Respons Pengumuman MSCI, Wamenko Perekonomian Sebut MSCI Tidak Selalu Benar
Lembaga pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertimbangkan untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) ke pasar mandiri (standalone market). Rencana ini memicu anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga sempat mengalami penghentian sementara alias trading halt pada Jumat (16/10).
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan meski MSCI memiliki reputasi tinggi, namun lembaga tersebut dinilainya tidak selalu benar.
"MSCI itu punya reputasi tinggi, ini memang iya. Bahwa kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, iya. Tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka tidak selalu benar,” kata Dradjad, kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10).
Dradjad meminta para investor agar memiliki perhitungan tersendiri dan tidak hanya berpedoman pada MSCI.
Dradjad lalu menunjukkan dokumen analisis yang dilakukan oleh Deutsche Börse, asal Jerman.
“Di dalam salah satu artikelnya, mereka bisa menunjukkan bahwa ketika DAX, bursa Jerman, itu naik tinggi, MSCI World, yang betul-betul dianggap dunianya MSCI, ya saham-saham yang direkomendasikan MSCI, malah negatif. Artinya apa? Artinya tidak semua yang dilakukan oleh MSCI itu menguntungkan bagi investor,” katanya.
Ia lalu menuturkan, investor Jerman melalukan perhitungan sendiri sehingga dapat melihat potensi yang ada di bursa Jerman. Ia menyebut kejadian itu terjadi pada 2025.
Ia juga menyebut terdapat berbagai simulasi yang menunjukkan return yang diperoleh dari MSCI kalah dibandingkan dengan yang diperoleh dari lembaga lain.
“Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika, kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi bobot Amerika terlalu besar di situ,” katanya.
Berkaca dari hal itu, ia menyebut para investor perlu melakukan perhitungan sendiri. Meski begitu, ia mengakui bahwa perlunya ada reformasi di pasar modal dalam negeri merespons laporan MSCI tersebut.
“Kalau gampang panik akan rugi. Tapi kalau kita enggak gampang panik, itu akan bisa lebih aman. Di paper yang saya tunjukkan tadi, itu ada satu analisis, tapi analisis hipotetikal. Investor yang kira-kira gampang panik, naik turunnya gede sekali. Ada investor yang lebih steady. Nah, itu ditunjukkan di analisis itu,” kata Dradjad.
Indonesia Terancam Diturunkan Jadi Standalone Market
MSCI tengah mempertimbangkan menurunkan status pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) ke pasar mandiri (standalone market) imbas kekhawatiran yang terus berlanjut terkait kelayakan investasi (investability) dan tata kelola pasar saham di Indonesia.
Merujuk laporan Reuters, MSCI telah membuka konsultasi mengenai usulan penurunan status ini setelah sebelumnya mengeluarkan peringatan pada bulan Juni bahwa Indonesia dapat menghadapi reklasifikasi jika masalah aksesibilitas pasar terus berlanjut.
MSCI menyampaikan, para investor telah menyuarakan kekhawatiran mengenai struktur kepemilikan yang tidak transparan, konsentrasi kepemilikan saham, serta dugaan perdagangan terkoordinasi hal-hal yang dinilai mengikis kelayakan investasi di pasar tersebut.
“Oleh karena itu, MSCI menganggap klasifikasi berkelanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi sesuai dan membuka konsultasi mengenai usulan untuk mereklasifikasi Indonesia sebagai Standalone Market,” kata MSCI dikutip dari Reuters, Jumat (16/10).
Konsultasi atas usulan reklasifikasi akan berlangsung hingga 30 April 2027. Adapun keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.