Katadata Siap Luncurkan Indeks KESGI 50 di Pasar Modal, Ini Filosofinya
Kebutuhan perusahaan untuk menerapkan prinsip keberlanjutan atau environmental, social and governance (ESG) terus meningkat seiring dengan tuntutan investasi jangka panjang. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mendorong perusahaan tercatat untuk meningkatkan penerapan dan keterbukaan informasi terkait ESG.
Berdasarkan data BEI per Agustus 2026, sebanyak 83% perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keberlanjutan (sustainability report) untuk 2025. Namun, baru sekitar 15% perusahaan yang menggunakan independent assurance dalam laporan tersebut.
Di tengah semakin banyaknya perusahaan yang mengadopsi prinsip ESG, investor perlu semakin cermat dalam memilih emiten untuk portofolio investasinya.
Chief Content Officer (CCO) Katadata, Heri Susanto mengatakan, Katadata dalam waktu dekat akan meluncurkan indeks KESGI 50 yang menggabungkan penilaian kinerja ESG dengan kondisi fundamental dan daya tarik investasi saham. Fokus dalam indeks ini adalah integrasi mendalam dengan overlay valuasi untuk keputusan alokasi investasi.
“Kami susun filosofinya dengan 3 lensa fundamental dan 1 lensa investor. Lensa fundamental ini ada kinerja ESG, artinya perusahaan dengan ESG yang terbaik inilah yang kami pilih. Kemudian financial quality artinya tentu saja perusahaan dengan kinerja keuangan yang juga sehat,” kata Heri dalam acara Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/9).
Dalam pemilihan emiten, Katadata menilai sekitar 400 perusahaan berdasarkan indikator ESG. Dari penilaian tersebut, sekitar 50 emiten akan dipilih untuk masuk dalam indeks KESGI 50.
Heri menuturkan, indeks tersebut tidak ditujukan untuk bersaing dengan indeks ESG yang telah tersedia di pasar, seperti IDX ESG Leaders dan IDX KEHATI. KESGI 50 justru diharapkan dapat melengkapi indeks yang sudah ada dengan memberikan informasi yang lebih komprehensif kepada investor.
“Berdasarkan indikator tersebut, kita bisa melihat profil perusahaan, tren ESG ke depan, serta membandingkan perusahaan satu dengan lainnya. Dari situ kita bisa memilih sekitar 50 emiten terbaik,” ujar Heri.
Pandangan BEI soal Prospek ESG di Pasar Modal
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi mengatakan, penerapan ESG tidak seharusnya hanya dilihat dari seberapa hijau suatu perusahaan. Aspek keberlanjutan juga perlu dikaitkan dengan kemampuan perusahaan menghadapi perubahan ekonomi, menjaga daya saing dan tetap menarik bagi investor.
“Kalau berbicara mengenai capital markets for a sustainable future, pertanyaannya bukan hanya apakah perusahaan kita sudah cukup green, tetapi apakah perusahaan kita cukup resilient, competitive, dan investable untuk menghadapi perubahan ekonomi ke depan,” kata Iding.
Menurut dia, investor pada akhirnya tetap akan mengejar imbal hasil atau return. Namun, untuk memahami potensi return dalam jangka panjang, investor juga perlu mempertimbangkan risiko, ketahanan bisnis, dan tata kelola perusahaan.
Iding menegaskan, ESG tidak dapat menggantikan fundamental perusahaan. Sebaliknya, ESG seharusnya membantu investor memahami fundamental perusahaan secara lebih menyeluruh.
Dengan begitu, perusahaan tidak otomatis menjadi investasi yang baik hanya karena memiliki label hijau. Perusahaan tetap harus memiliki profitabilitas, tata kelola yang baik, ketahanan bisnis, serta strategi jangka panjang yang kredibel.
Perkembangan ESG di Pasar Modal RI
Iding menuturkan, fondasi penerapan ESG di pasar modal Indonesia mulai terbentuk. Salah satunya terlihat dari semakin banyak perusahaan yang menyampaikan laporan keberlanjutan.
Namun, tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan jumlah laporan. Melainkan meningkatkan kualitas, keterbandingan, keandalan, dan kredibilitas informasi yang disampaikan perusahaan.
Dari sisi produk investasi, BEI juga telah menyediakan berbagai indeks ESG. Sementara itu, dana kelolaan produk berbasis ESG di Indonesia hingga Agustus 2026 telah mencapai Rp 5,97 triliun.
Pada instrumen pembiayaan berkelanjutan, akumulasi penerbitan green, social, dan sustainable bonds serta sukuk telah mencapai sekitar Rp 86,97 triliun. Selain itu, lebih dari separuh perusahaan yang masuk dalam indeks IDX80 telah memiliki komitmen net zero.
Iding menuturkan, BEI melihat pengembangan pasar modal berkelanjutan melalui empat area utama. Pertama adalah information atau informasi. Menurut dia, tidak akan ada sustainable finance tanpa informasi yang kredibel. Selain itu, dia menyatakan investor juga harus mampu membedakan klaim hijau atau green claim dengan kinerja hijau atau green performance perusahaan.
Kedua adalah pengembangan instrumen. BEI telah menyediakan berbagai indeks ESG, green, social, and sustainable bonds, serta green equity designation dan instrumen keberlanjutan lainnya. Namun, menurut Iding, sustainable finance tidak seharusnya hanya membiayai perusahaan yang sudah berstatus hijau.
Indonesia masih membutuhkan sektor energi, mineral, manufaktur, infrastruktur, transportasi, dan berbagai industri lain yang tidak dapat beralih menjadi rendah karbon dalam waktu singkat.
Menurut Iding, credible transition berarti perusahaan memiliki target yang jelas, peta jalan yang terukur, investasi yang konsisten dengan peta jalan tersebut, serta keterbukaan informasi dan akuntabilitas terhadap pencapaiannya.
Yang ketiga adalah mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam pengambilan keputusan investasi. Iding mengatakan, ESG tidak boleh menjadi aspek yang berdiri terpisah dari keputusan investasi. Investor tetap perlu mempertimbangkan imbal hasil, risiko, ketahanan bisnis, dan kualitas tata kelola.
Menurut dia, ESG seharusnya menjadi bagian dari pemahaman terhadap kinerja keuangan perusahaan dalam jangka panjang, bukan menjadi pertentangan dengan kinerja finansial.
3 Hal yang Perlu Didorong
Iding mengungkapkan, ada tiga perubahan yang perlu didorong dalam pengembangan ESG di pasar modal. Pertama, dari disclosure menjadi credibility, yakni tidak hanya memperbanyak laporan tetapi juga meningkatkan kualitas dan kredibilitas informasi.
Kedua, dari commitment menuju measurable impact. Perusahaan tidak cukup sekadar menetapkan target dan komitmen, tetapi juga perlu menunjukkan dampak serta perkembangan pencapaiannya secara terukur.
Sementara yang ketiga yaitu mengubah pandangan sustainability dari sekadar compliance menjadi competitiveness. “Pada akhirnya, perusahaan yang mampu mengelola sustainability dengan baik seharusnya menjadi perusahaan yang lebih resilient, lebih kompetitif, dan lebih investable,” ujarnya.
Iding mengatakan, BEI ingin menjadikan pasar modal Indonesia lebih dari sekadar tempat transaksi efek. Pasar modal diharapkan menjadi tempat bertemunya modal dengan peluang ekonomi, sekaligus memberikan penghargaan kepada perusahaan dengan tata kelola yang baik dan mendorong pembiayaan bagi transformasi yang kredibel.
Menurut dia, Indonesia membutuhkan pembiayaan dalam jumlah besar untuk menjalankan berbagai transformasi ekonomi. Di sisi lain, Indonesia juga memiliki peluang ekonomi yang besar.
“Tantangannya adalah bagaimana mempertemukan real economic opportunity di Indonesia dengan domestic and global long-term capital,” tutur Iding.
Karena itu, menurut dia, pasar modal Indonesia perlu memiliki karakter yang kredibel, investable, likuid, dan dipercaya.