Nikkei Jepang Perkasa saat Indeks Bursa Asia Pasifik Berguguran, Apa Sebabnya?
Perkiraan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) dan aksi jual saham-saham sektor kecerdasan buatan (AI) berimbas pada tertekannya mayoritas indeks bursa saham di kawasan Asia Pasifik pada perdagangan Selasa (15/9).
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,87% ke level 6.477 pada perdagangan intraday pukul 11.37 WIB. Turunnya IHSG sejalan dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia Pasifik.
Sebaliknya, indeks Nikkei Jepang naik 0,29% ke level 63.678. Kenaikan itu terjadi di tengah perkiraan pasar terhadap keputusan BOJ yang diproyeksikan akan kembali menaikkan suku bunga pada pekan ini, tepatnya 18 September 2026. BOJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25%.
Sementara itu, sejumlah indeks saham Asia lainnya berada di zona merah. Hang Seng turun 0,4% ke level 24.817, Kospi Korea Selatan melemah 0,54% ke level 6.648, sedangkan Shanghai Composite terkoreksi 0,1% ke level 3.881,41.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully menjelaskan sinyal hawkish dari sejumlah bank sentral negara maju, termasuk Jepang, Eropa dan Inggris, dapat menahan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
“Memang salah satu yang mungkin bisa menahan penguatan dolar ketika efeknya hawkish adalah sinyal yang diberikan oleh sentral bank lainnya, termasuk Jepang, Eropa dan Inggris,” ujar Rully dalam Mirae Day September secara virtual, Selasa (15/9).
Menurut Rully, bank sentral yang dapat menjadi penyeimbang kebijakan The Fed antara lain BOJ, European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BOE). Ketiga bank sentral tersebut dalam sepekan terakhir cenderung memberikan sinyal hawkish.
Pasar juga memperkirakan BOJ akan kembali menaikkan suku bunga pada 18 September. Jika kenaikan suku bunga The Fed diikuti oleh sejumlah bank sentral negara maju lainnya, penguatan dolar AS berpotensi lebih terbatas.
“Ketika The Fed menaikkan suku bunga dan dibarengi dengan kenaikan suku bunga di beberapa negara maju lainnya, itu biasanya menahan dolar agar tidak naik terlalu signifikan,” katanya.
Rully memperkirakan dolar AS masih relatif tertahan di kisaran 100, meski berpotensi bergerak di atas level tersebut. Menurut dia, sinyal hawkish dari sejumlah bank sentral, terutama Jepang, juga menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir.
Namun, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat apabila The Fed memberikan sinyal hawkish. Tekanan tersebut dapat berasal dari sentimen eksternal maupun kondisi keseimbangan eksternal yang turut memengaruhi nilai tukar rupiah.
Karena itu, pasar akan mencermati keputusan bank sentral pada 18 September. Jika The Fed memberikan sinyal untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat.
Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6%. Salah satu pemicu utama keputusan tersebut adalah perkembangan nilai tukar rupiah.
Selain sentimen suku bunga, tekanan terhadap bursa Asia juga datang dari aksi jual saham-saham yang terkait dengan AI.
Mengutip Reuters, saham-saham AI anjlok di berbagai negara pada perdagangan Senin (14/9). Pelemahan terjadi setelah sejumlah pemimpin perusahaan AI terbesar memperingatkan risiko teknologi tersebut yang berpotensi mengancam keberlangsungan hidup manusia.
Peringatan tersebut mengguncang kepercayaan investor terhadap industri AI. Padahal, belanja infrastruktur dalam skala besar oleh perusahaan AI selama ini menjadi salah satu pendorong reli pasar saham global hingga mencapai rekor tertinggi.
Aksi jual kemudian menyebar ke berbagai perusahaan di sektor tersebut. Sejumlah perusahaan AI kini semakin mengandalkan utang dan pembiayaan sirkular untuk mendanai rencana belanja AI yang agresif.
Kondisi itu terjadi ketika biaya pinjaman global terus meningkat, tercermin dari imbal hasil obligasi yang berada di level tertinggi dalam beberapa tahun.
CEO Anthropic Dario Amodei juga menyerukan perusahaan-perusahaan AI untuk memperlambat laju pengembangan kemampuan model AI. Seruan tersebut muncul di tengah kekhawatiran yang semakin besar terhadap potensi penyalahgunaan teknologi AI.
Elon Musk, yang menjalankan xAI, dan CEO OpenAI Sam Altman menyatakan setuju dengan pandangan Amodei.
Altman juga mengatakan OpenAI tidak akan melanjutkan rencana penawaran umum perdana (IPO) tahun ini dengan alasan pertimbangan keamanan.
Pada perdagangan sebelumnya, saham-saham sektor AI raksasa rontok. Nvidia turun 3%, sedangkan Broadcom dan Advanced Micro Devices masing-masing merosot lebih dari 4%. Saham Intel anjlok lebih dari 5%, sementara Marvell Technology rontok lebih dari 7%.