Kabar Merger 2 Raksasa Menara MTEL dan TBIG Mencuat Lagi, Intip Prospeknya

ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/rwa.
Petugas melakukan pemeliharaan berkala menara (tower) telekomunikasi milik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) di Kawasan Industrial Batam, Kepulauan Riau, Senin (25/8/2025).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
24/8/2026, 12.40 WIB

Kabar rencana penggabungan usaha atau merger antara dua perusahaan menara telekomunikasi yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mencuat. MTEL disebut telah meminta sejumlah penasihat keuangan untuk mengajukan proposal terkait rencana merger tersebut.

Mengutip laporan Bloomberg, Senin (24/8), MTEL berencana memilih salah satu bank untuk membantu proses transaksi dalam beberapa pekan mendatang. Langkah ini kembali menguatkan kabar konsolidasi antara dua perusahaan yang bergerak di bisnis menara telekomunikasi itu.

Katadata telah meminta konfirmasi kepada pihak MTEL. Namun, hingga berita ini ditayangkan, perseroan belum memberikan jawaban.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai potensi merger MTEL dan TBIG cukup strategis bagi industri menara telekomunikasi. Menurut dia, penggabungan kedua perusahaan dapat menciptakan pemain dengan skala bisnis yang lebih besar.

“Secara industri, saya melihatnya cukup strategis karena dapat menciptakan pemain menara dengan skala yang jauh lebih besar, sehingga berpotensi menghasilkan economies of scale, efisiensi capex dan operasional, serta bargaining power yang lebih kuat terhadap operator telekomunikasi,” ujar Elandry kepada Katadata, Senin (24/8).

Menurut Elandry, struktur transaksi, valuasi, komposisi kepemilikan setelah merger, potensi dilusi serta persetujuan regulator menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan keberhasilan aksi korporasi tersebut.

Jika dilakukan dengan valuasi yang wajar dan sinergi dapat direalisasikan, merger MTEL dan TBIG berpotensi memberikan dampak positif bagi kedua perusahaan dalam jangka menengah hingga panjang. Aksi tersebut juga dapat membuka peluang terjadinya re-rating atau peningkatan valuasi saham.

Namun, Elandry mengingatkan investor agar tidak hanya mengandalkan sentimen dari kabar merger sebelum terdapat kejelasan mengenai struktur dan detail transaksi. “Kunci utamanya tetap ada pada struktur transaksi, valuasi, kepemilikan pasca-merger, potensi dilusi dan persetujuan regulator,” ujar Elandry.

Sementara itu, Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian mengatakan, wacana merger antarperusahaan menara itu menjadi sentimen yang sangat menarik di industri telekomunikasi. Sebab, aksi itu akan mempertemukan dua raksasa menara dari bursa yang masing-masing dikendalikan oleh grup Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan grup swasta, dalam hal ini Saratoga.

Dia menjelaskan, keterikatan bisnis kedua emiten ini kian erat, terlihat dari porsi kontribusi pendapatan TBIG yang berasal dari ekosistem Telkom Indonesia melesat dari 33% pada 2025 menjadi 63% pada semester pertama 2026.

“Jika merger jumbo ini terealisasi, sinergi tersebut tidak hanya memperkokoh ekosistem menara Telkom Group secara efisien, tetapi juga secara otomatis melahirkan pemain menara terbesar dan utama di Indonesia yang menguasai porsi penyewaan (tenancy) besar dari operator nonsistem seperti Indosat dan XL Smart,” ujar Azharys.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (24/8), kapitalisasi pasar MTEL mencapai Rp 37,93 triliun. Harga saham anak usaha Telkom itu ditutup naik 3,18% menjadi Rp 454 per saham. Namun, secara year to date (ytd), saham MTEL masih terkoreksi 35,14%.

Sementara itu, kapitalisasi pasar TBIG mencapai Rp 33,19 triliun. Secara year to date, saham emiten Grup Saratoga itu telah terkoreksi 45,52%.

Sebelumnya, Direktur Investasi Mitratel, Noorhayati Candrasuci mengatakan, perseroan masih mengevaluasi peluang konsolidasi dengan TBIG. Menurut dia, kedua perusahaan memiliki portofolio bisnis yang serupa sehingga terdapat potensi untuk menjajaki penggabungan usaha, meski pembahasannya masih berada pada tahap awal.

“Butuh waktu bisa sampai deal agak panjang berarti progresnya,” kata Noorhayati ketika ditemui di Jakarta, Selasa (30/6).

Rencana penggabungan MTEL dan TBIG bukan kali pertama mencuat. Kedua perusahaan sebelumnya juga pernah menjajaki merger, tetapi rencana tersebut gagal terealisasi pada 2015.

Saat ini, sekitar 71,83% saham MTEL dimiliki oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, MTEL mengelola lebih dari 40.230 menara. Pemerintah memiliki sekitar 52% saham Telkom Indonesia melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Sementara itu, sekitar 81,29% saham TBIG dimiliki Bersama Digital Infrastructure Asia Pte, platform yang dikendalikan Provident Capital, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), dan unit pengelolaan aset Macquarie Group Ltd. Wahana Anugerah Sejahtera memiliki 9,37% saham TBIG, sedangkan Bangkok Bank Public Company menggenggam 2,13% saham.

Kinerja Keuangan MTEL dan TBIG Semster I 2026

Seiring dengan rencana merger, kinerja keuangan kedua perusahaan tersebut sama-sama naik pada semester pertama 2026. Mengutip laporan kinerja keuangan masing-masing perusahaan, MTEL membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 1,11 triliun. Torehan tersebut naik tipis 1,83% dibandingkan dengan laba tahun berjalan perseroan pada periode yang saham tahun sebelumnya sebesar Rp 1,09 triliun

Kenaikan laba salah satunya ditopang pertumbuhan pendapatan menjadi Rp 4,69 triliun dari Rp 4,59 triliun secara tahunan atau year on year (yoy). Total aset perusahaan tercatat sebesar Rp 60,10 triliun.

Sementara itu, TBIG membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 863,71 miliar, naik 1,29% dari Rp 852,67 miliar secara yoy. Perseroan mencatatkan kenaikan pada pendapatan menjadi Rp 3,46 triliun dari Rp 3,45 triliun secara tahunan.

Perseroan mencatatkan total aset senilai Rp 48,24 hingga 30 Juni 2026.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri