Aksi Baru Emiten Properti REAL, Masuk Bisnis Data Center di Tengah Booming AI
Emiten sektor properti dan real estate PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) memperluas bisnis ke sektor pusat data atau data center. Langkah ini di tengah pesatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara global termasuk di Indonesia.
Manajemen REAL mengatakan pendirian PT Repower Global Sinergitama (RGST) merupakan langkah strategis untuk mendukung pengembangan dan pengelolaan aset properti, memperluas jaringan usaha, serta menciptakan peluang pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan properti digital berupa data center.
REAL mendirikan RGST sebagai anak usaha yang bergerak di bidang pusat data. Perusahaan tersebut didirikan berdasarkan hukum Republik Indonesia dan berkedudukan di Jakarta Selatan.
Pendirian RGST tercantum dalam Akta Pendirian Nomor 15 tanggal 19 Agustus 2026 yang dibuat oleh Notaris Rini Yulianti, S.H., di Jakarta. Pendirian tersebut telah memperoleh pengesahan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-0067156.AH.01.01.Tahun 2026 pada 20 Agustus 2026.
RGST memiliki modal dasar Rp 1 miliar yang terbagi menjadi 1.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp 1 juta per saham. Dari modal dasar tersebut, sebanyak 250 lembar saham telah ditempatkan dan disetor dengan nilai nominal seluruhnya Rp 250 juta.
Dalam kepemilikanya, REAL memiliki 249 saham RGST atau setara dengan 99,6% sahamnya, sementara PT Harmoni Harum Propertindo memiliki 1 sahamnya atau setara 0,4% sahamnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah menempatkan pengembangan akal imitasi (AI) sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru. Saat ini Indonesia telah mengantongi rencana investasi pusat data atau data center dengan kapasitas mencapai 1,3 gigawatt (GW), jauh di atas kapasitas yang telah beroperasi saat ini.
Airlangga pun menyatakan AI akan menjadi salah satu fokus pengembangan ekonomi Indonesia di tengah disrupsi teknologi global. Namun, pengembangan AI harus ditopang oleh ekosistem digital yang kuat, mulai dari energi hijau hingga infrastruktur konektivitas.
“Terkait dengan AI itu kuncinya dari ekosistem digital. Yang pertama tentu green energy, yang kedua infrastruktur antarpulau yang kita sudah punya, yaitu fiber optik,” kata Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (10/7).