59 Saham Masuk HSC, Intip Cengkeraman Konglomerasi Sinar Mas hingga Barito

ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/hm
Pengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026).
27/9/2026, 16.40 WIB

Sejak membuka babak baru reformasi pasar modal Indonesia, struktur kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan High Shareholder Concentration (HSC) kini menembus 59 emiten hingga akhir September 2026.

Alih-alih memperluas porsi kepemilikan publik atau free float, sejumlah emiten justru mencatatkan konsentrasi kepemilikan saham yang didominasi kelompok tertentu. Porsi kepemilikan terbesar bahkan menembus lebih dari 90% hingga mendekati 99,99%.

Terbaru, pada 22 September 2026, bursa memasukkan PT Charnic Capital Tbk (NICK) dengan tingkat konsentrasi kepemilikan mencapai 99,28%.

Grup Sinar Mas menjadi salah satu kelompok usaha dengan tingkat HSC yang tergolong sangat tinggi di berbagai sektor bisnis utama. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) mencatatkan HSC sebesar 99,58%, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 95,76%, dan melalui entitas infrastruktur telekomunikasinya, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), mencatatkan HSC sebesar 95,65%.

Kemudian, konglomerat Grup Barito Prajogo Pangestu melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan tingkat HSC mencapai 97,31%.

Lalu, Grup Djarum melalui PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli mencatatkan konsentrasi kepemilikan sebesar 93,83%. Sementara itu, Grup Salim melalui PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) tercatat sebesar 98,06%.

Grup CT Corp yang menguasai bank digital PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mencatatkan HSC sebesar 92,71%, sedangkan PT Bank Mega Tbk (MEGA) sebesar 95,68%.

Berikut 59 saham HSC per 27 September 2026:

No.Nama PerusahaanKepemilikan dengan Konsentrasi Tertinggi (HSC)
1PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)99,99%
2PT DCI Indonesia Tbk (DCII)99,96%
3PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)99,95%
4PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)99,95%
5PT Golden Flower Tbk (POLU)99,94%
6PT Soho Global Health Tbk (SOHO)99,93%
7PT Bank Permata Tbk (BNLI)99,92%
8PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)99,91%
9PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR)99,32%
10PT Charnic Capital Tbk (NICK)99,28%
11PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)99,85%
12PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)99,84%
13PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)99,78%
14PT FAP Agri Tbk (FAPA)99,77%
15PT Ifishdeco Tbk (IFSH)99,77%
16PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)99,58%
17PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)99,42%
18PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)99,41%
19PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)99,24%
20PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)99,21%
21PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)99,14%
22PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)98,90%
23PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)98,62%
24PT Bayan Resources Tbk (BYAN)98,50%
25PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)98,40%
26PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)98,35%
27PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA)98,21%
28PT Steady Safe Tbk (SAFE)98,14%
29PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)98,06%
30PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)98,03%
31PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)97,75%
32PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)97,62%
33PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)97,35%
34PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)97,31%
35PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)97,21%
36PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)97,02%
37PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)96,70%
38PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)96,64%
39PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)96,09%
40PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV)95,94%
41PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)95,82%
42PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)95,76%
43PT Bank Mega Tbk (MEGA)95,68%
44PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)95,65%
45PT Bukit Darmo Tbk (BKDP)95,45%
46PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)95,35%
47PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)95,08%
48PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)95,00%
49PT Siantar Top Tbk (STTP)94,95%
50PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk (BDKR)94,95%
51PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)94,79%
52PT Intermedia Capital Tbk (MDIA)94,31%
53PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)94,27%
54PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)94,10%
55PT Saranacentral Tbk (BAJA)93,89%
56PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)93,83%
57PT Mahkota Group Tbk (MGRO)93,76%
58PT MD Entertainment Tbk (FILM)92,98%
59PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)92,71%

Sumber: Bursa Efek Indonesia, dihimpun Katadata

Sebelumnya, otoritas BEI merevisi metodologi saham HSC dengan menambahkan kriteria baru, yakni price impact ratio untuk saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Jeffrey mengatakan bursa akan melakukan penyaringan terhadap saham-saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi saham HSC.

Jeffrey menyebut price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yaitu rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi suatu saham, semakin rendah pula velocity-nya.

“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).

Selain itu, Jeffrey mengatakan evaluasi berdasarkan price impact ratio akan diterapkan secara berkala setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Peninjauan tersebut akan mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila