Bos INCO Ungkap Tantangan Industri Nikel RI

Antara Foto/Nova Wahyudi
Sejumlah operator dump truck mengangkut slag atau limbah nikel untuk dibawa ke tempat penampungan khusus bahan berbahaya dan beracun (B3) di area smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
16/9/2026, 19.36 WIB

Industri nikel Tanah Air masih menghadapi tantangan di tengah upaya pemerintah menggenjot program hilirisasi nikel nasional. Meskipun menjadi negara dengan sumber daya dan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia masih tertatih-tatih mencapai hilirisasi karena ketergantungan pada teknologi luar negeri. 

Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Bernadus Irmanto mengatakan, tantangan utama industri nikel di Indonesia adalah persoalan teknologi sehingga bangsa ini perlu bekerja sama dengan negara lain. 

“Indonesia punya resources. Indonesia unfortunately enggak punya teknologi untuk mengolah nikel lebih lanjut,” kata Anto, sapaan Bernadus Irmanto, dalam acara Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/9).

Menurut dia, hampir seluruh pembangunan fasilitas pengolahan nikel di Indonesia melibatkan perusahaan tambang sekaligus mitra teknologi. Beberapa proyek juga menggandeng produsen baterai, kendaraan hingga perusahaan lain sebagai offtaker untuk mengamankan pasarnya. Kondisi tersebut menunjukkan pengembangan hilirisasi nikel Indonesia masih memiliki ketergantungan pada teknologi dan pasar dari luar negeri.

Anto mengatakan, tantangan Indonesia untuk menuju hilirisasi nikel adalah membangun kemampuan nasional untuk menguasai teknologi yang digunakan dalam industri pengolahan nikel.

Dia mengungkapkan, INCO juga menghadapi persoalan serupa dalam pengembangan fasilitas pengolahan. Menjadi pemegang saham dalam sebuah perusahaan pengolahan tidak otomatis membuat Indonesia mampu mengendalikan fasilitas tersebut apabila teknologi yang digunakan masih dikuasai mitra.

Karena itu, dia mendorong pembangunan kapasitas riset dan pengembangan atau research and development (R&D) nasional. Tujuannya agar Indonesia tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi yang dibawa mitra asing, tetapi juga menguasai dan mengembangkan teknologi tersebut.

Menurut Anto, penguasaan teknologi menjadi penting agar Indonesia dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok industri nikel global. Ketergantungan Indonesia juga tidak hanya terjadi pada teknologi, tetapi pada pasar. Anto mencontohkan beberapa proyek di INCO yang memiliki mitra offtaker dari luar negeri.

Offtaker yang join di investment itu enggak ada offtaker-nya Indonesia. Yang satu di Pomalaa itu Ford Motor Company (dari) US (Amerika Serikat), yang satu Ecopro itu Korea Selatan,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Indonesia dinilai perlu membangun ekosistem industri dan pasar domestik agar nilai tambah dari sumber daya nikel tidak sepenuhnya bergantung pada negara lain.

“Yang kita khawatirkan sekarang adalah, karena kita sangka ketergantungan kita terhadap teknologi dan market itu terlalu besar ke yang lain, padahal akhirnya nanti kita meng-exploit sumber daya, kita kirimkan ke negara lain,” katanya.

Dia juga mengingatkan adanya risiko jangka panjang apabila Indonesia hanya mengandalkan sumber daya nikel sebagai keunggulan utama. Seiring berkembangnya industri baterai global, limbah baterai atau scrap nikel pada akhirnya akan semakin banyak tersedia di negara-negara lain. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan negara lain terhadap pasokan nikel primer dari Indonesia pada masa mendatang.

Serapan Tenaga Kerja Saja Tak Cukup Jadi Ukuran Keberhasilan

Hal senada juga disampaikan Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif. Dia mengatakan, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari berapa banyak tenaga kerja yang diserap. Manfaat tersebut hanya dapat optimal apabila fasilitas yang dibangun mampu beroperasi secara optimal.

“Apabila pabriknya sendiri tidak beroperasi secara optimal, maka tentu saja serapannya tidak seperti yang kita harapkan sebelumnya,” kata Aditya.

Dia menuturkan, salah satu persoalan utama dalam pengembangan rantai industri baterai berbasis nikel adalah ketersediaan pasar.

Menurut Aditya, pasar domestik untuk baterai berbasis nikel saat ini belum tersedia dalam skala yang memadai sehingga industri masih bergantung pada pasar luar negeri. Sementara itu, perubahan arah pasar baterai global turut menambah tantangan bagi pengembangan industri tersebut.

Perubahan fokus pasar tersebut membuat pengembangan rantai industri baterai berbasis nikel perlu diperhitungkan kembali. Aditya mencontohkan meningkatnya kebutuhan industri data center yang tidak menggunakan baterai berbasis nikel seperti yang digunakan pada kendaraan listrik.

Kondisi itu menimbulkan risiko terhadap kesinambungan rantai industri. Industri intermediate dapat dibangun dan menghasilkan material baterai, tetapi belum tentu seluruh produksinya dapat diserap oleh industri baterai jika kebutuhan teknologi dan pasarnya berbeda.

Mainstream mungkin bisa terbangun, tapi dia tidak bisa beroperasi secara optimal,” kata Aditya.

Jika kondisi tersebut terjadi, manfaat yang diharapkan dari hilirisasi nikel, termasuk penyerapan tenaga kerja dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri, juga berpotensi tidak maksimal.

Karena itu, menurut Aditya, keberadaan pasar menjadi salah satu faktor paling krusial dalam memastikan rantai hilirisasi berjalan secara utuh. Selain persoalan pasar, Indonesia juga masih menghadapi tantangan dalam penguasaan teknologi baterai.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri