Menakar Kans Right Issue Grup Bakrie VKTR yang Dipangkas Jadi 15 Miliar Saham
Emiten kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) milik Grup Bakrie yaitu PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyiapkan penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau right issue dengan nilai maksimal sekitar Rp 3 triliun.
Aksi korporasi tersebut sebenarnya telah disiapkan VKTR sejak Juni 2026. Saat itu, perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 25 miliar saham baru melalui right issue. Namun, dalam prospektus terbaru yang terbit dua hari lalu, jumlah saham yang akan diterbitkan dipangkas menjadi maksimal 15 miliar saham.
VKTR menawarkan saham baru tersebut dengan harga pelaksanaan Rp 200 per saham. Sehingga perseroan berpotensi memperoleh dana maksimal Rp 3 triliun dari aksi korporasi tersebut.
Jumlah saham baru yang diterbitkan setara dengan 25,53% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah pelaksanaan right issue. Pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 25,53%.
Investor Relations VKTR Putu Wahyu Suryawan mengatakan pengurangan jumlah saham yang diterbitkan dari rencana awal menjadi 15 miliar saham telah mempertimbangkan dinamika pasar, kebutuhan pendanaan perseroan, struktur pemegang saham hingga potensi permintaan investor.
Dia menegaskan keputusan right issue sejatinya berada di tangan pemegang saham, bukan muluk-muluk dari manajemen perseroan. Menurut Putu, rencana right issue tersebut telah disiapkan sejak jauh-jauh hari dengan menggunakan laporan keuangan kuartal pertama 2026 sebagai dasar pengajuan.
“Memang rencana ini sudah dari jauh-jauh hari. Tapi kami pasti mengamati bagaimana perkembangan pasar, bagaimana kebutuhan dana dari VKTR itu sendiri, bagaimana struktur pemegang saham. Ada banyak pertimbangan,” kata Putu dalam siaran langsung Emiten Talk: VKTR Transforming Mobility, Unlocking Growth di Instagram @mncsekuritas, dikutip Kamis (1/10).
Dia mengatakan keputusan untuk menerbitkan maksimal 15 miliar saham baru merupakan hasil kesepakatan pemegang saham setelah perseroan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk potensi permintaan terhadap saham yang diterbitkan.
Dana hasil right issue akan digunakan VKTR untuk mengembangkan bisnis kendaraan listrik serta memperkuat anak usaha.
Aksi tersebut sekaligus menjadikan VKTR sebagai emiten keempat dari Grup Bakrie yang melakukan right issue pada 2026. Frekuensi aksi penambahan modal tersebut dapat menjadi perhatian investor, terutama terkait potensi dilusi dan efektivitas penggunaan dana.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan investor perlu menilai aksi right issue berdasarkan fundamental dan tujuan penggunaan dananya, bukan semata-mata berdasarkan seberapa sering sebuah emiten melakukan aksi tersebut.
Menurut Nafan, right issue tidak otomatis menjadi sinyal negatif karena dapat digunakan perusahaan untuk memperkuat struktur permodalan, membiayai ekspansi, memenuhi kebutuhan modal kerja maupun memperbaiki struktur utang. Namun, frekuensi right issue perlu dicermati apabila penghimpunan dana baru tidak diikuti pertumbuhan pendapatan, laba, dan arus kas yang sepadan.
“Artinya, aksi right issue tidak selalu negatif apabila dana yang dihimpun dapat meningkatkan kapasitas usaha dan menghasilkan pertumbuhan laba serta arus kas ke depan,” kata Nafan kepada Katadata, Rabu (30/9).
Sebaliknya, apabila right issue dilakukan berulang kali tanpa diikuti peningkatan fundamental yang memadai, investor perlu mencermati risiko dilusi serta efektivitas alokasi modal.
Menurut dia, investor perlu memperhatikan sejumlah faktor, antara lain besarnya dilusi, harga pelaksanaan, tujuan penggunaan dana, pihak yang menjadi pembeli siaga serta rekam jejak manajemen dalam mengelola dana dari aksi korporasi sebelumnya.
VKTR sendiri akan menggunakan dana hasil right issue untuk memperbesar bisnis kendaraan listrik. Putu mengatakan perseroan melihat ruang pertumbuhan yang masih luas, terutama pada segmen kendaraan listrik komersial.
Dia mengatakan tingkat penetrasi kendaraan listrik di Indonesia saat ini masih sekitar 0,2% dan sebagian besar berasal dari segmen kendaraan penumpang. Sementara itu, penetrasi kendaraan listrik komersial masih terbuka lebar.
“Dari 0,2% menjadi 1% saja, room to grow buat VKTR sudah cukup tinggi,” ujarnya.
Menurut Putu, peluang tersebut tidak hanya berasal dari transportasi publik, tetapi juga kendaraan untuk sektor pertambangan dan perkebunan.
VKTR memilih masuk melalui segmen bus sebelum memperluas penetrasi ke kendaraan komersial lainnya. Salah satunya melalui pengadaan bus untuk Transjakarta.
Putu mengatakan strategi tersebut ditempuh untuk membangun brand awareness sekaligus menunjukkan kualitas teknologi VKTR kepada calon pelanggan.
“Kalau misalnya kami jual pertama kali ke Transjakarta, yang mana kami sudah beroperasional sebanyak 50 bulan dan sampai saat ini tidak ada major factory breakdown, maka ketika teknologi baru ini ditanyakan terkait kualitas, kami bisa menunjukkan bagaimana kualitas VKTR,” ujarnya.
Namun dia mengatakan margin bisnis bus masih berada pada level single digit. Menurut Putu, margin yang lebih besar justru berasal dari segmen truk listrik yang dapat mencapai double digit. Untuk itu VKTR mulai gencar ekspansi untuk truk listrik.
Dia mengatakan biaya baterai dan sasis juga menjadi komponen besar dalam struktur biaya produksi kendaraan listrik VKTR. Keduanya secara keseluruhan menyumbang hampir separuh dari biaya produksi.
Meski margin bus relatif lebih rendah, segmen tersebut menjadi pintu masuk VKTR untuk membangun reputasi produk. Setelah itu, perseroan mulai mengembangkan pasar di luar Transjakarta, termasuk melalui pelanggan swasta.
Pada 2025, sekitar 90% pengiriman bus VKTR masih ditujukan untuk Transjakarta. Sementara pada 2026, kontribusi pengiriman ke Transjakarta turun menjadi sekitar 50% karena perseroan mulai memperoleh permintaan dari sejumlah klien swasta.
Putu mengatakan perubahan komposisi tersebut menunjukkan mulai terbentuknya pasar kendaraan listrik komersial di luar transportasi publik.
Dengan ekspansi tersebut, VKTR menargetkan peningkatan penetrasi kendaraan listrik komersial secara bertahap. Perseroan tidak menargetkan penetrasi hingga 10% atau 30% dalam waktu dekat, melainkan melihat kenaikan dari level saat ini sebagai ruang pertumbuhan yang sudah cukup besar.