BEI Bakal Ambil Tindakan atas Transaksi Semu di Saham HSC

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi logo Bursa Efek Indonesia.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
18/9/2026, 13.37 WIB

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengambil tindakan bagi emiten yang masuk dalam daftar kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC) jika terdapat pola transaksi semu yang mencurigakan.

Langkah itu diambil untuk melindungi emiten. Namun bursa menegaskan bahwa emiten-emiten yang masuk ke dalam daftar HSC bukan karena pelanggaran yang dilakukan perusahaan. Hingga saat ini, ada 57 emiten yang masuk dalam daftar terkonsentrasi tinggi.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi mengatakan, pihaknya dapat mendeteksi transaksi yang dilakukan secara berulang atau bolak-balik di antara pihak-pihak tertentu, terutama jika pola tersebut mengerek kenaikan harga saham yang dapat menjadi indikasi transaksi semu. Jika menemukan pola tersebut, BEI akan melakukan pemeriksaan dan mengambil tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kita bisa melihat kalau ada transaksi bolak-balik di antara mereka yang memiliki saham itu, makin-makin naik, berarti ada transaksi semu yang mengerek harga. Itu kita akan lakukan tindakan,” ujar Iding kepada wartawan di Gedung BEI, Jumat (18/9).

Dia menekankan, daftar HSC bukan menunjukkan adanya pelanggaran atau transaksi yang tidak wajar di emiten terkait. Daftar tersebut merupakan bentuk keterbukaan informasi mengenai kondisi kepemilikan saham yang terkonsentrasi.

Informasi tersebut penting bagi investor agar lebih waspada terhadap pergerakan saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Sebab, pergerakan harga saham berpotensi lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas segelintir pemegang saham.

Pengawasan tersebut juga dilakukan melalui mekanisme perdagangan dan koordinasi dengan lembaga terkait. Iding juga membeberkan bursa sudah mengambil tindakan terhadap emiten dengan transaksi semu yang ditetapkan sebagai designated stock, sehingga tidak dapat diperdagangkan di pasar reguler. 

BEI juga dapat memanggil pihak-pihak yang melakukan transaksi untuk meminta penjelasan mengenai motif transaksi tersebut.

Sebaliknya, apabila kepemilikan saham memang terkonsentrasi tetapi tidak ditemukan pola transaksi bolak-balik yang mengerek harga, kondisi tersebut masih menjadi bagian dari mekanisme pasar.

“Kalau terkonsentrasi dan tidak ada transaksi bolak-balik yang kemudian mengerek harga, itu mekanisme pasar. Tidak ada salahnya juga. Cuma itu menjadi informasi penting bagi investor,” kata Iding.

Bagi emiten, tingginya konsentrasi kepemilikan juga menjadi tantangan karena dapat memunculkan pertanyaan mengenai likuiditas dan porsi saham publik atau free float saham.

Iding mencontohkan kondisi ketika suatu saham memiliki free float yang secara angka cukup tinggi, tetapi saham tersebut tetap berada di tangan sejumlah pihak yang sama. Kondisi ini dapat membuat likuiditas saham dipertanyakan meski secara administratif memenuhi ketentuan free float.

“Ini menjadi PR (pekerjaan rumah) emiten untuk bisa memperbaiki. Lagi-lagi, itu bukan pelanggaran kecuali ada transaksi semu di antara mereka,” ujarnya.

BEI juga telah mempertimbangkan aspek likuiditas tersebut dalam penyusunan sejumlah indeks utama. Iding mengatakan saham dengan tingkat likuiditas yang dipertanyakan dapat dikeluarkan dari indeks-indeks utama seperti IDX30 dan IDX80, sementara indeks yang bersifat lebih luas memiliki ketentuan berbeda.

Kondisi tersebut diharapkan mendorong emiten untuk meningkatkan komunikasi dan keterbukaan informasi kepada investor. Dengan semakin banyak informasi mengenai prospek dan rencana bisnis perusahaan, emiten diharapkan dapat menarik lebih banyak investor dan memperluas basis pemegang saham.

BEI juga memiliki Program Value Up untuk membantu meningkatkan visibilitas emiten di mata investor. Program tersebut ditujukan, antara lain, kepada perusahaan yang memiliki fundamental baik tetapi belum banyak mendapat perhatian pasar.

“Emiten-emiten yang bagus tapi tidak kelihatan oleh investor, itu yang kami fasilitasi,” kata Iding.

57 Emiten yang Masuk Daftar HSC

No.Kode EmitenPerusahaanTerkonsentrasi (%)
1AGIIPT Samator Indo Gas Tbk97,75%
2ALIIPT Ancara Logistics Indonesia Tbk97,62%
3BBHIPT Allo Bank Indonesia Tbk92,71%
4BBSIPT Krom Bank Indonesia Tbk99,95%
5BELIPT Global Digital Niaga Tbk93,83%
6BINAPT Bank Ina Perdana Tbk94,79%
7BNIIPT Bank Maybank Indonesia Tbk99,14%
8BNLIPT Bank Permata Tbk99,92%
9BRENPT Barito Renewables Energy Tbk97,31%
10BTPNPT Bank SMBC Indonesia Tbk99,78%
11BYANPT Bayan Resources Tbk98,50%
12CMNPPT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk96,64%
13CMNTPT Cemindo Gemilang Tbk99,41%
14DCIIPT DCI Indonesia Tbk99,96%
15DGWGPT Delta Giri Wacana Tbk97,35%
16DNETPT Indoritel Makmur Internasional Tbk98,06%
17DSSAPT Dian Swastatika Sentosa Tbk95,76%
18ELPIPT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk98,90%
19FAPAPT FAP Agri Tbk99,77%
20FILMPT MD Entertainment Tbk92,98%
21FITTPT Hotel Fitra International Tbk95,00%
22GEMSPT Golden Energy Mines Tbk99,24%
23HATMPT Habco Trans Maritima Tbk96,09%
24IFSHPT Ifishdeco Tbk99,77%
25KINGPT Hoffmen Cleanindo Tbk98,40%
26KONIPT Perdana Bangun Pusaka Tbk95,08%
27LIFEPT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk99,21%
28MCOLPT Prima Andalan Mandiri Tbk98,62%
29MEGAPT Bank Mega Tbk95,68%
30MGLVPT Panca Anugrah Wisesa Tbk95,94%
31MGROPT Mahkota Group Tbk93,76%
32MKPIPT Metropolitan Kentjana Tbk97,02%
33MLPTPT Multipolar Technology Tbk99,42%
34MORAPT Ekamas Mora Republik Tbk95,65%
35MPROPT Maha Properti Indonesia Tbk99,99%
36PGUNPT Pradiksi Gunatama Tbk99,95%
37POLUPT Golden Flower Tbk99,94%
38PRAYPT Famon Awal Bros Sedaya Tbk99,84%
39RISEPT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk98,03%
40RLCOPT Abadi Lestari Indonesia Tbk95,35%
41ROCKPT Rockfields Properti Indonesia99,85%
42SATUPT Kota Satu Properti Tbk94,27%
43SILOPT Siloam International Hospitals Tbk96,70%
44SMARPT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk99,58%
45SOHOPT Soho Global Health Tbk99,93%
46SOTSPT Satria Mega Kencana Tbk98,35%
47SRAJPT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk97,21%
48STTPPT Siantar Top Tbk94,95%
49TCPIPT Transcoal Pacific Tbk94,10%
50WBSAPT BSA Logistics Indonesia Tbk95,82%
51YUPIPT Yupi Indo Jelly Gum Tbk99,91%
52AGARPT Asia Sejahtera Mina Tbk 99,32%
53ALKAPT Alakasa Industrindo Tbk98,21%
54BKDPPT Bukit Darmo Property Tbk95,45%
55MDIAPT Intermedia Capital Tbk94,31%
56BDKRPT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk94,95% 
57SAFEPT Steady Safe  Tbk 98,14% 

Sumber: BEI.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri