Saham GOTO Bangkit dari ARB Rp 28, Efek Realisasi Buyback Rp 3,5 Triliun?
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mulai bangkit setelah harganya mengalami auto rejection bawah (ARB) empat hari beruntun hingga menyentuh Rp 28 pada awal bulan ini.
Pada perdagangan Jumat (2/10) lalu, saham GOTO rebound dan untuk pertama kalinya tak lagi menyentuh batas ARB sejak “gembok gocap” resmi dibuka Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 28 September 2026. Saham GOTO melonjak 7,14% ke level Rp 30 dengan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 34,22 triliun.
Pergerakan GOTO akhir pekan lalu itu berlangsung di tengah realisasi program pembelian kembali saham atau buyback senilai triliunan rupiah oleh perusahaan. Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, manajemen GOTO menyebut pemegang saham telah memberikan persetujuan terhadap program buyback saham periode 2026–2027 dengan nilai maksimal mencapai Rp 3,5 triliun.
Aksi buyback dapat dilakukan selama 12 bulan, mulai 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027. Dengan periode yang masih panjang, GOTO dapat melakukan pembelian kembali saham dengan mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan modal kerja, dan posisi keuangan perusahaan. Apalagi GOTO sempat menyebut buyback memberikan fleksibilitas dalam mengelola permodalan, termasuk mengoptimalkan struktur modal.
“Implementasi dari buyback saham oleh perseroan akan bergantung pada keputusan manajemen, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi pasar global dan nasional terkini beserta segala dinamika yang terjadi pada saat ini,” tulis manajemen GOTO pada keterbukaan informasi BEI, Kamis (1/10).
Manajemen GOTO menyebut pertimbangan itu mencakup potensi dampak perubahan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait dengan kegiatan usaha perseroan, kepentingan GOTO, hingga upaya memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemegang saham.
Equity Research Analyst MNC Sekuritas, Christian Immanuel Sitorus, menyoroti hilangnya antrean jual ARB, tingginya volume transaksi, dan masih ada amunisi buyback membuat saham GOTO mulai menarik untuk dicermati.
Menurut Christian, koreksi GOTO dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dan penyesuaian mekanisme perdagangan, bukan perubahan fundamental bisnis perusahaan. “Kalau melihat level harganya sekarang, terlihat GOTO sudah memasuki area bottoming,” ungkap Christian dalam analisisnya, dikutip Senin (5/10).
Dia juga menyebut tekanan jual yang sebelumnya sangat besar mulai terserap dan antrean ARB juga telah lepas. Kondisi itu menunjukkan pasar mulai menemukan keseimbangan harga baru usai saham GOTO babak belur.
Menurut Christian, gap antara harga saham dan fundamental GOTO saat ini juga sudah terlalu lebar. Pada level harga saat ini, saham GOTO dinilai sudah sangat terdiskon. Apabila melihat bisnis dan fundamental perseroan, nilai GOTO masih berpotensi berada di atas Rp 50 per saham.
“Jadi ketika tekanan jual mulai mereda, ruang untuk rebound menjadi semakin terbuka,” ucap Christian.
Di sisi lain, jika menilik kinerja keuangannya, GOTO telah membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut pada 2026. Masing-masing sebesar Rp 171 miliar pada kuartal pertama dan Rp 252 miliar pada kuartal kedua 2026.
Pertumbuhan bisnis juga masih berlanjut. Pada kuartal kedua 2026, pendapatan bersih GOTO tumbuh sekitar 31% secara tahunan menjadi Rp 5,7 triliun. Sementara itu, EBITDA Grup yang disesuaikan untuk pertama kalinya menembus Rp 1 triliun.
GoTo juga mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan untuk sepanjang 2026 di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.
Penafian:
Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.