IHSG Anjlok 16,7% Oktober, OJK Akui Imbas Pengumuman MSCI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 16,7% sepanjang Oktober 2026 ke level 5.057. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui koreksi tersebut terjadi imbas pengumuman MSCI.
Pengumuman tersebut membuka konsultasi terkait rencana reklasifikasi pasar saham Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market). OJK menilai koreksi tersebut merupakan konsekuensi dari berbagai langkah untuk memperbaiki integritas pasar modal Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pasar modal Indonesia sebenarnya sempat menunjukkan pemulihan secara bertahap pada kuartal III 2026 di tengah ketidakpastian global.
IHSG menguat 7,58% secara kuartalan atau quarter on quarter (qoq) seiring kembali masuknya dana asing ke pasar saham domestik, terutama pada Juli dan Agustus.
“Pada Oktober 2026 IHSG terkoreksi pasca pengumuman konsultasi MSCI. Per 30 Oktober 2026, IHSG ditutup pada level 5.057 atau terkoreksi 16,7% secara bulanan (month to date),” kata Friderica yang akrab disapa Kiki tersebut dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Gedung Bank Indonesia, Selasa (3/11).
Kendati demikian, Kiki menyebut sejumlah indikator pasar modal domestik masih menunjukkan perkembangan positif di tengah gejolak pasar. Minat korporasi untuk menghimpun dana melalui pasar modal juga tetap tinggi.
Hingga 28 Oktober 2026, nilai penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp 202,04 triliun. Jumlah tersebut didominasi penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) senilai Rp 150,43 triliun.
Selain itu, basis investor juga terus bertumbuh. Jumlah single investor identification (SID) tercatat mencapai 33,36 juta per 26 Oktober 2026, meningkat 63,94% secara tahun berjalan atau year to date (ytd).
Sementara itu, OJK mengatakan industri pengelolaan investasi relatif stabil. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp 640,05 triliun per 27 Oktober 2026 atau tumbuh 0,46% secara bulanan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh arus dana masuk bersih sebesar Rp 14,11 triliun sepanjang Oktober.
Sementara itu tekanan di pasar saham masih berlanjut hingga perdagangan Selasa (3/11). IHSG ditutup rontok 3,78% ke level 4.904.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan, menjadi penekan utama indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,81% ke level Rp 4.840. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merosot 5,67% ke level Rp 2.660, sedangkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 2,97% ke level Rp 3.590.
Tekanan juga datang dari saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang turun 4,53% ke level Rp 2.320.
Menanggapi pelemahan IHSG, Kiki mengatakan perkembangan pasar modal Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar global. Menurut dia, kondisi geopolitik, inflasi, serta ekspektasi terhadap suku bunga turut memengaruhi pergerakan indeks.
Ia menilai koreksi IHSG saat ini juga perlu dilihat dalam konteks reformasi struktural yang tengah berlangsung di pasar modal Indonesia. Kiki mengibaratkan proses tersebut sebagai upaya detoksifikasi untuk mengeluarkan berbagai praktik yang dinilai tidak sehat dari pasar modal.
“Tentunya kita harus melihat juga fundamentalnya. Fundamental kalau kita lihat kinerja emiten kuartal II tadi sudah saya sebutkan, kinerjanya sangat baik,” ujar Kiki.