Aset Danantara Investment Parkir Rp 123 T di Deposito, Terbesar di Bank Mandiri
Entitas bisnis Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia yaitu PT Danantara Investment Management (DIM) menempatkan mayoritas asetnya dalam bentuk kas dan setara kas yang didominasi deposito berjangka.
Laporan tersebut diperoleh dari prospektus penerbitan Global Medium Term Note DIM di Bursa Efek Singapura (SGX) yang dikutip Selasa (3/11). Berdasarkan data tersebut, nilai kas dan setara kas DIM tercatat sebesar Rp 123,03 triliun atau US$ 7,08 miliar. Angka ini mencakup 87,8% dari total aset DIM yang bernilai Rp 140,02 triliun atau US$ 8,05 miliar.
Posisi instrumen likuid itu turun dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp 131,61 triliun, seiring bertahapnya penempatan dana ke alokasi investasi.
Penempatan dana pada deposito berjangka menjadi penopang utama kinerja keuangan DIM. Selama empat bulan pertama tahun 2026, DIM membukukan pendapatan bunga deposito sebesar Rp 2,12 triliun (US$ 122,25 juta). Setelah dikurangi beban pajak final atas bunga sebesar Rp 424,91 miliar sehingga total pendapatan kotor mencapai Rp 1,09 triliun.
Kinerja pendapatan bunga dari deposito ini mendorong laba bersih DIM naik menjadi Rp 705,73 milia pada periode yang berakhir 30 April 2026. Hasil ini meningkat dibandingkan laba bersih sepanjang tahun buku 2025 yang tercatat sebesar Rp 116,33 miliar.
Selain itu, penempatan deposito berjangka dalam mata uang Dolar AS juga menghasilkan keuntungan selisih kurs (gain on foreign exchange) sebesar Rp 306,03 miliar.
Adapun DIM menerima injeksi modal sebesar Rp 70 triliun dari Danantara Indonesia sebagai pemegang saham tunggal pada tahun 2025. Selain modal disetor, DIM menghimpun dana melalui penerbitan obligasi swasta (Patriot Bonds) secara bertahap hingga mencapai Rp 68,38 triliun per Maret 2026.
“Kami menerapkan pengelolaan keuangan yang prudent dan disiplin untuk menjaga indikator keuangan serta peringkat kredit tetap berada dalam batas ambang internal yang telah ditetapkan,” seperti yang tertulis dalam dokumen tersebut dikutip Selasa (3/11).
Meskipun porsi kas di deposito masih mendominasi, laporan keuangan menunjukkan DIM telah mulai mengalirkan dananya ke instrumen investasi lainnya. Nilai aset investasi DIM meningkat dari Rp 30,01 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp 16,63 triliun per 30 April 2026, yang dialokasikan pada investasi surat berharga (marketable securities) serta entitas anak atau subholding.
Sebagian besar kas tersebut ditempatkan DIM pada deposito bank Himbara. Secara rinci, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 56,56 triliun dan deposito berjangka rupiah. Di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing senilai Rp 36 triliun.
Deposito lainnya tersimpan di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) senilai Rp 17,1 triliun dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp 6 triliun. Selain berjangka rupiah, BIM juga menempatkan deposito dolar AS di BMRI dan BBNI senilai Rp 5 triliun.