Mengukur Dampak Akuisisi 30% BYAN pada Kinerja Saham Haji Isam JARR dan PGUN

Karunia Putri
18 September 2026, 06:54
Bayan Resources
Bayan
Bayan Resources
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Low Tuck Kwong bakal menjual 30% saham emiten tambang batu bara raksasa miliknya PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kepada crazy rich Kalimantan Selatan Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Meski begitu analis melihat efeknya tak bisa langsung dihitung pada kinerja keuangan saham Isam seperti PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR).

Adapun Low beserta anak perempuannya Elaine Low telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat sebanyak 10.000.000.500 dengan perusahaan milik Haji Isam PT Jhonlin Bratama. Nilai tersebut setara dengan 30% dari total saham BYAN yang beredar.

Persetujuan akuisisi itu masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan (conditions precedent).

BYAN tidak mengungkapkan nilai transaksi maupun harga jual saham dalam keterbukaan informasi tersebut. Perseroan hanya menyatakan bahwa penyelesaian transaksi bergantung pada terpenuhinya sejumlah kondisi yang telah disepakati para pihak.

PT Jhonlin Baratama adalah perusahaan jasa kontraktor dan pertambangan batu bara dan nikel di Kalimantan Selatandan Tengah.

Aksi ini menjawab rumor yang sudah menyebar di pasar beberapa waktu terakhir. 

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan, transaksi Jhonlin Baratama untuk mencaplok saham BYAN merupakan langkah strategis yang memperluas eksposur bisnis Haji Isam dari sektor agribisnis dan CPO ke sektor batu bara. 

Namun dia memandang dampak akuisisi terhadap kinerja perusahaan terbuka Haji Isam di Bursa Efek Indonesia seperti JARR dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) tidak bisa langsung dihitung sebagai kenaikan pendapatan atau laba. 

“Karena saham BYAN dibeli melalui Jhonlin Baratama dan tidak berarti operasional BYAN otomatis dikonsolidasikan ke JARR,” ujar Nafan kepada Katadata Kamis (17/9). 

Dia mengatakan dampak aksi ini lebih bersifat tidak langsung melalui penguatan ekosistem usaha, diversifikasi sumber pendapatan grup, potensi sinergi logistik, energi, komoditas maupun penguatan posisi tawar bisnis Jhonlin. 

Apalagi kinerja JARR sendiri masih perlu ditopang oleh perbaikan produksi, harga CPO, efisiensi dan ekspansi bisnis.

Nafan menyatakan, secara khusus katalis utama JARR saat tetap berasal dari fundamental CPO, prospek harga minyak sawit, kebijakan B50, peningkatan produksi serta efisiensi operasional. 

Dengan harga JARR sekitar Rp 4.190, Nafan melihat area Rp 4.600–Rp 5.000 dapat menjadi target bertahap apabila momentum kenaikan dan volume perdagangan tetap terjaga, sedangkan area Rp 3.800–Rp 3.900 menjadi support yang perlu diperhatikan. 

Sementara PGUN, prospeknya juga masih ditopang oleh fundamental CPO serta sentimen terhadap ekspansi ekosistem Jhonlin. Dengan harga sekitar Rp 10.050, area Rp 11.000–Rp 12.000, Nafan mengatakan level ini bisa menjadi target bertahap.

“Meskipun volatilitas saham perlu dicermati,” kata dia.

Bagaimana dengan BYAN?

Sementara untuk BYAN, prospeknya perlu dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, masuknya Jhonlin Baratama sebagai calon pemegang sekitar 30% saham merupakan perubahan struktural yang signifikan dan berpotensi menjadi katalis positif apabila transaksi terealisasi serta persoalan operasional dapat diselesaikan. 

Di sisi lain, BYAN saat ini menghadapi ketidakpastian terkait persetujuan RKAB sejumlah anak usaha yang berdampak pada kewajiban pasokan batu bara dan memicu force majeure. Karena itu, volatilitas saham masih berpotensi tinggi. 

Dalam keterbukaan informasi akuisisi itu pun manajemen BYAN mengatakan aksi korporasi itu tidak menimbulkan dampak material negatif terhadap perusahaan. “Kejadian tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat mengganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha perseroan,” tulis manajemen.

“Jika persoalan RKAB terselesaikan dan transaksi dengan Jhonlin berjalan sesuai rencana, ruang pemulihan valuasi BYAN dapat semakin terbuka,” kata dia.

Dengan harga sekitar Rp 11.475, Nafan menyatakan Rp 10.000–Rp 10.200 sebagai area support penting, sementara Rp 12.200–Rp 12.500 menjadi resistance awal. 

Rumor rencana Haji Isam mencaplok saham BYAN telah bergulir sejak Agustus 2026. Saat itu, beredar informasi bahwa Haji Isam melalui kelompok usaha Jhonlin berencana mengambil alih sekitar 62,2% saham BYAN yang dimiliki Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low.

Namun, pada 18 Agustus, manajemen BYAN membantah mengetahui adanya rencana pengambilalihan 62,2% saham oleh Haji Isam maupun pihak yang terafiliasi dengannya. Kala itu, perseroan mengatakan pemegang saham pengendali dapat mempertimbangkan berbagai peluang investasi untuk memaksimalkan investasinya di BYAN.

Kabar tersebut kembali mencuat pada 26 Agustus lalu setelah Bloomberg melaporkan Low Tuck Kwong tengah melakukan pembicaraan untuk menjual mayoritas saham BYAN kepada konsorsium yang dipimpin Haji Isam. Saat itu, pembicaraan masih berlangsung dan belum ada kepastian transaksi akan terealisasi.

Pada 9 September, Bloomberg kembali melaporkan entitas yang dikendalikan Haji Isam tengah mengajukan penawaran tunai sekitar US$ 3 miliar atau Rp 52,65 triliun untuk mengakuisisi sekitar 62% saham BYAN.

Dalam pemberitaan tersebut, manajemen PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) juga disebut belum memperoleh informasi mengenai rencana akuisisi tersebut. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pihak pembeli yang tercantum dalam dokumen resmi BYAN adalah PT Jhonlin Baratama, bukan JARR.

Dengan demikian, laporan terbaru dari BYAN belum menunjukkan bahwa JARR secara langsung menjadi pihak dalam transaksi tersebut. Jumlah saham yang akan dialihkan juga belum mencakup seluruh kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Sebelumnya, keduanya tercatat menguasai sekitar 62,25% saham BYAN, masing-masing sekitar 40,25% dan 22%. Dengan demikian, jika transaksi 10 miliar saham tersebut rampung, PT Jhonlin Baratama akan menjadi pemegang sekitar 30% saham BYAN.

Sementara itu, pihak BYAN belum menjelaskan apakah terdapat transaksi lanjutan atas sisa kepemilikan saham Low dan Elaine Low di emiten pertambangan batu bara itu.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...