Di Balik Aksi BTN (BBTN) Gelontorkan Rp 3 Triliun ke BUMN Pangan ID FOOD

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi Bank Tabungan Negara (Bank BTN).
1/10/2026, 17.09 WIB

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN menggelontorkan pembiayaan hingga Rp 3 triliun ke BUMN Holding Pangan ID FOOD. Langkah itu bertujuan untuk memperkuat ekosistem pangan. 

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan, alasan penyaluran dana ke perusahaan pelat merah itu karena ID FOOD memiliki posisi strategis sebagai Holding BUMN Pangan. 

“Perannya tidak hanya mencakup produksi, tetapi juga sebagai offtaker hasil pertanian, peternakan, dan perikanan. Termasuk mendukung proses pengolahan, perdagangan, hingga distribusi pangan,” ungkap Nixon dalam keterangannya, Kamis (1/10). 

Nixon menuturkan, peran tersebut tersebut semakin penting lantaran sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi hingga 13,10% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Sektor-sektor itu menjadi beberapa penyangga dalam struktur perekonomian nasional.

Tak hanya itu, Nixon menyebut pangan juga berkaitan dengan daya beli dan stabilitas harga masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada Agustus 2026 inflasi nasional tercatat 0,21% secara month-to-month (mtm). Sementara itu, komponen volatile food mengalami inflasi 0,88% mtm.

Angka tersebut menunjukkan tekanan harga pangan jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi umum. Kondisi itu sekaligus menggambarkan besarnya pengaruh pangan terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas harga. "Food security is economic security," ujar Nixon.

Ia mengatakan, ketersediaan, keterjangkauan, dan kelancaran distribusi pangan tak hanya terkait sektor pangan. Ketiganya juga berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.

Nixon memastikan BTN ingin ikut memperkuat ekosistem strategis tersebut agar semakin efficient, connected, dan scalable. Menurut Nixon, kerja sama dengan ID FOOD tidak lagi hanya diarahkan pada penyediaan kredit.

Lebih jauh, peran BTN mencakup layanan collection, payment, liquidity management, hingga trade transaction. Layanan tersebut juga mencakup kebutuhan finansial pegawai dan mitra ID FOOD.

Salah satu potensi yang tengah dilirik yaitu pengembangan Warung Pangan. BTN menyebut siap mendukung ekosistem tersebut, mulai dari layanan payment dan collection, transaksi supplier, hingga kebutuhan finansial mitra Warung Pangan. Termasuk di dalamnya potensi pembiayaan bagi pelaku usaha yang berada dalam ekosistem tersebut.

"BTN ingin terhubung dalam seluruh transaction flow ID FOOD. Dari supplier, distributor atau mitra, Warung Pangan, hingga konsumen," ungkapnya

Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo mengatakan, perluasan kerja sama dengan BTN untuk mendukung kebutuhan bisnis dan transaksi di lingkungan ID FOOD Group. Melalui kerja sama terbaru tersebut, BTN menyiapkan total plafon pembiayaan hingga Rp 3 triliun.

Fasilitas itu akan dimanfaatkan untuk mendukung berbagai aktivitas bisnis pangan ID FOOD Group, termasuk kebutuhan modal kerja dan pembiayaan pelaksanaan offtake komoditas pangan strategis.

Kerja sama ID FOOD dan BTN sebenarnya telah dimulai sejak 2024. Saat itu, BTN menyediakan fasilitas pembiayaan untuk mendukung Program Bantuan Pangan Stunting yang dijalankan perseroan atas penugasan Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Kemudian pada 2025, pembiayaan BTN turut digunakan untuk pengadaan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dan berbagai aktivitas bisnis pangan, mulai dari beras, gula, garam, benih padi, hingga susu.

Sejak kerja sama dimulai pada 2024, total fasilitas pembiayaan BTN yang telah terutilisasi dalam berbagai aktivitas ID FOOD Group mencapai sekitar Rp 5 triliun. Ghimoyo menyebut capaian tersebut menjadi fondasi untuk memperluas kolaborasi. 

“Tidak hanya untuk Perseroan dan anak perusahaan, tetapi juga supplier, vendor, distributor, buyer, kontraktor, mitra usaha, hingga karyawan dalam ekosistem ID FOOD Group,” ucap Ghimoyo.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila