Yield Obligasi AS Kembali Naik, Wall Street Parkir di Zona Merah

Antara
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Penulis: Karunia Putri
2/9/2026, 06.09 WIB

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Selasa (1/9). Imbal hasil obligasi AS kembali naik karena kekhawatiran investor terhadap inflasi dan kenaikan harga minyak. Kondisi pun menyulutkan kembali kekhawatiran bahwa The Fed akan memperketat kebijakan moneter pada akhir bulan ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 419,02 poin atau 0,79% menjadi 52.766,88. S&P 500 terkoreksi 0,71% ke level 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,03% menjadi 26.099,77.

“Pasar saham selalu kesulitan mencerna pergerakan besar dan cenderung volatil di pasar obligasi,” kata ahli strategi investasi Baird Ross Mayfield dikutip dari CNBC, Rabu (2/9).

Menurutnya, kondisi ini akan bertahan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Meski terdapat kekhawatiran mengenai inflasi, Mayfield mengatakan belum ada cukup perubahan dalam data ekonomi yang dapat mendukung kenaikan suku bunga pada September. 

Berdasarkan CME FedWatch Tool, harga kontrak berjangka Fed Funds saat ini menunjukkan peluang sebesar 68% bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

“Saya tahu pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga, atau setidaknya memberikan peluang yang lebih besar untuk kenaikan dibandingkan mempertahankan suku bunga,” kata dia

Dia pun berpandangan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September, tetapi kemungkinan harus menaikkannya setidaknya satu kali hingga akhir tahun.

Namun, Mayfield mengingatkan bahwa banyak hal bisa berubah sebelum pertemuan The Fed, terutama karena data tenaga kerja nonpertanian AS atau nonfarm payrolls untuk Agustus akan dirilis pada Jumat (4/9).

Imbal hasil obligasi global juga terus meningkat pada Selasa. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak Januari 2025. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Agustus 1996, sementara imbal hasil obligasi acuan Jerman naik ke level tertinggi sejak 2011.

Yielad obligasi di berbagai negara belakangan terus meningkat karena investor khawatir harga minyak kembali melambung sehingga mendorong inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Bank sentral AS tersebut dijadwalkan menggelar rapat kebijakan berikutnya dalam dua pekan. Selain itu, September secara historis merupakan bulan yang buruk bagi pasar saham.

Sememtara itu harga minyak naik setelah Komando Pusat AS atau US Central Command mengatakan pasukan Amerika menyerang target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran. Harga minyak AS naik 5,2% menjadi US$ 90,22 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent berjangka naik 4,6% menjadi US$ 94,65 per barel.

Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan harga minyak pada awal pekan setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi militer. Pada Senin (31/8), sebuah kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz terkena tiga proyektil yang belum diketahui asalnya. 

Selain itu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan merespons serangan terbaru Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Kepada Fox News pada Senin, Trump mengatakan, “kami akan menghantam mereka dengan keras.”

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri