Kredit BNI (BBNI) Melejit 24,4% Jadi Rp 968,5 Triliun, LAR Turun Tajam Jadi 8,1%

Dok BNI
Pemandangan umum Gedung Menara BNI di kawasan Pejompongan, Jakarta.
Penulis: Ahmad Islamy
5/8/2026, 10.42 WIB

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI mencatat pertumbuhan kredit 24,4% secara tahunan menjadi Rp 968,5 triliun pada semester I 2026. Ekspansi tersebut dibarengi dengan perbaikan kualitas aset, dengan rasio loan at risk (LAR) turun dari 11% menjadi 8,1%.

Pertumbuhan kredit BNI ditopang portofolio yang semakin terdiversifikasi di berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis, mulai dari korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer. Perseroan juga menjaga ekspansi kredit secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko debitur.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, strategi intermediasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan perseroan.

"Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio," ungkap Paolo dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026).

Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, dana murah atau current account savings account (CASA) BNI tumbuh 11,2% secara tahunan. Rasio CASA pun tetap terjaga pada level 65,4%.

Penguatan dana murah tersebut turut menekan biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga BNI membaik menjadi 2,56%, dari 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan Inti dan Laba Menguat

Kinerja BNI juga ditopang pertumbuhan pendapatan inti. Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 14,2% secara tahunan menjadi Rp 22,3 triliun.

Pada saat yang sama, pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) tumbuh 14,2% menjadi Rp 9 triliun.

Pertumbuhan pendapatan bunga dan nonbunga tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp 18,5 triliun. Nilai tersebut menjadi PPOP tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama.

Adapun laba bersih BNI pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp 10,8 triliun. Paolo mengatakan, penguatan profitabilitas menunjukkan kontribusi bisnis inti BNI yang semakin solid dan berimbang.

"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," ujar Paolo.

Kualitas Aset Membaik

Seiring dengan ekspansi kredit, kualitas aset BNI juga menunjukkan perbaikan. LAR turun menjadi 8,1% pada akhir Juni 2026 dari 11% sebelumnya, sedangkan rasio non-performing loan (NPL) berada di level 1,9%.

BNI mempertahankan kebijakan pencadangan konservatif untuk memperkuat ketahanan neraca dan menjaga ruang bagi perseroan untuk melakukan ekspansi secara sehat.

Direktur Risk Management BNI, David Pirzada menuturkan, perbaikan kualitas aset merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin di seluruh tahapan proses bisnis.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat," ujar David.

Transaksi Digital BNI Melonjak

Di sisi digital, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta hingga akhir Juni 2026. Volume transaksi melalui aplikasi tersebut tumbuh 110% secara tahunan. Sementara itu, jumlah pengguna BNIdirect di segmen wholesale mencapai 280 ribu. Volume transaksi melalui platform tersebut meningkat 17% secara tahunan menjadi Rp 6.039 triliun.

BNI juga telah menerapkan Program Branch, Region & Area Value Empowerment (BRAVE) di seluruh wilayah operasional. Program tersebut ditujukan untuk memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan sekaligus meningkatkan produktivitas jaringan dan mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan menuturkan, perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama.

Menurut dia, strategi tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, tata kelola profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan. 

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan memperkuat struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin. Perseroan juga akan melanjutkan transformasi BRAVE dan digital untuk meningkatkan produktivitas serta memperkuat fundamental bisnis, sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.