Akuisisi Aster Bikin TPIA Makin Jumbo, Pendapatan Diproyeksi Tembus US$ 12,3 M

Katadata
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memperoleh status Objek Vital Nasional Bidang Industri atau OVNI untuk Pabrik Petrokimia yang berlokasi di Ciwandan, Banten.
Penulis: Karunia Putri
2/9/2026, 12.22 WIB

Kekuatan bisnis emiten konglomerat Prajogo Pangestu yaitu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) makin jumbo setelah perseroan mengakuisisi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. di Singapura. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan akuisisi tersebut memperluas bisnis TPIA dari perusahaan petrokimia menjadi grup energi dan kimia yang lebih terintegrasi di kawasan.

Aster merupakan aset energi dan petrokimia di Singapura yang sebelumnya dikenal sebagai Shell Energy and Chemicals Park Singapore. Aset tersebut diakuisisi pada April 2025 melalui usaha patungan antara Chandra Asri Group dan Glencore.

Aster mencakup kilang minyak berkapasitas sekitar 237 ribu barel per hari (bpd), ethylene cracker berkapasitas 1,1 juta ton per tahun serta berbagai aset kimia hilir.

“Jadi, Aster inilah yang mengubah TPIA dari pemain petrokimia Indonesia menjadi grup energi-kimia yang jauh lebih terintegrasi secara regional,” kata Liza dalam keterangan yang dikutip Rabu (2/9).

Menurut Liza, integrasi Aster menjadi game changer bagi TPIA karena perseroan kini memiliki rantai bisnis yang lebih lengkap, mulai dari pengolahan minyak atau refining hingga produk polimer.

Dengan rantai bisnis tersebut, TPIA dapat menangkap margin dari dua segmen sekaligus sehingga tidak lagi terlalu bergantung pada pergerakan spread petrokimia.

Selain itu, posisi TPIA di pasar dalam negeri dinilai cukup kuat. Pasar Indonesia masih mengalami defisit struktural untuk sejumlah produk petrokimia sehingga permintaan terhadap produk perseroan relatif terjaga. Harga domestik juga mendapat dukungan dari mekanisme import-parity pricing.

Perubahan Skala Bisnis TPIA

Masuknya bisnis Aster juga mengubah profil pendapatan TPIA secara signifikan. Liza memperkirakan pendapatan TPIA pada 2026 dapat meningkat tajam hingga sekitar US$ 12,3 miliar dengan EBITDA sekitar US$ 1,8 miliar.

Pada paruh pertama 2026, TPIA membukukan pendapatan sebesar US$ 5,34 miliar. Artinya, enam bulan ke depan, TPIA diproyeksikan meraup pendapatan hingga hampir US$ 7 miliar. 

Dengan valuasi pasar saat ini yang setara sekitar 4 kali estimasi enterprise value terhadap EBITDA (EV/EBITDA) 2027, Liza menilai valuasi TPIA berpotensi belum sepenuhnya mencerminkan perubahan skala bisnis dan kekuatan laba perseroan setelah integrasi Aster.

Di sisi lain, sumber pertumbuhan TPIA mulai semakin beragam dan tidak hanya bergantung pada bisnis petrokimia.

Salah satunya berasal dari proyek Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC), pabrik terintegrasi yang akan memproduksi caustic soda dan ethylene dichloride (EDC). Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Proyek CA-EDC akan memberikan eksposur tambahan terhadap kebutuhan bahan baku industri high pressure acid leach (HPAL), yakni teknologi pengolahan bijih nikel yang digunakan untuk menghasilkan bahan baku baterai.

Diversifikasi juga diperkuat melalui bisnis ritel energi di Singapura. TPIA mengakuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura dari ExxonMobil yang memberikan sumber pendapatan berulang dari bisnis penjualan bahan bakar ritel.

Dengan ekspansi tersebut, TPIA tidak hanya memperkuat bisnis petrokimia, tetapi juga memperbesar eksposur terhadap sektor energi dan bisnis hilir.

Rekomendasi Saham TPIA

Meski prospek fundamental dinilai positif, Liza menyarankan investor untuk tidak terburu-buru masuk ke saham TPIA.

Secara teknikal, Kiwoom Research memberikan rekomendasi wait and see hingga saham TPIA mampu menembus area resistance moving average di kisaran Rp 1.980-Rp 2.040.

Jika level tersebut berhasil ditembus, saham TPIA baru dinilai menarik untuk speculative buy dengan alokasi investasi maksimal 25%.

Target harga terdekat berada di level Rp 2.100. Jika level tersebut kembali berhasil ditembus, investor dapat mempertimbangkan strategi average up dengan target menengah di kisaran Rp 2.270-Rp 2.370 dan target berikutnya Rp 2.550.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri