Pundi-Pundi TOBA di Semester I 2026, Pendapatan Bisnis Electrum Melonjak 184%
PT TBS Energi Tbk (TOBA) membukukan pendapatan US$ 173,0 juta atau sekitar Rp 3,06 triliun pada semester pertama 2026 (asumsi kurs: Rp 17.693 per dolar AS). Angka itu naik tipis 0,47% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (YoY) sebesar US$ 172,21 juta atau setara Rp 3,05 triliun.
Pundi-pundi kinerja TOBA dipimpin dari bisnis nonbatu bara, terutama pengelolaan limbah dan diikuti ekosistem kendaraan listrik, berkontribusi 66,5%. Angka itu lebih dari dua kali lipat kontribusi bisnis batu bara sebesar 31,4%.
Sementara itu, rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyusut 83% YoY menjadi US$ 19,65 juta atau sekitar Rp 347,70 miliar pada semester pertama 2026, dari sebelumnya US$ 115,61 juta atau sekitar Rp 2,05 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Manajemen TOBA mengatakan, penyusutan kerugian itu disebabkan tidak berulangnya kerugian dari divestasi yang terjadi pada 2025. Meski masih membukukan rugi, TOBA menyebut kerugian pada semester I 2026 karena masih dalam proses transisi bisnis.
Kerugian nonkas berasal dari beban depresiasi dan amortisasi terkait akuisisi Cora Environment. Sementara kerugian berbasis kas berasal dari biaya pendanaan aksi merger dan akuisisi (M&A) demi mengembangkan bisnis infrastruktur berkelanjutan dan kendaraan listrik.
Dari sisi operasional, laba kotor konsolidasi TOBA naik lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 28,2 juta atau sekitar Rp 498,95 miliar, dari sebelumnya US$ 13,9 juta atau sekitar Rp 245,94 miliar.
Kenaikan itu ditopang penurunan beban pokok pendapatan sebesar US$ 13,5 juta atau sekitar Rp 238,85 miliar. Alhasil, margin laba kotor perseroan meningkat menjadi 16,3% dari 8,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA konsolidasi TOBA juga tumbuh 23,7% secara tahunan.
Bisnis Pengelolaan Limbah
Adapun TOBA membukukan pendapatan US$ 105,9 juta atau sekitar Rp 1,87 triliun pada semester I 2026. Capaian itu melonjak 77,8% dibandingkan US$ 59,6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen ini menyumbang 61,2% terhadap pendapatan konsolidasi dan 92% terhadap EBITDA TOBA.
Laba kotor dari bisnis pengelolaan limbah juga meningkat 91,9% menjadi US$ 17,6 juta atau sekitar Rp 311,40 miliar, dari US$ 9,2 juta pada semester I 2025.
Berikut perincian operasional bisnis pengolahan limbah TOBA pada semester pertama 2026:
- Cora Environment (Singapura): 752.000 ton limbah dikelola dengan tingkat ketersediaan pabrik 86%
- Asia Medical Enviro Services (Singapura): 2.100 ton limbah dikelola dengan tingkat ketersediaan pabrik 90%
- ARAH Environmental (Indonesia): 5.800 ton limbah dikelola dengan tingkat ketersediaan pabrik 84%.
Bisnis Kendaraan Listrik
Dari segmen kendaraan listrik, pendapatan Electrum melonjak 184% YoY menjadi US$ 9,1 juta atau sekitar Rp 161,01 miliar pada semester I 2026.
Perbaikan juga terlihat dari laba kotor yang berbalik positif menjadi US$ 0,4 juta atau sekitar Rp 7,08 miliar, dari rugi kotor US$ 0,5 juta atau sekitar Rp 8,85 miliar pada semester I 2025. EBITDA segmen kendaraan listrik juga berbalik positif menjadi US$ 0,5 juta atau sekitar Rp 8,85 miliar, dari posisi negatif pada periode yang sama tahun lalu.
Berikut operasional bisnis kendaraan listrik TOBA:
- Hampir 14.000 unit motor listrik dan 550 unit Battery Swapping Station dalam ekosistem Electrum
- Lebih dari 1,7 juta penukaran baterai per bulan
- Lebih dari 2.500 unit rent-to-own
- Lebih dari 135 juta kilometer jarak tempuh.
Bisnis EBT
Di segmen energi terbarukan, TOBA mencatat kontribusi dari Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 6 MW yang telah beroperasi penuh. Proyek tersebut menyumbang US$ 110,3 ribu atau sekitar Rp 1,95 miliar terhadap kinerja perseroan. Kontribusi bisnis energi terbarukan dicatat sebagai bagian atas laba entitas asosiasi, bukan sebagai pendapatan konsolidasi TOBA.
Perseroan juga tengah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung berkapasitas 46 MWp yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Direktur sekaligus Chief Financial Officer TOBA, Juli Oktarina mengatakan, pergeseran sumber pendapatan TOBA kian terlihat pada semester I 2026. Apabila tahun lalu batu bara masih menjadi penyumbang utama pendapatan, kini bisnis nonbatu bara telah tumbuh hingga dua kali lebih besar dan menjadi sumber arus kas perseroan.
Menurut Juli, perkembangan itu menunjukkan transformasi TOBA menuju bisnis infrastruktur berkelanjutan mulai berjalan sesuai arah yang ditargetkan perusahaan.
Dari sisi neraca, TOBA mengantongi kas sebesar US$ 94,7 juta atau sekitar Rp 1,68 triliun per akhir Juni 2026. Utang bank jangka pendek turun 30,9% secara tahunan, sedangkan total liabilitas jangka pendek menyusut 13,5%.
TOBA juga melakukan refinancing obligasi rupiah melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) II dan PUB III. Langkah tersebut mengalihkan US$ 27,5 juta atau sekitar Rp 486,56 miliar dari kewajiban yang jatuh tempo dalam jangka pendek, sehingga memperpanjang profil jatuh tempo utang perseroan.
“Tingkat leverage juga membaik, dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA sebesar 5,4x dibanding 5,6x pada keseluruhan tahun 2025,” tulis Juli dalam keterangannya dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat (28/8).