Adu Laba 5 Emiten Grup Bakrie, BUMI, BRMS, VKTR hingga ELTY
Lima emiten dari Grup Bakrie telah melaporkan kinerja keuangan hingga semester pertama 2026. Performa mereka pun beragam, ada yang mencetak kenaikan laba yang tinggi, penurunan laba, hingga rugi yang kian membengkak.
Tak hanya itu, ada perusahaan yang justru mengalirkan laba lebih besar kepada nonpengendali dibandingkan kepada pemilik entitas induk. Apa arti di balik realisasi tersebut?
Kelima perusahaan tersebut adalah PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
Kerajaan bisnis Grup Bakrie saat ini dipegang oleh generasi ketiga. yaitu Anindya Novyan Bakrie. Grup ini mulanya didirikan oleh Achmad Bakrie sebagai perusahaan perdagangan umum pada 1942, kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Aburizal Bakrie.
Bisnis Grup Bakrie seperti gurita yang memegang banyak lini usaha seperti pertambangan batu bara dan emas, perdagangan umum, jasa konstruksi, agribisnis, minyak dan gas (migas), serta telekomunikasi.
Yang terbaru, Grup Bakrie mulai memperluas bisnis sektor kendaraan listrik (EV) serta data center. Namun belum semua bisnis tersebut melaporkan kinerjanya, dari 12 perusahaan Bakrie yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), baru lima yang sudah melaporkan kinerja keuangan mereka di paruh pertama tahun ini.
VKTR
VKTR adalah perusahaan yang berfokus pada perdagangan besar mobil dan sepeda motor berbasis listrik (EV). Bisnisnya termasuk penjualan suku cadang, aksesori dan jasa industri karoseri kendaraan roda empat atau lebih. Perseroan saat ini menjadi pilar bisnis Grup Bakrie menuju bisnis hijau.
VKTR membukukan penjualan neto Rp 646,62 miliar pada paruh pertama 2026. Torehan tersebut melonjak 56,17% dibandingkan dengan penjualan perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 414,03 miliar.
Pendapatan perseroan tersebut berasal dari penjualan perdagangan komponen suku cadang dan besi bekas sebesar Rp 533,53 miliar dan penjualan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai sebesar Rp 114,72 miliar. Dari total tersebut kemudian dikurangi diskon dan retur sebesar Rp 1,63 miliar.
Perseroan membukukan beban pokok penjualan sebesar Rp 534,17 miliar, naik dari Rp 334,90 miliar secara tahunan atau year on year (YoY).
VKTR membukukan laba neto sebesar Rp 10,08 miliar, naik 25% YoY dari Rp 8,05 miliar. Dari total tersebut, Rp 1,12 miliar diberikan kepada pemilik entitas induk, sementara sisanya Rp 8,95 miliar diberikan kepada nonpengendali atau setara dengan 88,79% dari total laba perseroan.
Besarnya porsi laba yang dinikmati pemegang saham nonpengendali mencerminkan struktur kepemilikan VKTR di sejumlah anak usaha yang belum sepenuhnya dimiliki perseroan. Anak usaha tersebut justru menjadi kontributor utama terhadap laba konsolidasi.
Pada 2025, misalnya, PT VKTR Sakti Industries (VSI) menerima tambahan modal sebesar Rp 100 miliar dari pemegang saham nonpengendali sehingga meningkatkan porsi kepentingan nonpengendali dalam ekuitas.
VKTR memiliki tiga anak usaha dengan kepemilikan yang tidak mencapai 100%, yakni PT VKTR Sakti Industries (VSI), PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI), dan PT Braja Mukti Cakra (BMC).
Di VSI yang bergerak di bidang perakitan kendaraan bermotor, VKTR menguasai 60% saham sehingga masih terdapat kepentingan nonpengendali sebesar 40%.
Sementara itu, kepemilikan VKTR di SEI yang bergerak di bidang perdagangan besar dan penyewaan kendaraan bermotor meningkat dari 51% pada akhir 2025 menjadi 99,99% per 30 Juni 2026.
Adapun di BMC yang bergerak di industri suku cadang dan aksesori kendaraan, VKTR memiliki kepemilikan tidak langsung melalui PT Bakrie Autoparts sebesar 50%. Artinya, separuh laba BMC menjadi hak pemegang saham nonpengendali dan tidak seluruhnya dapat diakui sebagai laba yang diatribusikan kepada pemegang saham VKTR.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa meskipun laba konsolidasi VKTR meningkat pada semester pertama 2026, porsi laba yang benar-benar menjadi hak pemegang saham induk masih relatif kecil.
BUMI
Di bisnis tambang, Grup Bakrie memiliki perusahaan patungan bersama Grup Salim yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI). BUMI membukukan pendapatan yang meningkat 27,9% YoY menjadi US$ 866,8 juta (atau setara Rp 1,55 triliun) dari US$ 677,9 juta. Kenaikan pendapatan diikuti beban pokok pendapatan yang naik menjadi US$ 720,8 juta dari US$ 570,9 juta.
Laba usaha melonjak 50,3% menjadi US$ 83,1 juta dari US$ 55,3 juta. Sementara margin usaha meningkat menjadi 9,6% dari 8,2% pada periode yang sama tahun lalu. Alhasil, laba sebelum pajak naik lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 104,3 juta sedangkan laba bersih naik 87,4% YoY menjadi US$ 72,3 juta.
Kinerja yang menjadi hak pemegang saham induk tumbuh lebih tinggi lagi. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat 188,4% menjadi US$ 58,9 juta dari US$ 20,4 juta pada paruh pertama 2025. Perseroan menyebut kenaikan tersebut turut ditopang kontribusi aset baru di Australia yang belum masuk dalam basis pembanding tahun lalu.
Secara operasional, produksi batu bara meningkat 7,1% YoY menjadi 38,5 juta ton, sedangkan volume penjualan naik lebih tinggi, yakni 11,7% menjadi 38,8 juta ton. Penjualan yang melampaui produksi mencerminkan permintaan yang tetap kuat sehingga persediaan batu bara turun menjadi 1,7 juta ton dari 2,7 juta ton setahun sebelumnya. Di saat yang sama, harga jual rata-rata (FOB) membaik menjadi US$ 62,9 per ton dari US$ 61,3 per ton.
Menurut perseroan, pertumbuhan volume produksi dan penjualan, perbaikan harga jual serta peningkatan efisiensi penambangan menjadi faktor utama yang mendorong ekspansi marjin. Hal itu tercermin dari membaiknya strip ratio menjadi 7,5 kali dari 8,1 kali, yang menunjukkan perusahaan mampu menghasilkan lebih banyak batu bara tanpa peningkatan signifikan pada volume pengupasan tanah penutup (overburden).
Hingga akhir semester pertama 2026, realisasi penjualan batu bara BUMI telah mencapai sekitar separuh target tahunan sebesar 82–84 juta ton. Sementara itu, harga jual rata-rata sebesar US$ 62,9 per ton juga berada di kisaran atas proyeksi perusahaan untuk sepanjang tahun, yakni US$ 60–62 per ton.
Perseroan menargetkan biaya produksi tetap terjaga di kisaran US$ 42–44 per ton serta melanjutkan strategi diversifikasi, termasuk integrasi aset yang baru diakuisisi di Australia.
BRMS
BRMS membukukan penurunan penjualan menjadi US$ 95,79 juta. Nilai tersebut turun 20,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 120,85 juta.
Pelemahan penjualan turut menekan profitabilitas perusahaan. Laba bruto menyusut 23,3% YoY menjadi US$ 55,40 juta dari US$ 72,22 juta pada semester pertama 2025.
Laba bersih periode berjalan anjlok 41,3% YoY menjadi US$ 13,28 juta dibandingkan US$ 22,27 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 43,8% menjadi US$ 12,92 juta dari US$ 22,97 juta pada semester pertama 2025.
UNSP
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan penjualan sebesar Rp 1,28 triliun, naik 12,13% YoY dari Rp 1,14 triliun.
Kenaikan pendapatan tersebut terutama ditopang oleh bisnis kelapa sawit dan produk turunannya yang menyumbang Rp 1,23 triliun, meningkat dari Rp 1,06 triliun secara tahunan. Sebaliknya, penjualan dari segmen karet turun menjadi Rp 45,42 miliar dari sebelumnya Rp 85,52 miliar.
Meskipun penjualan tumbuh, perseroan justru berbalik merugi. UNSP membukukan rugi bersih sebesar Rp 264,77 miliar, berbanding terbalik dengan laba bersih Rp 16,18 miliar pada semester pertama tahun lalu.
Kinerja tersebut dipicu oleh membengkaknya beban di luar operasional. Perseroan mencatat rugi selisih kurs sebesar Rp 297,96 miliar, melonjak hampir sembilan kali lipat dibandingkan rugi kurs Rp 33,26 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, beban keuangan masih tinggi meski sedikit menurun menjadi Rp 67,23 miliar dari Rp 63,95 miliar. Beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp 174,20 miliar dari Rp 156,07 miliar.
Akibat lonjakan rugi kurs tersebut, UNSP membukukan rugi sebelum pajak sebesar Rp 214,60 miliar, berbalik dari laba sebelum pajak Rp 46,75 miliar secara yoy. Setelah memperhitungkan beban pajak sebesar Rp 50,18 miliar, rugi bersih perseroan menjadi Rp 264,77 miliar.
ELTY
Adapun PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) masih membukukan rugi pada semester pertama 2026. Kerugiannya bahkan membengkak. Meskipun pendapatan tumbuh, peningkatan tersebut belum mampu mengangkat perseroan keluar dari zona "boncos".
ELTY membukukan pendapatan neto sebesar Rp 731,07 miliar, naik 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 702,35 miliar.
Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari bisnis sewa dan pengelolaan properti perkantoran senilai Rp 454,41 miliar atau sekitar 62% dari total pendapatan.
Sumber pendapatan terbesar berikutnya berasal dari bisnis hotel, makanan, dan minuman sebesar Rp 121,44 miliar. Lalu disusul penjualan tanah, rumah, dan apartemen sebesar Rp 73,49 miliar; sewa ruangan, lapangan, dan iuran keanggotaan sebesar Rp 49,31 miliar, serta; taman hiburan senilai Rp 32,43 miliar.
Seiring dnegan naiknya pendapatan, beban pokok pendapatan meningkat menjadi Rp 511,74 miliar dari Rp 473,03 miliar secara YoY. Perseroan juga masih menanggung beban operasional dan keuangan yang besar.
Beban umum dan administrasi ELTY pada paruh pertama tahun ini mencapai Rp 171,17 miliar. Sementara beban bunga dan keuangan tercatat Rp 41,95 miliar. Selain itu, ELTY membukukan rugi selisih kurs bersih sebesar Rp 7,85 miliar dan bagian rugi entitas asosiasi sebesar Rp 5,35 miliar.
Akibatnya, rugi sebelum pajak melebar menjadi Rp 23,18 miliar. Setelah memperhitungkan beban pajak sebesar Rp 4,46 miliar, rugi bersih perseroan mencapai Rp 27,64 miliar, meningkat sekitar 12,5% dibandingkan rugi bersih periode sebelumnya Rp 24,57 miliar.
Sebagian besar kerugian tersebut ditanggung oleh pemegang saham induk. Dari total rugi bersih Rp 27,64 miliar, sekitar Rp 18,05 miliar atau 65,3% diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Sementara Rp 9,58 miliar atau 34,7% menjadi porsi kepentingan nonpengendali.