Jurus TOWR Perkuat Cengkraman Bisnis Fiber Optic hingga Komitmen Tebar Dividen
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mulai memperluas bisnis di luar penyedia menara telekomunikasi. Emiten Grup Djarum itu mengembangkan infrastruktur digital terintegrasi melalui bisnis fiber optic hingga infrastruktur dan menyatakan siap mendukung kebutuhan artificial intelligence (AI).
Langkah tersebut dilakukan untuk menangkap peluang pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital, seiring pengembangan jaringan 5G dan teknologi AI atau kecerdasan buatan di Indonesia.
Direktur TOWR Indra Gunawan mengatakan, perseroan memiliki platform infrastruktur digital terintegrasi yang mencakup sejumlah lini bisnis. Ekosistem tersebut menjadi modal bagi TOWR untuk bertransformasi dari sekadar penyedia menara menjadi penyedia node infrastruktur digital.
“Kami memiliki produk yang sangat komplit dalam konteks itu akan menjadi tidak hanya sekadar tadi penyedia menara atau penyedia infrastruktur, tapi kita juga menjadi AI ready,” ujar Indra dalam paparan publik TOWR secara virtual, Selasa (8/9).
Saat ini, TOWR memiliki sekitar 37 ribu menara dan jaringan fiber sepanjang 182 ribu kilometer di seluruh Indonesia. TOWR juga sudah menerima permintaan sebanyak 2.000-an menara yang diminta MyRepublic dan Surge atau PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Mengintip 3 Model Bisnis Fiber TOWR
Komisaris perseroan Hartono Tanuwidjaja mengatakan, dalam bisnis fiber optic, TOWR memiliki tiga model utama, yakni fiber to the tower (FTTT), fiber to the home (FTTH) dan connectivity solution.
Menurut dia, setiap kabel fiber yang dibangun perseroan memiliki kapasitas 12, 48 hingga 96 core. Namun, hanya sebagian kapasitas yang digunakan untuk kebutuhan awal sehingga masih terdapat core yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan tambahan.
Model pertama adalah FTTT, yakni jaringan fiber yang menghubungkan menara dengan jaringan backhaul. Infrastruktur ini secara bertahap menggantikan microwave yang selama ini digunakan sebagai backhaul menara.
Dalam model tersebut, TOWR biasanya hanya menyewakan dua hingga empat core dari satu kabel yang memiliki kapasitas hingga puluhan core. Dengan begitu, masih terdapat kapasitas fiber yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan bisnis lainnya.
“Setiap cable yang kami gelar itu sebenarnya masih ada extra cores atau available cores yang kami bisa utilize untuk revenue,” ujar Hartono.
Menurut dia, bisnis FTTT menggunakan skema built to suit sehingga belanja modal yang dikeluarkan bersifat non-speculative. Artinya, pembangunan infrastruktur dilakukan berdasarkan kebutuhan penyewa sehingga pengembalian investasi telah diperhitungkan sejak awal.
Model kedua adalah FTTH yang digunakan untuk menyediakan layanan internet rumah. Sekitar 90% bisnis FTTH TOWR menggunakan model wholesale, sedangkan sekitar 10% lainnya merupakan business to consumer (B2C).
Dalam model wholesale, TOWR membangun infrastruktur fiber berdasarkan kebutuhan penyewa dengan kontrak sewa jangka panjang. Model ini membuat pendapatan dan arus kas perseroan lebih terprediksi.
Sementara melalui model B2C, perseroan melayani pelanggan rumah secara langsung melalui anak usahanya dengan target pasar segmen C dan D.
Pengembangan bisnis FTTH juga menjadi salah satu alasan TOWR aktif mengakuisisi sejumlah perusahaan penyedia jasa internet (ISP) dalam beberapa tahun terakhir. Akuisisi tersebut ditujukan untuk mempercepat utilisasi aset fiber yang masih belum digunakan.
Model ketiga adalah connectivity solution. Melalui bisnis ini, TOWR menyediakan layanan dedicated internet untuk pelanggan korporasi atau enterprise.
Layanan tersebut memiliki kontrak sekitar satu hingga lima tahun. Namun, kontrak biasanya dapat diperpanjang secara otomatis sehingga membuka peluang pendapatan berulang dari pelanggan.
Bidik Pertumbuhan 5G
Selain fiber optic, pengembangan jaringan 5G di Indonesia menjadi salah satu peluang pertumbuhan yang dibidik TOWR. Indra menyebut cakupan 5G di Indonesia saat ini masih kurang dari 6%. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang pertumbuhan infrastruktur untuk mendukung implementasi teknologi tersebut.
Menurut dia, pengembangan 5G tidak hanya membutuhkan menara, tetapi juga fiber optic sebagai tulang punggung jaringan.
“Pada waktu kita bicara 5G, kita sudah tidak bisa lagi di-support dengan microwave sehingga fiber optic akan menjadi tulang punggung baru dalam konteks 5G ke depan,” kata Indra.
Peluang tersebut semakin terbuka setelah pemerintah meluncurkan spektrum baru pada pita 700 MHz dan 2,6 GHz. Indra menyebut total bandwidth dari spektrum baru tersebut mencapai sekitar 260 MHz dan dapat menjadi pendorong pengembangan teknologi 5G.
“Ini menjadi driver dan opportunity baru yang kami lihat, new technology,” ujar Indra.
TOWR juga melihat peluang dari kebutuhan peningkatan kualitas internet di Indonesia. Anton mengatakan posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia.
Menurut Indra, kondisi tersebut menjadi peluang bagi industri infrastruktur digital. Pasalnya, pemerintah mulai mengarahkan kebijakan tidak hanya untuk memperluas cakupan jaringan, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan.
Kebijakan Dividen
Ke depan, strategi bisnis TOWR akan berfokus pada tiga hal utama. Hartono mengatakan perusahaan menghasilkan free cash flow sekitar Rp 4,9 triliun yang kemudian dialokasikan ke tiga kebutuhan utama untuk 2026.
Pertama, belanja modal atau capital spending untuk mempertahankan sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis. Kedua, pembayaran kewajiban utang, termasuk bunga dan pokok pinjaman. Ketiga, pengembalian kepada pemegang saham, terutama melalui pembagian dividen.
Hartono mengatakan posisi utang TOWR saat ini masih berada pada level yang nyaman. Perseroan memiliki covenant dengan kreditur yang menetapkan batas net debt sebesar lima kali.
Dengan posisi tersebut, TOWR tidak memiliki urgensi untuk mempercepat pembayaran utang. Perseroan memilih mengatur penggunaan free cash flow secara optimal dengan menyeimbangkan tiga kepentingan, yakni mendukung pertumbuhan bisnis, melakukan deleveraging dan memberikan imbal hasil jangka pendek kepada pemegang saham melalui dividen.
Pada Tahun Buku 2025, perseroan membagikan dividen sebesar Rp 13,76 per saham yang dibagikan dua kali sebagai interim. Pertama sebesar Rp 6,87 yang dibagikan pada 23 Desember 2025 dan Rp 6,89 per saham yang dibagikan pada 19 Juni 2026.