dia, pendekatan baru tersebut membuat identifikasi saham dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi menjadi lebih akurat karena tidak hanya mempertimbangkan komposisi kepemilikan, tetapi juga hubungan antara perubahan harga dan aktivitas transaksi.
Hendra mengatakan kebijakan tersebut mencerminkan komitmen regulator pasar modal dalam memperkuat integritas pasar sehingga berpotensi meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.
Kendri demikian, Hendra mengingatkan, penyempurnaan metodologi HSC bukan satu-satunya faktor yang menentukan daya tarik Indonesia di mata investor global. Likuiditas pasar, kemudahan akses investasi, kepastian regulasi, perlindungan investor serta konsistensi reformasi pasar modal juga menjadi faktor penting.
"Pengetatan kriteria HSC merupakan langkah positif yang memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia dan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan daya saing pasar keuangan nasional di tingkat global," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah Elandry Pratama. Menurut dia, penyempurnaan metodologi HSC merupakan langkah positif untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pengawasan pasar.
Dalam jangka pendek, kebijakan tersebut berpotensi memicu volatilitas pada sejumlah saham akibat penyesuaian sentimen pasar. Namun, dalam jangka panjang, langkah itu diyakini dapat meningkatkan kepercayaan investor.
"HSC sebaiknya menjadi salah satu indikator risiko, sementara keputusan investasi tetap mengacu pada fundamental dan valuasi emiten," ujar Elandry.
Daftar Lengkap 51 Emiten yang Masuk HSC
Berikut 34 emiten baru yang masuk daftar HSC per 14 Juli:
| No. | Kode Emiten | Perusahaan | Terkonsentrasi (%) |
| 1 | AGII | PT Samator Indo Gas Tbk | 97,75% |
| 2 | ALII | PT Ancara Logistics Indonesia Tbk | 97,62% |
| 3 | BBHI | PT Allo Bank Indonesia Tbk | 92,71% |
| 4 | BBSI | PT Krom Bank Indonesia Tbk | 99,95% |
| 5 | BELI | PT Global Digital Niaga Tbk | 93,83% |
| 6 | BINA | PT Bank Ina Perdana Tbk | 94,79% |
| 7 | BNII | PT Bank Maybank Indonesia Tbk | 99,14% |
| 8 | BNLI | PT Bank Permata Tbk | 99,92% |
| 9* | BREN | PT Barito Renewables Energy Tbk | 97,31% |
| 10 | BTPN | PT Bank SMBC Indonesia Tbk | 99,78% |
| 11 | BYAN | PT Bayan Resources Tbk | 98,50% |
| 12 | CMNP | PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk | 96,64% |
| 13 | CMNT | PT Cemindo Gemilang Tbk | 99,41% |
| 14 | DCII | PT DCI Indonesia Tbk | 99,96% |
| 15* | DGWG | PT Delta Giri Wacana Tbk | 97,35% |
| 16 | DNET | PT Indoritel Makmur Internasional Tbk | 98,06% |
| 17* | DSSA | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | 95,76% |
| 18 | ELPI | PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk | 98,90% |
| 19 | FAPA | PT FAP Agri Tbk | 99,77% |
| 20 | FILM | PT MD Entertainment Tbk | 92,98% |
| 21 | FITT | PT Hotel Fitra International Tbk | 95,00% |
| 22 | GEMS | PT Golden Energy Mines Tbk | 99,24% |
| 23* | HATM | PT Habco Trans Maritima Tbk | 96,09% |
| 24 | IFSH | PT Ifishdeco Tbk | 99,77% |
| 25 | KING | PT Hoffmen Cleanindo Tbk | 98,40% |
| 26 | KONI | PT Perdana Bangun Pusaka Tbk | 95,08% |
| 27 | LIFE | PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk | 99,21% |
| 28 | MCOL | PT Prima Andalan Mandiri Tbk | 98,62% |
| 29 | MEGA | PT Bank Mega Tbk | 95,68% |
| 30* | MGLV | PT Panca Anugrah Wisesa Tbk | 95,94% |
| 31* | MGRO | PT Mahkota Group Tbk | 93,76% |
| 32 | MKPI | PT Metropolitan Kentjana Tbk | 97,02% |
| 33 | MLPT | PT Multipolar Technology Tbk | 99,42% |
| 34 | MORA | PT Ekamas Mora Republik Tbk | 95,65% |
| 35 | MPRO | PT Maha Properti Indonesia Tbk | 99,99% |
| 36 | PGUN | PT Pradiksi Gunatama Tbk | 99,95% |
| 37 | POLU | PT Golden Flower Tbk | 99,94% |
| 38 | PRAY | PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk | 99,84% |
| 39 | RISE | PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk | 98,03% |
| 40* | RLCO | PT Abadi Lestari Indonesia Tbk | 95,35% |
| 41* | ROCK | PT Rockfields Properti Indonesia | 99,85% |
| 42 | SATU | PT Kota Satu Properti Tbk | 94,27% |
| 43 | SILO | PT Siloam International Hospitals Tbk | 96,70% |
| 44 | SMAR | PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk | 99,58% |
| 45 | SOHO | PT Soho Global Health Tbk | 99,93% |
| 46* | SOTS | PT Satria Mega Kencana Tbk | 98,35% |
| 47 | SRAJ | PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk | 97,21% |
| 48 | STTP | PT Siantar Top Tbk | 94,95% |
| 49* | TCPI | PT Transcoal Pacific Tbk | 94,10% |
| 50* | WBSA | PT BSA Logistics Indonesia Tbk | 95,82% |
| 51 | YUPI | PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk | 99,91% |
*daftar HSC yang masuk sebelum 14 Juli 2026.