Fengshui vs Makroekonomi, ke Mana IHSG Bakal Berlabuh hingga Akhir 2026?
Ramalan fengshui di Tahun Kuda Api menyebut pasar saham Indonesia berpeluang memasuki tren bullish pada semester kedua 2026. Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga pertengahan tahun ini masih dihadapkan berbagai sentimen.
Sentimen itu datang mulai dari sisi kebijakan pemerintah, kondisi makroekonomi yang masih dibayangi suku bunga global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga keluarnya arus modal asing.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, bila berkaca pada data makroekonomi Indonesia, di semester kedua ini akan pasar modal RI justru dihadapi berbagai tantangan.
Apalagi, ia menyoroti kondisi negara yang kemungkinan mengalami defisit fiskal, inflasi yang kian tinggi, pelemahan rupiah hingga tingginya tingkat suku bunga. Alhasil, ia memproyeksikan pemerintah akan mendorong penerimaan pajak yang besar hingga akan menyebabkan ekonomi RI sulit naik signifikan.
“Jadi, kita kalau dikejar-kejar pajak kan juga pasti enggak mau spending (menghabiskan uang untuk belanja), kan? Berarti akan lebih berhati-hati dalam melakukan spending. Kalau perusahaan akan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi,” kata Rully di Jakarta, dikutip pada Kamis (20/8).
Dia tidak melihat prospek pasar saham hingga akhir tahun ini terlalu optimistis maupun pesimistis. Menurutnya, kondisi makro masih dihadapkan dengan tekanan dari tingginya inflasi dan pelemahan rupiah.
Dari sisi konsumsi, dia memperkirakan daya beli masyarakat tidak akan jatuh, tetapi cenderung stagnan. Kendati demikian, ia memperkirakan konsumsi juga akan sulit tumbuh signifikan apabila inflasi masih tinggi dan rupiah terus melemah.
Rully pun menyoroti sektor perbankan, terutama bank-bank anggota Himpunan Bank Negara atau Himbara. Mirae Asset hingga kini belum banyak mengubah proyeksinya. Rully mengatakan, pihaknya masih memberikan target IHSG berada di level 6.800, sedangkan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS pada akhir tahun ini.
Menurutnya, dampak dari kondisi makroekonomi tersebut akan lebih terasa pada semester II 2026 dan berpotensi berlanjut hingga 2027. “Jadi, kita ya mungkin upside potensialnya enggak tinggi-tinggi amat untuk IHSG. Tapi untuk turun signifikannya juga kita lihat mudah-mudahan sih enggak,” ucapnya.
Rully juga menilai perhatian investor mulai bergeser dari risiko global ke faktor domestik seiring meredanya tekanan eksternal. Kondisi itu membuat kualitas pertumbuhan ekonomi dan konsistensi kebijakan pemerintah semakin menentukan arah pasar.
Menurut dia, ruang penguatan pasar domestik masih terbuka, meski risikonya semakin berimbang. Investor akan mencermati realisasi fiskal, perkembangan inflasi, dan efektivitas penyaluran likuiditas ke sektor produktif. “Karena itu, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, kredibilitas fiskal, dan stabilitas nilai tukar menjadi semakin penting," ujar Rully.
Fengshui Ramal IHSG Bullish Akhir Tahun ini
Tahun Kuda Api dalam kalender Cina yang hanya datang tiap 60 tahun dianggap membawa energi dan peluang baru. Tak hanya itu, pasar modal Indonesia diproyeksikan bullish hingga akhir 2026 meski IHSG bergejolak.
Founder Feng Shui Consulting Indonesia, Yulius Fang, menilai Tahun 2026 menjadi periode yang penuh momentum, namun tetap membutuhkan kedisiplinan dalam mengelola keuangan. Ia mengatakan, Tahun Kuda Api membawa energi optimisme dan pergerakan cepat. Akan tetapi, kunci keberhasilan justru terletak pada strategi investor yang tenang dan masuk secara bertahap.
Menurut dia, tahun ini justru masih banyak investor yang fear of missing out (FOMO) atau takut ketinggalan. Ia juga meramal sesuatu akan mudah datang dan pergi. Karena itu, dia menyarankan investor sebaiknya mengatur arus kas dengan baik, menghindari sikap overconfidence, dan fokus pada pertumbuhan yang konsisten agar peluang yang muncul dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Slow and steady win the race, melangkah mantap menuju kemajuan akan memberikan hasil yang lebih berkelanjutan,” ujarnya dalam Market Outlook 2026 bertajuk Strategi Kuda Api: Siap Melaju, Menerjang Peluang Baru di Jakarta, 13 Februari lalu.
Yulius mengatakan, industri yang menarik pada Tahun Kuda Api didominasi elemen air dan kayu. Elemen air dinilai kuat seiring momentum sektor pariwisata yang mencetak rekor baru. Hal itu mencakup bidang minuman, kafe, perjalanan darat, hotel, transportasi, perkapalan, perikanan, hingga IT dan software.
Sementara itu, elemen kayu sektor transportasi, perhutanan, perkebunan, furnitur, dan percetakan. Menurutnya, kedua elemen tersebut berpotensi sama-sama berjaya sepanjang tahun ini. Elemen lain yang bisa dicermati adalah tanah dan api. Namun, Yulius juga menyinggung elemen yang diprediksi akan sulit tahun ini. "(Elemen) logam menantang, saya tidak menyarankan,” katanya.
Yulius juga memproyeksikan beberapa shio bakal menghadapi tekanan lebih besar tahun ini, seperti tikus, kerbau, ayam, kelinci, dan kuda. Shio-shio ini cenderung lebih mudah terbawa pikiran saat berbisnis atau trading.
Khusus tikus dan kerbau, tantangannya ada di pengelolaan uang sehingga perlu money management yang rapi dan lebih selektif saat memilih investasi. Sebaliknya, shio kambing dan anjing dinilai tengah berada di fase yang lebih hoki. Menurutnya shio kambing dan anjing disebut punya intuisi yang cukup tajam dalam membaca peluang investasi.
“Pada dasarnya shio hoki ini biasanya punya intuisi yang lebih bagus untuk bisa mendapatkan uang yang lebih banyak,” ucapnya.