Laba Adhi Karya (ADHI) Anjlok dan Utang Tembus Rp 24 T, Siapkan Divestasi Aset
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menguraikan kinerja keuangan sepanjang semester I 2026. Di tengah tekanan kinerja dan beban utang yang mencapai Rp 24 triliun, ADHI juga menyiapkan strategi divestasi sejumlah aset dan portofolio noninti yang dimilki emiten konstruksi itu.
Berdasarkan laporan keuangan hingga 30 Juni 2026, pendapatan usaha ADHI tercatat sebesar Rp 3,11 triliun sepanjang semester I 2026. Realisasi ini anjlok 18,35% yoy dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,81 triliun.
Seiring dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan ADHI turun 25,54% yoy menjadi Rp 2,41 triliun dari sebelumnya Rp 3,23 triliun. Kondisi ini membuat laba bruto perseroan naik 22,65% yoy menjadi Rp 700,42 miliar dari Rp 572,87 miliar.
Kemudian ADHI membukukan laba usaha Rp 316,17 miliar, naik 67,41% yoy dibandingkan dengan semester pertama 2025 yang sebesar Rp 188,85 miliar.
Namun, kinerja perseroan tertekan oleh beban keuangan yang naik 2,77% yoy menjadi Rp 349,16 miliar dari Rp 339,81 miliar. Selain itu, rugi entitas asosiasi meningkat menjadi Rp 23,92 miliar dari Rp 3,36 miliar.
Alhasil, laba sebelum pajak ADHI anjlok 17,09% yoy menjadi Rp 20,55 miliar dari sebelumnya Rp 24,79 miliar. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan, laba tahun berjalan perseroan turun 10,57% menjadi Rp 17,51 miliar dari Rp 19,58 miliar.
Kemudian laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 8,49 miliar, naik 12,56% yoy dibandingkan dengan Rp 7,54 miliar tahun lalu. Namun apabila dibandingkan dengan kuartal pertama 2026 ini, laba itu rontok hingga 94,49% dari Rp 154 miliar pada kuartal pertama 2026.
Danantara juga pernah membeberkan ADHI catat laba Rp 69 miliar hingga April 2026. Apabila kalkulasikan sejak pengumuman Danantara itu, laba ADHI justru anjlok hingga 87,70%.
Porsi Utang ADHI Rp 24 Triliun
Dari sisi neraca, total liabilitas ADHI tercatat sebesar Rp 24,21 triliun per 30 Juni 2026, turun 5,04% dibandingkan dengan posisi akhir 2025 Rp 25,5 triliun.
Liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp 17,02 triliun, turun 12,51% dari Rp 19,45 triliun. Secara rinci, utang usaha pihak ketiga Rp 3,94 triliun, utang bank dan lembaga keuangan lainnya jangka panjang melonjak 82,35% menjadi Rp 2,51 triliun dari Rp 1,37 triliun. Selain itu, utang ventura bersama naik 18,13% menjadi Rp 274,96 miliar dari Rp 232 miliar.
Sementara itu, liabilitas jangka panjang ADHI meningkat 19,08% menjadi Rp 7,19 triliun dari Rp 6,03 triliun. Utang obligasi jangka panjang tercatat sebesar Rp 3,14 triliun.
Kemudian jumlah ekuitas ADHI tercatat Rp 3,31 triliun hingga Juni 2026. Jumlah aset emiten BUMN itu tercatat turun dari Rp 28,79 triliun menjadi Rp 27,52 triliun hingga Juni 2026. Kas dan setara kas pada awal tahun tercatat Rp 1,71 triliun, namun pada akhir periode tercatat Rp 813,09 miliar.
Sejalan dengan upaya memperkuat kondisi keuangan, ADHI juga menyiapkan divestasi sejumlah aset dan portofolio noninti. Langkah itu menindaklanjuti arahan pemegang saham agar ADHI untuk kembali fokus pada bisnis inti sekaligus memperkuat posisi keuangan grup.
Manajemen berencana melepas sejumlah kepemilikan saham dan aset non-saham yang tidak terkait dengan bisnis inti perseroan. Aset yang masuk dalam rencana divestasi di antaranya penyertaan saham di PT Jasamarga Jogjasolo, PT Dumai Tirta Persada, dan PT Jasamarga Jogja Bawen. Selain itu, ADHI juga berencana melepas kepemilikan aset hotel serta sejumlah aset noninti lainnya.
“Grup merencanakan realisasi dari divestasi ini akan terjadi secara bertahap dalam kurun waktu maksimal 2 tahun yang akan datang,” tulis dalam laporan keuangannya, dikutip Rabu (22/7).
Tak hanya itu, Grup juga telah menyusun langkah penyehatan, yang salah satunya dapat dilakukan melalui dukungan pemegang saham. Dukungan tersebut diharapkan dapat diberikan dalam bentuk tunai maupun non-tunai. Hingga saat ini, proses untuk memperoleh dukungan definitif tersebut masih dalam tahap pembahasan.